Kiai Yasin: Ramadhan adalah Bulan Perjuangan

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Pimpinan PP Al-Abqary, Serang, Banten KH. Yasin Muthohar menegaskan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan perjuangan.
 
“Kita berada di bulan Ramadhan yang mulia, bulan yang agung, bulan perjuangan. Ramadhan bukan hanya bulan puasa, Ramadhan bukan hanya bulan tarawih, Ramadhan bukan hanya bulan tilawah, Ramadhan bukan hanya bulan untuk meningkatkan spiritualitas kita, tapi Ramadhan juga adalah bulan perjuangan. Bulan saatnya kita memanfaatkan bulan ini, momentum mulia ini untuk berjuang di jalan Allah,”
ungkapnya dalam acara Fajar Ramadhan “Puasa dan Keteguhan Memperjuangkan Islam”, di kanal YouToube One Ummah TV, Sabtu (28/2/2026).
 
KH. Yasin memberikan tiga alasan mengapa Ramadhan dijadikan sebagai bulan perjuangan.
 
Pertama, karena fakta sejarah Ramadhan di masa nabi, di masa para sahabat, dan di masa setelah mereka dipenuhi dengan perjuangan. Ramadhan pertama kaum Muslim diisi bukan hanya dengan tarawih, bukan hanya dengan puasa, tapi dengan perang badar. Perang badar terjadi tahun ke-2 Hijriyah. Ramadhan pertama kaum Muslim tahun ke-2 Hijriyah.
 
“Di bulan Ramadan itulah perang badar terjadi dan kemenangan Allah SWT berikan kepada kaum muslimin. Futuh makkah terjadi di bulan Ramadan. Bagaimana Rasulullah SAW di penghujung bulan Ramadhan, di 10 hari terakhir bulan Ramadhan, Rasulullah s.a.w. memobilisasi kaum muslimin dari Madinah pergi ke Makkah untuk menaklukkan makkah itu terjadi bulan Ramadhan tahun ke-8 Hijriah,” bebernya.
 
“Ain Jalut, yaitu peperangan kaum muslimin mengalahkan tentara Mongolia pasukan Tartar, di Ain Jalut sekarang Gaza itu terjadi di bulan Ramadhan. Amuriah terjadi di bulan Ramadan, penaklukan Andalusia terjadi di bulan Ramadhan, penaklukan Perancis bagian selatan terjadi di bulan Ramadhan, dan banyak lagi. Ramadhan penuh dengan nuansa perjuangan,” tambahnya.
 
Kedua, karena Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Imam Bukhari Muslim yang artinya, siapa yang berpuasa satu hari di jalan Allah, maka Allah akan menjauhkannya dari api neraka sejauh perjalanan 70 tahun.
 
“Luar biasa. Nabi mengajarkan kepada kita, Ramadhan adalah sahru’l-jihad. Ramadhan adalah sahru’l-da’wah,” tegasnya.
 
Ketiga, karena hari ini umat hidup dalam suasana yang betul-betul sangat menyedihkan. “Umat Islam terpuruk, umat Islam tercerai-berai, penderitaan yang menimpa saudara kita di Gaza belum berakhir. Begitu juga penderitaan yang menimpa saudara kita di Sudan,” ungkapnya.
 
Kiai Yasin melihat umat Islam sampai detik ini masih tercerai-berai, belum bersatu, tidak memiliki kepemimpinan. Umat Islam yang hidup di bumi Allah, mereka tidak dinaungi dengan hukum Allah subhanahu wa ta’ala.
 
“Ramadhan kita hari ini minus Khilafah. Ramadhan kita hari ini minus persatuan. Ramadhan kita hari ini minus syariat Islam,” tandasnya.[] Imam Wahyono
 
 

Loading

Views: 20

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA