Tinta Media – Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menilai kegagalan inovasi Indonesia tidak cukup dijelaskan secara ekonomi atau administratif, melainkan perlu dibaca melalui kerangka PentaHelix sekaligus dibandingkan dengan pengalaman sejarah peradaban Islam.
“Kegagalan inovasi atau ketertinggalan Indonesia di banding negara berkembang lain seperti Vietnam, India, atau Malaysia, tidak cukup dijelaskan secara ekonomi atau administratif, melainkan perlu dibaca melalui kerangka PentaHelix sekaligus dibandingkan dengan pengalaman sejarah peradaban Islam,” ungkap HILMI melalui Intellectual Opinion yang dirilis pada Senin (22/12/2025), berjudul: “Mengapa Inovasi Indonesia Tertinggal? dalam Perspektif PentaHelix & Solusi Islam”.
Kerangka PentaHelix yang dimaksud, lanjutnya, adalah akademisi, industri, negara, masyarakat, dan media.
“Dunia akademik Indonesia menghadapi problem klasik ilmu berhenti di publikasi. Sistem karier dosen dan peneliti lebih menghargai angka kredit, jurnal bereputasi, dan kepatuhan administratif dibandingkan dampak nyata bagi masyarakat dan industri,” bebernya.
Padahal, tandasnya, dalam tradisi Islam klasik, ilmu dan amal tidak pernah dipisahkan. Para ilmuwan Muslim seperti: Al-Khawarizmi (matematika dan algoritma), Ibn al-Haytham (optika dan metode ilmiah), Al-Biruni (geografi, geodesi, dan astronomi), Abu Qasim az Zahrawi & Ibn Sina (kedokteran), tidak meneliti demi publikasi, melainkan demi memecahkan persoalan umat dan negara.
HILMI menjelaskan, peradaban Islam berkembang pesat karena ekonomi produktif, bukan ekonomi rente. Negara mendorong perdagangan, manufaktur, pertanian, dan teknologi, bukan sekadar eksploitasi sumber daya mentah.
“Industri di Indonesia tidak terdorong membangun R&D jangka panjang. Bahkan banyak BUMN, yang seharusnya menjadi lokomotif inovasi nasional, bersikap sangat risk-averse. Sedangkan dalam sejarah Islam, negara justru menciptakan tekanan struktural agar inovasi tumbuh,” paparnya.
HILMI menyebut jika tata kelola modern Indonesia dibangun atas paradigma takut gagal dan takut salah.
“Dalam Islam, penguasa (khalifah) adalah penanggung jawab langsung urusan umat atau ra‘in wa mas’ul. Negara tidak boleh bersembunyi di balik prosedur. Jika suatu kebijakan atau eksperimen gagal, ia dikoreksi, bukan ditinggalkan,” cetusnya.
Masyarakat dan media, ujarnya, juga berperan penting dalam inovasi.
“Dalam peradaban Islam, ilmuwan memiliki status sosial tinggi. Selain itu, media berfungsi sebagai penyebar ilmu dan kesadaran publik, melalui kitab, majelis, dan tradisi keilmuan,” tegasnya.
Ketertinggalan inovasi Indonesia, tandasnya, bukan persoalan teknis semata tetapi persoalan pandangan hidup. Selama inovasi dipahami sebagai proyek administratif dan ekonomi, ia akan selalu tertinggal.
“Sejarah Islam menunjukkan bahwa inovasi tumbuh ketika ilmu dimuliakan, negara berani, industri produktif, masyarakat menghargai kegagalan, dan media membangun kesadaran peradaban. Maka pertanyaan sejatinya bukan: mengapa Indonesia tertinggal? Melainkan: nilai apa yang ingin kita jadikan fondasi kemajuan bangsa?” tutupnya.[] Erlina
![]()
Views: 37





