Krisis Kesehatan Mental Generasi, Potret Buram Penerapan Sekularisme

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Kondisi kesehatan mental anak di Indonesia saat ini sangat mengkhawatirkan. Sejumlah survei menunjukkan bahwa generasi muda Indonesia menjadi kelompok yang banyak mengalami gangguan kesehatan mental. Gangguan kecemasan dan depresi merupakan masalah yang paling sering dialami, bahkan tidak sedikit yang berujung pada tindakan bunuh diri.

Salah satunya adalah kasus percobaan bunuh diri yang dilakukan YRB (10), seorang siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Persoalan ini dipicu oleh berbagai faktor, di antaranya pengaruh media sosial, lingkungan, tekanan sosial, dan faktor lainnya (tirto.id, 12/3/2026).

Lantas, akankah slogan Indonesia Emas 2045 benar-benar terwujud atau hanya menjadi slogan semata? Pasalnya, dalam beberapa tahun terakhir, permasalahan kesehatan mental pada anak terus meningkat. Salah satu pemicu krisis multidimensi tersebut adalah gangguan kecemasan (anxiety disorder).

Gangguan kecemasan muncul akibat berbagai faktor, seperti ketidakpastian masa depan, terutama dalam hal karier, di tengah persaingan kerja yang semakin ketat. Sementara itu, fakta di lapangan menunjukkan bahwa lapangan pekerjaan semakin sulit diperoleh.

Tekanan untuk meraih kesuksesan di masa depan juga menjadi penyebab lainnya. Generasi muda dibebani berbagai target pencapaian, ditambah gaya hidup dan standar sosial yang berkiblat pada media sosial.

Media sosial saat ini dipenuhi konten yang menampilkan gaya hidup mewah (flexing) dan ukuran kesuksesan yang bertumpu pada pencapaian materi. Akibatnya, banyak remaja terjebak dalam tuntutan untuk tampil sempurna. Kesuksesan pun didefinisikan sebatas terpenuhinya kebutuhan materi. Demi memenuhi tuntutan tersebut, tidak sedikit generasi muda yang akhirnya memilih jalan pintas dan menghalalkan segala cara.

Persoalan ini tentu bukan sekadar masalah individu, melainkan problem sistemis yang lahir dari penerapan sistem sekular kapitalisme, yaitu sistem yang memisahkan aturan agama dari kehidupan. Dalam sistem ini, generasi dipandang sebatas komoditas.

Potensi mereka sebagai generasi penerus bangsa perlahan dilemahkan melalui berbagai hal yang merusak jati diri. Hal ini tampak dalam sistem pendidikan sekular kapitalisme yang lebih berorientasi pada pencapaian akademik tanpa diimbangi pembentukan keimanan, karakter, dan kepribadian yang kuat.

Akibatnya, lahirlah generasi yang rapuh, jauh dari ketaatan kepada Allah Swt., mudah berputus asa, rentan terpengaruh hal-hal negatif, serta tidak mampu membedakan antara yang halal dan haram.

Dalam aspek ekonomi, sistem sekular kapitalisme menganut paradigma bahwa siapa yang memiliki modal dialah yang akan menang. Akibatnya, kesenjangan sosial semakin lebar; yang kaya semakin kaya, sedangkan yang miskin semakin miskin.

Sulitnya memperoleh pekerjaan, tingginya biaya hidup, serta mahalnya biaya pendidikan makin memperberat beban masyarakat. Di sisi lain, paparan dunia digital dengan beragam budaya, gaya hidup, makanan, dan fesyen turut memicu fenomena fear of missing out (FOMO) yang berdampak buruk bagi generasi muda. Semua ini menjadi tantangan struktural yang memperparah krisis kesehatan mental generasi.

Dalam sistem sekular kapitalisme, negara hanya berperan sebagai regulator bagi kepentingan para pemilik modal dan mengabaikan fungsinya sebagai periayah (pengurus) generasi. Negara tidak memberikan jaminan kesejahteraan secara menyeluruh dalam berbagai aspek kehidupan.

Negara lebih berfokus pada aspek materiel tanpa mengindahkan nilai-nilai moral dan kesehatan mental generasi. Solusi yang ditawarkan pun sebatas solusi pragmatis yang tidak menyentuh akar persoalan.

Sebaliknya, dalam Islam, generasi sangat dimuliakan dan dijaga karena mereka merupakan tonggak penerus peradaban. Sistem pendidikan yang berlandaskan akidah Islam diyakini mampu melahirkan generasi yang berkepribadian Islam, memiliki keimanan yang kokoh, serta taat kepada Allah Swt.

Pendidikan dalam Islam tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik atau kepentingan ekonomi, tetapi bertujuan membentuk generasi yang berakhlak mulia dan berkarakter kuat, sebagaimana pada masa kejayaan Islam. Saat itu lahir para ilmuwan yang menguasai berbagai disiplin ilmu sekaligus menjadi ulama yang mendalam pemahaman agamanya. Islam menjadikan ilmu agama sebagai fondasi, sementara ilmu pengetahuan dan sains menjadi penunjang kemajuan peradaban.

Negara dalam Islam hadir sebagai raa’in dan junnah bagi rakyatnya, yaitu sebagai pengurus sekaligus pelindung. Negara akan menjamin pemenuhan kebutuhan hidup dan kesejahteraan masyarakat dalam berbagai aspek. Negara juga akan membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya serta mengelola sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan dasar rakyat, termasuk menyediakan layanan pendidikan dan kesehatan secara gratis.

Selain itu, negara akan melindungi generasi dari dampak negatif dunia digital dengan menyaring konten-konten yang merusak mental dan jati diri generasi muda, kemudian menggantinya dengan konten yang positif dan bermanfaat. Semua itu diyakini dapat terwujud melalui penerapan Islam secara kafah. Dengan demikian, Islam akan menjadi rahmat yang menghadirkan keberkahan dan keselamatan bagi seluruh umat manusia. Wallahu a’lam bish-shawab.

Oleh: Iske
(Sahabat Tinta Media)

Loading

Views: 3

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA