Nestapa Muslim Gaza di Tengah Idulfitri: Saatnya Umat Mewujudkan Spirit Perubahan Hakiki

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads
Nestapa Muslim Gaza di Tengah Idulfitri: Saatnya Umat Mewujudkan Spirit Perubahan Hakiki

Tinta Media – Lebih dari 2,4 juta warga Palestina di Jalur Gaza merayakan Hari Raya Idulfitri pada Jumat, 20 Maret 2026, di tengah krisis kemanusiaan yang parah. Kondisi ini diperburuk oleh pembatasan ketat Israel, kehancuran infrastruktur, serta kelangkaan pangan, air bersih, dan obat-obatan. Kantor media pemerintahan Gaza menyatakan bahwa hari raya tahun ini berlangsung tanpa sukacita karena sebagian besar keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.

Lembaga tersebut mencatat bahwa pasukan Israel telah melakukan lebih dari 2.000 pelanggaran terhadap kesepakatan senjata sejak Oktober 2025. Pengiriman bantuan kemanusiaan juga terhambat, dengan hanya sekitar 40% dari jumlah truk bantuan yang diharapkan dapat masuk ke Gaza. Sementara itu, akses keluar-masuk melalui penyeberangan Rafah masih dibatasi secara ketat, yang memperparah isolasi warga di wilayah tersebut.

Derita Gaza kian terlupakan ketika Amerika Serikat dan Zionis Yahudi fokus memerangi Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Dalam serangan tersebut, pemimpin spiritual Iran, Ayatollah Ali Khamenei, wafat dan keluarganya turut menjadi korban. Iran pun melakukan perlawanan dengan membombardir pangkalan militer AS di Timur Tengah. Mirisnya, reaksi para penguasa Muslim terhadap dua kondisi negeri Islam tersebut (Gaza–Palestina dan Iran) hanya diam, tidak melakukan aksi yang berarti sebagai bentuk kepedulian mereka terhadap sesama Muslim. Bukannya menolong, mereka justru hanya menonton atau sekadar mengeluarkan kecaman tanpa tindakan nyata.

Selain itu, pada Ramadan tahun ini, Masjid Al-Aqsa ditutup oleh entitas Zionis Yahudi bagi jemaah Islam hingga mereka terpaksa beribadah di jalanan. Pihak Zionis tampak memanfaatkan konflik Iran untuk memperketat pengepungan dan menggencarkan serangan di Gaza, sehingga warga sipil kesulitan mendapatkan pasokan pangan dan bahan bakar. Hal ini menjadi bukti nyata pelanggaran kesepakatan gencatan senjata yang ditandatangani pada 10 Oktober 2025.

Situasi perang Iran–AS ini berisiko memperluas konflik di kawasan Timur Tengah, terlebih ketika Iran menutup Selat Hormuz yang merupakan jalur bagi 20% minyak dunia. Ironisnya, beberapa negara Arab Teluk justru bersekutu dengan kekuatan Barat dalam memerangi Iran, dan pada waktu yang sama melupakan penderitaan rakyat Palestina. Loyalitas mereka terhadap Barat telah benar-benar menghancurkan persaudaraan Islam (ukhuah islamiah) di antara mereka.

Hal tersebut disebabkan oleh telah tertancap kuatnya penyakit wahn (cinta dunia dan benci kematian) akibat penerapan sistem sekuler kapitalisme dalam kehidupan mereka. Sistem yang menjadikan kemuliaan dan kebahagiaan hidup hanyalah sebatas pada teraihnya kemanfaatan materi sebanyak-banyaknya, sekalipun harus menggadaikan agama dan ukhuah mereka. Oleh karena itu, mereka bersikap loyal kepada penguasa kufur dunia (AS), walaupun harus mengorbankan saudara-saudara mereka seiman.

Terkait Gaza, para penguasa negeri-negeri Muslim justru terjebak dalam dewan perjanjian damai bentukan AS, yaitu BoP (Board of Peace), di mana kemerdekaan Palestina bukanlah prioritas utama. Para pemimpin ini tidak menyadari bahwa kekuatan imperialis hanya mementingkan kepentingan mereka sendiri dan menyimpan permusuhan terhadap Islam. Sejarah mencatat banyak rezim yang dijatuhkan setelah habis masa perannya, seperti Saddam Hussein di Irak. Begitu pula dengan intervensi di Venezuela yang berujung pada penangkapan Nicolas Maduro.

Kenyataan ini seharusnya membuka mata kaum Muslimin betapa rapuhnya umat hari ini. Tanpa pelindung yang nyata, negeri-negeri Muslim dihancurkan satu per satu. Umat Islam saat ini laksana buih di lautan meskipun jumlahnya mencapai 2 miliar jiwa. Rasulullah saw. bersabda:
“Bangsa-bangsa memangsa kalian sebagaimana orang-orang lapar menghadapi meja penuh hidangan.” Seseorang bertanya, “Apakah kami saat itu sedikit?” Rasulullah SAW menjawab, “Bahkan kalian saat itu banyak, akan tetapi seperti buih di lautan.” (HR Abu Dawud)

Maka, momen Idulfitri kali ini, kaum Muslimin harus melakukan muhasabah besar terhadap kondisi mereka yang memprihatinkan ini. Segala penderitaan yang dirasakan oleh kaum Muslimin di berbagai wilayah, khususnya Palestina dan Iran, seharusnya dirasakan sebagai penderitaan bagi seluruh kaum Muslim, sebagaimana hadis Rasulullah saw.:
“Perumpamaan kaum mukminin dalam kasih sayang dan belas kasihan di antara mereka adalah seperti satu tubuh. Jika satu bagian sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan sakit.” (HR Bukhari dan Muslim)

Ramadan dan Idulfitri seharusnya menjadi momentum untuk melahirkan spirit perubahan fundamental ke arah penerapan syariat Islam kafah dalam naungan Khilafah, sehingga kaum Muslim dapat mewujudkan kasih sayang terhadap sesama dan bersikap tegas kepada para kafir seperti AS–Israel, sebagaimana firman Allah Swt.:
“Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka …” (QS Al-Fath: 29)

Dan firman Allah Swt.:
“Wahai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir di sekitar kamu, dan hendaklah mereka merasakan sikap tegas darimu, dan ketahuilah bahwa Allah bersama orang-orang yang bertakwa.” (QS At-Taubah: 123)

Melalui Khilafah, persatuan umat Islam sedunia dapat terwujud, yang akan menciptakan kekuatan militer dan pengaruh geopolitik yang luar biasa, mengingat posisi strategis negeri Muslim di berbagai belahan dunia, seperti di Selat Hormuz, Terusan Suez, dan Selat Malaka—yang dapat digunakan untuk menundukkan dunia. Melalui Khilafah ini pula, ukhuah islamiah dapat diikat dalam satu ikatan ideologi Islam untuk membebaskan penderitaan saudara sesama Muslim di berbagai wilayah dunia.

Hanya institusi Khilafah yang dapat menyatukan seluruh wilayah Islam di dunia. Khilafah juga yang sanggup melindungi seluruh negeri kaum Muslim, dan khalifah sebagai pemimpin akan menggerakkan tentara kaum Muslim untuk berjihad di jalan Allah dalam rangka memerangi negara-negara kafir penjajah seperti AS–Israel dan menghancurkan hegemoni mereka.

Dengan potensi SDM dan SDA yang dimiliki umat Islam, baik secara kuantitas maupun kualitas, hal ini akan semakin memperkokoh posisi Khilafah Islamiah sebagai kekuatan yang mendunia sehingga dapat mewujudkan izzah Islam wal muslimin. Sebagaimana dahulu Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq menjaga kaum Muslim dari gerakan orang-orang murtad, para pengikut nabi palsu, dan ancaman kekuatan Romawi. Begitu pula Khalifah Harun Ar-Rasyid yang sanggup melindungi wilayah Islam dari ancaman Raja Nikephoros, Romawi.

Demikianlah, keberadaan Khilafah Islamiah merupakan solusi yang hakiki dalam menghadapi dan menyelesaikan nestapa umat serta mengalahkan para kafir penjajah. Oleh karena itu, perjuangan penegakan syariat Islam kafah dalam naungan Khilafah menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan oleh umat Islam saat ini. Selain itu, tegaknya kembali Khilafah merupakan kabar gembira (bisyarah) dari Rasulullah saw.:
“… kemudian akan datang masa Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah (Khilafah yang mengikuti metode kenabian).” (HR Ahmad)

Bisyarah Rasulullah saw. ini menjadi motivasi untuk berjuang menjemput janji Allah dan Rasul-Nya bahwa kaum Muslim akan kembali memimpin dunia dengan menerapkan Islam secara kafah, yang akan menjadikan Islam rahmatan lil-‘alamin. Wallahu a’lam bish-shawab.

Oleh: Elah Hayani
Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 6

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA