Tinta Media – Industri kreatif digital saat ini menghadirkan dilema besar. Di satu sisi, ia membuka peluang luas bagi karya anak bangsa. Namun di sisi lain, ia justru menjadi bumerang bagi generasi muda. Konten-konten yang beredar banyak yang tidak mendidik dan tidak membimbing anak-anak. Beragam contoh kekerasan—mulai dari gim daring, tren viral berbahaya, hingga konten amoral—bertebaran di dunia maya tanpa kontrol yang nyata. Realisasi dampak konten merusak ini kian hari kian tampak. Beberapa kasus yang menggemparkan pada penghujung tahun lalu, seperti bom bunuh diri di lingkungan SMA, pembakaran pesantren, hingga tragedi pembunuhan, dilakukan oleh anak-anak yang sejatinya merupakan calon generasi penerus bangsa.
Perlu disadari bersama bahwa platform dunia digital bukan sekadar mesin komunikasi, melainkan telah membentuk sebuah peradaban yang nyaris tanpa aturan, di mana setiap pihak berlomba mengejar popularitas demi menjadi opini yang viral dan berpengaruh. Ruang digital kini dipenuhi informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, dengan dampak besar bagi generasi muda yang sejatinya masih membutuhkan bimbingan.
Dunia digital ibarat hutan rimba yang dipenuhi binatang buas—mematikan dan berbahaya—terutama bagi generasi muda kaum muslim. Pola pikir mereka dirusak, dijauhkan dari pemikiran Islam, dan dicekoki konten yang mematikan potensi. Pada akhirnya, semakin tinggi penggunaan platform berbasis viral, semakin deras pula aliran keuntungan ke kantong para kapitalis.
Sementara itu, negara kembali dibuat mati kutu. Negara gagal mengatur arus konten yang masuk dan memengaruhi masyarakat, khususnya generasi muda. Lantas, mungkinkah generasi emas 2045 terwujud dengan kualitas generasi saat ini? Bagaimana mungkin lahir pemimpin yang cemerlang dari generasi yang pikirannya dijejali konten yang melemahkan nalar kritis, membentuk sikap amoral, serta terus-menerus terpapar kekerasan?
Di sinilah peran Islam sebagai sistem kehidupan yang diterapkan pada skala negara. Dalam kepemimpinan Khilafah, negara akan memastikan bahwa konten-konten merusak tidak sampai beredar di tengah masyarakat, bahkan dicegah sejak tahap perencanaan. Sejarah mencatat bagaimana seorang khalifah mencegah kemungkaran dalam rencana penyelenggaraan pesta maksiat di negeri kafir tetangga. Khalifah tersebut bahkan mengancam akan memerangi negara tersebut jika acara itu tetap dilangsungkan. Langkah ini diambil semata-mata demi mencegah kerusakan yang lebih luas pada manusia, meskipun kejadian itu berada di luar wilayah kekuasaan Islam. Pencegahan dilakukan hingga level internasional demi melindungi generasi masa depan.
Negara Islam juga memastikan sistem pendidikan—baik dalam keluarga maupun sekolah—mampu mencetak individu bertakwa, takut akan dosa, dan senantiasa mencari rida Allah. Dari individu-individu inilah lahir kontrol sosial yang kuat, sehingga berbagai penyimpangan dapat ditangani dengan cepat. Selain itu, kebijakan negara akan mengatur lalu lintas informasi yang masuk ke tengah masyarakat, sehingga orang tua tidak cemas dan anak-anak dapat bereksplorasi secara sehat. Sungguh, hanya dengan sistem inilah manusia benar-benar dimuliakan. Inilah era yang dirindukan oleh umat yang hanif. Wallahualam bissawab.
Oleh: Muezra Amanda
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 32






