Tinta Media – Presiden terpilih Prabowo Subianto mengunsgkapkan kesiapan Indonesia untuk mengevakuasi seribu warga Gaza. Agar evakuasi dapat direalisasikan, dua syarat telah ditetapkan. Pertama, dukungan penuh harus diberikan oleh negara-negara tetangga di Timur Tengah. Kedua, korban diwajibkan untuk dikembalikan setelah kondisi dianggap aman dan proses pengobatan dinilai telah cukup. Pernyataan Presiden ini telah menimbulkan pro dan kontra di dalam negeri. (republika.co.id, 12/04/2025).
Sebagian publik menyambut langkah ini sebagai bentuk empati dan kepedulian kemanusiaan. Namun, dari perspektif ideologis, Islam, dan geopolitik umat, pernyataan ini bukan hanya keliru, tetapi fatal. Langkah ini sejatinya akan memuluskan agenda penjajahan Zionis serta pengusiran permanen atas rakyat Palestina dari tanah mereka sendiri.
Evakuasi: Permainan Geopolitik Kapitalis Global
Evakuasi bukan solusi, melainkan pelarian dari realitas. Hal ini justru kontra-produktif terhadap seruan jihad yang hari ini kian menguat di tengah kesadaran umat manusia di seluruh pelosok dunia, bahwa tidak ada solusi hakiki kecuali konfrontasi militer terhadap penjajah. Seruan jihad adalah ekspresi tegas bahwa tanah Palestina bukan barang dagangan yang bisa dinegosiasikan, bukan pula ladang diplomasi bagi elite negara-negara boneka yang duduk nyaman di forum-forum internasional. Rakyat Gaza tak seharusnya dievakuasi karena seharusnya Zionislah yang diusir dari tanah yang mereka rampas secara brutal dan sistematis sejak tahun 1948.
Kita tidak bisa membaca fenomena ini secara parsial. Evakuasi ini pun tak lepas dari permainan geopolitik kapitalis global. Di balik narasi kemanusiaan, terselip agenda tekanan ekonomi. Amerika Serikat baru-baru ini menaikkan tarif impor Indonesia, dan keberhasilan Indonesia dalam bernegosiasi terkait kebijakan itu bisa dijadikan alat barter dengan cara menerima warga Gaza sebagai bentuk “kompensasi diplomatik”. Inilah buah simalakama negeri yang tak mandiri, negeri yang menjadi pesakitan di hadapan sistem kapitalisme global. Kedaulatan hanya ilusi dalam negara yang seluruh poros keputusannya ditentukan oleh tekanan asing.
Situasi ini menelanjangi kegagalan sistem demokrasi sekuler. Di tengah penderitaan umat Islam di Palestina, para pemimpin muslim justru bersikap pasif, bersembunyi di balik jargon nasionalisme dan dalih “tidak ikut campur urusan negara lain”. Padahal, Palestina adalah urusan kita. Darah mereka adalah darah kita. Bukankah Rasulullah saw. bersabda bahwa umat Islam itu seperti satu tubuh? Maka, mengapa tubuh ini diam saat salah satu bagiannya dilumat oleh peluru dan bom?
Sikap para pemimpin ini bukan hanya keliru, melainkan bentuk pengkhianatan. Mereka lebih takut pada sanksi ekonomi daripada kepada Allah. Mereka lebih setia pada Piagam PBB daripada perintah jihad. Mereka adalah produk sistem demokrasi sekuler yang sejak awal memang tak pernah berpihak pada Islam dan umatnya.
Kita harus katakan dengan tegas bahwa tidak ada solusi bagi Palestina selama sistem dunia masih dikendalikan oleh demokrasi liberal dan kapitalisme global. Dewan Keamanan PBB, Liga Arab, Organisasi Kerja Sama Islam hanya menjadi panggung sandiwara. Umat Islam harus segera keluar dari labirin harapan palsu ini.
Solusi: Jihad dan Khilafah
Solusi satu-satunya adalah jihad fi sabilillah. Jihad itu sendiri harus terorganisir secara politik dalam bingkai institusi Khilafah Islamiyah. Hanya Khilafah yang memiliki legitimasi syar’i dan kapasitas politik untuk mengerahkan pasukan ke Palestina. Hanya Khilafah yang akan menolak tekanan Barat dan menyambut seruan jihad sebagai kewajiban, bukan ancaman. Khilafah bukan sekadar impian, ia adalah kewajiban. Ia adalah janji Allah dan kabar gembira dari Rasul-Nya.
Maka, umat harus menolak langkah evakuasi ini secara tegas. Jangan biarkan narasi “kemanusiaan” dijadikan alat pembenaran untuk pengkhianatan! Dorong penguasa negeri-negeri muslim untuk mengirimkan pasukan, bukan pesawat evakuasi! Bangkitkan semangat jihad, bukan pelarian! Yang lebih penting, umat harus semakin menguatkan perjuangan menegakkan Khilafah. Hanya dengan jihad dan Khilafah, Palestina akan benar-benar bebas dari cengkeraman penjajah.
Gerakan umat ini harus dipimpin oleh partai Islam ideologis yang konsisten dan tidak terjebak dalam kompromi politik demokrasi. Hanya dengan kepemimpinan yang teguh pada akidah Islam, perjuangan ini bisa tetap lurus dan efektif menekan penguasa negeri-negeri muslim agar kembali kepada jati dirinya sebagai pembela umat, bukan antek Barat.
Sudah saatnya kita menyudahi ilusi demokrasi, menanggalkan topeng kemanusiaan palsu, dan kembali kepada jalan yang telah Allah tetapkan dengan jihad, kepemimpinan Islam, dan Khilafah. Inilah solusi hakiki dan hanya inilah jalan menuju kemenangan.
Oleh: Novi Ummu Mafa
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 14










