Tinta Media – Akhir bulan Maret, tepatnya tanggal 29 Maret 2026, terjadi aksi demonstrasi di berbagai kota di Amerika Serikat (AS). Aksi protes yang bertajuk ‘No Kings’ tersebut diikuti sekitar delapan juta orang yang tersebar di seluruh 50 negara bagian, mulai dari kota besar hingga kota kecil. Demonstrasi ini muncul sebagai bentuk penolakan terhadap kepemimpinan Donald Trump yang dinilai memiliki kecenderungan otoriter oleh para pengunjuk rasa (detiknews.com, 30/03/2026).
Gerakan ‘No Kings’ terus membesar sejak pertama kali digelar pada 14 Juni 2025, dengan jutaan peserta di setiap gelombangnya. Aksi ini dipicu oleh akumulasi krisis ekonomi akibat utang negara yang membengkak. Demonstran menuntut pertanggungjawaban terhadap lonjakan harga kebutuhan pokok serta BBM yang dianggap memberatkan ekonomi domestik. Warga juga merasa uang pajak tidak digunakan untuk kesejahteraan, melainkan untuk kebijakan luar negeri yang dianggap kontraproduktif. Aksi terbaru juga dipicu oleh kemarahan terhadap operasi militer AS terkait konflik Iran, yang dinilai menghabiskan anggaran negara dan memicu krisis ekonomi.
Data yang dipublikasikan oleh Bureau of the Fiscal Service menyebutkan bahwa utang nasional Amerika Serikat telah melewati batas US$39 atau Rp661.440 triliun pada Maret 2026. Utang tersebut semakin bengkak menyusul lonjakan pengeluaran akibat konflik AS, Israel, dan Iran. Dengan beban utang yang menumpuk, maka per kepala warga AS atau setiap bayi yang baru lahir di AS akan menanggung beban utang sebesar Rp1,93 miliar (cnbcindonesia.com, 28/03/2026).
Ambisi Trump menguasai dunia dengan kebijakan militernya justru membuat utang AS berlipat dan menempatkan AS di ambang kebangkrutan. Sikap AS (Trump) yang mendukung Israel untuk menguasai Palestina, bersekutu dengan Eropa dan negara-negara Teluk untuk kompak memerangi Iran, ternyata telah membuka mata dunia, bahkan membuka mata warga AS itu sendiri tentang bagaimana jahatnya Trump dan hegemoni kapitalisme AS.
Amerika Serikat yang dianggap negara adidaya ternyata berada di ambang kebangkrutan dan kehancuran. Jika kita lihat, sebetulnya tanda-tanda kehancuran tersebut telah tampak dari angka penduduk miskin di negeri tersebut. Salah satu kotanya, yaitu New York, menempati posisi nomor dua di dunia sebagai kota dengan jumlah tuna wisma terbanyak.
Negara yang terlihat kuat di mata dunia juga ternyata tak mampu memberikan rasa aman pada warganya. Rusaknya generasi di sana sudah menjadi rahasia umum. Seks bebas menjadi hal yang lumrah, sedangkan pernikahan menjadi sesuatu yang dihindari. Akhirnya, lost generation pun menghantui negara adidaya tersebut. Diskriminasi ras kulit hitam pun masih terus berlangsung. Warga kulit hitam menjadi warga kelas dua di negara yang katanya menjunjung tinggi hak asasi manusia. Maka, apalagi yang diharapkan dari Amerika?
Sudah saatnya para penguasa Muslim yang masih bersekutu dengan negeri penjajah tersebut mengakhiri pengkhianatannya. Karena sesungguhnya, pada hari ini umat Islam dan penguasa Muslim menjadi korban adu domba demi kepentingan AS. Amerika Serikat hanya akan runtuh jika ada peradaban pengganti. Peradaban apa yang layak dan mampu menyejahterakan umat manusia seluruhnya? Yakni peradaban Islam, sebagaimana peradaban Islam di masa lalu yang berhasil mengungguli peradaban Persia dan Romawi.
Namun, perlu kita sadari, mengembalikan kejayaan Islam tak cukup hanya dengan berpangku tangan dan menunggu takdir Allah Swt. datang. Dibutuhkan upaya yang sungguh-sungguh, terukur, dan sistematis untuk mewujudkan janji Allah dan bisyarah Rasulullah ﷺ tersebut. Perlu adanya upaya penyadaran politik umat Islam di tengah-tengah umat, dibarengi dengan edukasi tentang politik Islam, sistem Islam, dan kepemimpinan Islam.
Oleh karena itu, mari kita berjuang untuk memperkuat internal kaum Muslim dengan mengingatkan kembali posisi kaum Muslim sebagai khayru ummah (umat terbaik) dan berupaya melakukan dakwah di tengah umat untuk mewujudkan kekuatan baru yang diperhitungkan dunia. Dengan menyatukan negeri-negeri kaum Muslim di bawah panji “Laa ilaaha illallah”, mewujudkan bisyarah Rasulullah dengan tegaknya institusi Khilafah (sistem pemerintahan Islam). Hanya Khilafah yang mampu menggantikan posisi Amerika saat ini karena telah terbukti menjadi negara adidaya yang menguasai dua pertiga dunia.
Oleh: Shintia Rizki Nursayyidah, S.Pd., Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 0













