Genosida Muslim di Sudan: Di Mana Perisai Kaum Muslimin?

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Belum kering air mata kita, belum hilang kesedihan atas genosida saudara Muslim di Gaza, kini kembali terjadi tragedi pilu yang menimpa saudara seiman kita di belahan bumi lain, yakni di Sudan.

 

Perang saudara antara Pasukan Dukungan Cepat (RSF – Rapid Support Force) dan militer resmi pemerintah Sudan sejak April 2023 telah menelan korban tewas tidak kurang dari 150.000 orang, memaksa 14 juta orang mengungsi, dan membuat 24 juta orang lainnya menderita kelaparan. (Kompas, 05/11/2025)

 

Tragedi El Fasher, Rabu (29/10/2025), yakni pembantaian massal dengan penyiksaan dan eksekusi mati oleh RSF, menjadi puncak kejahatan perang yang terjadi. Selama 18 bulan wilayah tersebut dikepung dan berbagai kejahatan perang dilakukan oleh RSF: membunuh ratusan warga sipil dan pejuang tak bersenjata, pemerkosaan, serta menutup akses makanan, air, dan bantuan medis. (detiknews, 04/11/2024)

 

Ini merupakan tragedi mengerikan yang terkategori sebagai kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan, bahkan telah mencapai level genosida.

 

Perang saudara di Sudan tidak semata-mata perang antar-etnis atau perebutan kekuasaan antara militer Sudan dan RSF. Ada campur tangan asing, yakni Barat (AS dan Inggris), yang berupaya mengadu domba rakyat Sudan demi mengukuhkan hegemoni mereka sembari menguras kekayaan alam negeri itu.

 

Faktanya, Sudan adalah negeri dengan mayoritas penduduk Muslim, dan di masa lalu merupakan bagian dari Kekhilafahan Islam. Di era kapitalisme sekarang, nasibnya tak jauh berbeda dengan negeri-negeri Muslim lain yang tertindas—seperti saudara kita di Gaza, Palestina, yang hingga kini masih menghadapi ancaman genosida, atau Muslim Rohingya di Myanmar yang ditindas dan tak diakui kewarganegaraannya. Begitu pula Muslim minoritas di berbagai belahan dunia yang terus mendapat perlakuan tidak adil. Maka, bagaimana kita sebagai sesama Muslim dapat mengubah keadaan ini?

 

Kaum Muslim ibarat satu tubuh; jika satu bagian sakit, bagian lain pun turut merasakan. Karena itu, tragedi yang menimpa saudara-saudara kita tidak boleh diabaikan begitu saja. Harus ada upaya nyata untuk menunjukkan di mana kita berpihak.

 

Pertama-tama, kita harus menyadari bahwa saat ini umat Islam sudah sangat jauh dari pemahaman Islam yang benar dan menyeluruh. Islam hanya dipandang sebatas agama ritual—puasa, zakat, haji, dan lainnya—bukan sebagai pedoman hidup (ideologi). Padahal, Islam dengan kesempurnaan ajarannya mampu menyelesaikan seluruh problem kehidupan dan menjadi penuntun menuju keselamatan di jalan yang lurus sesuai aturan-Nya.

 

Islam adalah agama yang paripurna. Ia mengatur seluruh urusan manusia: dari bangun tidur di pagi hari hingga kembali tidur di malam hari. Islam menuntun bagaimana manusia berinteraksi dengan Allah, dengan sesama, dan dengan diri sendiri. Islam juga mengatur urusan ekonomi, sosial, budaya, hingga politik. Islam adalah way of life—cara hidup, cara pandang, dan standar kehidupan bagi umatnya.

 

Ketika kesadaran ini tumbuh, kaum Muslim tidak akan lagi menjadi buih di lautan—banyak jumlahnya, tetapi lemah dan mudah dipermainkan. Dengan pemahaman Islam yang benar dan mengakar, umat akan siap berjuang melawan kerusakan untuk mewujudkan kembali peradaban Islam yang gemilang. Tak akan ada lagi tragedi memilukan di mana Muslim selalu menjadi korban terbesar.

 

Selanjutnya, ketika pemikiran Islam telah benar, umat akan sadar bahwa hegemoni sistem sekuler kapitalisme yang kini menguasai dunia adalah sumber kerusakan. Di bawah sistem ini, pembunuhan, pembantaian, dan genosida—terutama terhadap kaum Muslim—marak terjadi. Seolah nyawa manusia tak bernilai.

 

Rasulullah ﷺ bersabda, “Hilangnya (lenyapnya) dunia seluruhnya lebih ringan bagi Allah daripada terbunuhnya seorang Muslim tanpa hak.” (HR. at-Tirmidzi no. 1395, an-Nasa’i no. 3987, dan Ibnu Majah no. 2619)

 

Semua ini terjadi karena kaum Muslim telah jauh dari agamanya. Mereka meninggalkan aturan Allah dan justru menerapkan aturan buatan manusia. Umat telah kehilangan pelindungnya—pemimpin kaum Muslim—yang seharusnya menjadi perisai dan pelindung ketika umat berada dalam ancaman.

 

Hanya dengan satu kepemimpinan kaum Muslim yang menerapkan hukum Allah secara menyeluruh, darah, harta, dan kehormatan umat akan terjaga. Maka, akan terwujud kehidupan baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur—negeri yang baik dengan Tuhan Yang Maha Pengampun. Islam pun akan benar-benar menjadi rahmatan lil-‘alamin (rahmat bagi seluruh alam).

 

Untuk mewujudkan semua itu, persatuan umat Islam di seluruh dunia menjadi sangat mendesak. Umat harus sadar bahwa keterpurukan yang menimpa mereka terutama disebabkan oleh perpecahan menjadi negara-negara kecil yang lemah. Musuh-musuh Islam mudah mengadu domba dan menghancurkan kita.

 

Kini, saatnya kaum Muslim bersatu di bawah satu kepemimpinan tunggal—yang akan menjadi perisai dan pelindung umat. Wallahualam bissawab.

 

Oleh: Tri,

Aktivis Muslimah

Loading

Views: 41

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA