Tinta Media – Menyoroti film dokumenter pesta babi, jurnalis Joko Prasetyo mengungkapkan bahwa tragedi perampasan tanah merupakan buah pahit sistem kapitalisme.
“Tragedi semacam ini, bukan sekadar kesalahan teknis pembangunan. Ini adalah buah pahit dari sistem Kapitalisme,” tuturnya sebagaimana rilis yang diterima oleh Tinta Media pada Senin (18/05/2026).
Menurutnya, dalam Kapitalisme, tanah dipandang sebagai komoditas, hutan dianggap aset ekonomi, dan manusia hanya angka statistik investasi.
“Selama proyek menghasilkan uang dan mendatangkan keuntungan bagi oligarki, penderitaan rakyat sering dianggap sekadar konsekuensi pembangunan,” ujarnya.
Om Joy, sapaan akrabnya, menilai bahwa oligarki menari di atas penderitaan rakyat. “Mereka berpesta di tengah tangisan masyarakat adat yang kehilangan tanah leluhur,” tukasnya.
Mereka, lanjut Om Joy, menikmati keuntungan proyek, sementara rakyat kecil harus menanggung banjir, konflik agraria, kerusakan alam, dan hilangnya sumber kehidupan.
Akibatnya, sambungnya kembali, negara lebih mudah berpihak kepada pemilik modal daripada melindungi rakyat.
“Alam dieksploitasi tanpa batas. Tanah adat digusur atas nama hilirisasi, food estate, bioetanol, atau proyek strategis nasional,” bebernya.
Sementara, Om Joy menjelaskan, rakyat yang mempertahankan tanah leluhurnya justru dicurigai sebagai penghambat pembangunan.
Terakhir ia menegaskan demikian itulah watak asli Kapitalisme. “Inilah watak asli Kapitalisme: yang kuat menelan yang lemah,” pungkasnya.[] Nur Salamah
![]()
Views: 4




