Menggugat Akar Krisis Kesehatan Mental Remaja: Salah Diagnosis atau Salah Sistem?

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Standar diagnosis kesehatan mental remaja sering kali keliru. Fakta ini tentu sangat menyedihkan di tengah isu kesehatan mental remaja yang sedang marak disorot karena semakin sulit ditanggulangi. (DetikHealth, Rabu (1/7/2026)

DetikHealth memperingatkan bahwa penggunaan standar klinis yang kaku saat ini berisiko melewatkan banyak kasus depresi dan kecemasan kronis pada remaja yang membutuhkan penanganan dini. Penyebab kekakuan dan kekeliruan ini adalah standar diagnosis remaja disamakan dengan standar orang dewasa.

Padahal, keduanya memiliki karakter psikologis yang jauh berbeda, sehingga penanganannya pun tentu tidak bisa disamakan.

Akibatnya, banyak remaja yang secara nyata telah mengalami penurunan kualitas hidup dan gangguan fungsi sehari-hari gagal mendapatkan bantuan medis. Hal ini terjadi hanya karena skor pemeriksaan mereka berada sedikit di bawah ambang batas diagnosis formal.

Dari penelitian dan fakta miris ini, kita akhirnya mengetahui salah satu penyebab semakin bertambahnya jumlah remaja yang mengalami tekanan mental (mental down) di Indonesia. Meskipun pemerintah telah melakukan berbagai upaya, jumlah kasus ternyata tetap meningkat, dan kekeliruan diagnosis inilah yang menjadi salah satu pemicunya.

Akibatnya, negara salah memetakan masalah. Kebijakan yang diambil pun selalu salah sasaran karena gagal melihat akar masalah sosial yang lebih besar di masyarakat. Pemerintahan terlalu fokus pada hal teknis daripada kata masalah sesungguhnya. Padahal sebuah masalah hanya bisa diselesaikan jika akar masalahnya ditemukan terlebih dahulu dan dihilangkan.

Akarnya

Kesalahan diagnosis ini bukanlah akar penyebab utama rusaknya mental remaja di negeri ini. Ada faktor yang jauh lebih mendasar daripada sekadar kesalahan teknis medis, yaitu kondisi keluarga dan lingkungan yang telanjur terbangun dalam ekosistem yang tidak sehat.

Orang Tua Stres, Anak Cemas

Meningkatnya stres dan gangguan jiwa pada keluarga serta orang tua akan menular kepada anak-anak. Semua bermula dari perasaan tidak nyaman, gelisah, dan cemas, yang kemudian berkembang menjadi emosi labil. Kondisi ini memicu kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), tindak kekerasan pada orang lain, hingga tindakan ekstrem seperti bunuh diri atau menyakiti anggota keluarga sendiri.

Jika ditelusuri lebih mendalam, semua persoalan ini mengerucut pada satu hal: sistem kehidupan kapitalisme yang telah merusak kesehatan mental keluarga.
Mengapa kapitalisme bertanggung jawab atas meningkatnya gangguan kesehatan jiwa keluarga di tanah air, juga di seluruh negara yang menerapkan ideologi ini?

Pertama, Kapitalisme Memisahkan Agama dari Kehidupan

Faktanya, banyak keluarga di tanah air yang dibangun tanpa landasan agama yang kokoh. Banyak muslim yang akhirnya frustrasi dan stres karena tidak memahami makna ikhtiar, sabar, dan tawakal dengan benar. Akibatnya, angka gangguan jiwa meningkat dan memicu konflik serta kekerasan dalam kehidupan keluarga.

Kedua, Kapitalisme Menanamkan Nilai Hedonisme

Sistem ini mengedepankan materi ketimbang moral, kasih sayang, dan agama dalam kehidupan sosial. Nilai materi dan prestise lebih mendominasi kehidupan masyarakat, yang tecermin jelas di media sosial saat orang-orang kerap memamerkan gaya hidup mewah seperti makanan, pakaian, hingga perjalanan (traveling). Keadaan ini akhirnya menimbulkan gangguan kejiwaan pada masyarakat, seperti rasa iri, dengki, dan perasaan selalu kekurangan.

Ketiga, Negara Tidak Menjamin Kebutuhan Pokok Warganya

Dalam sistem kapitalisme, masyarakat dibiarkan memenuhi kebutuhan hidup mereka sendiri dengan prinsip survival of the fittest (siapa yang kuat, dia yang bertahan). Di Indonesia, berbagai subsidi untuk rakyat mulai dikurangi, termasuk kebijakan penyesuaian harga BBM. Bahkan, jaminan kesehatan harus dibayar sendiri oleh warga melalui sistem iuran bulanan, meskipun tidak semua warga sanggup membayarnya.

Penghasilan suami yang pas-pasan membuat banyak istri terpaksa bekerja demi membantu menopang nafkah keluarga. Baik ternyata keluarga ini benar-benar miskin atau keluarga kaya yang ibunya menjadibwanita karir. Akibatnya sama saja, anak-anak minim mendapatkan perhatian dan perlindungan, sementara hubungan antara kedua orang tua juga rawan konfli.

Stres yang berlanjut pada disharmonisasi ini banyak terjadi pada keluarga prasejahtera maupun menengah ke atas. Di Indonesia, terdapat 24,79 juta warga miskin yang rentan mengalami gangguan kesehatan jiwa.

Semakin banyak keluarga yang bermasalah, semakin besar pula potensi mencetak anak-anak yang bermasalah. Apalagi, muatan kurikulum pendidikan di sekolah dan kampus saat ini belum sepenuhnya optimal dalam membantu pelajar memiliki mental yang sehat.

Menuju Solusi yang Bersifat Sistemik

Melihat fenomena ini, masyarakat harus segera menyadari bahwa negeri ini sedang menghadapi masalah yang sistemik. Persoalan tersebut lahir dari penerapan nilai-nilai kapitalisme-liberalisme yang berlaku di tengah masyarakat. Sebagai alternatif solutif, kembali pada nilai-nilai agama yang selaras dengan fitrah manusia, yaitu Islam, menjadi sebuah keniscayaan.

Namun, tatanan yang mampu menyelamatkan generasi dan keluarga dari kerusakan mental ini hanya bisa dibangun secara kukuh jika didasarkan pada pondasi akidah yang kuat. Tatanan tersebut memerlukan dukungan sistem yang menerapkan prinsip-prinsip Islam secara menyeluruh (kaffah).

Sistem yang ada saat ini dinilai tidak akan pernah bisa menyelesaikan problem mental secara tuntas karena solusi yang ditawarkan sering kali hanya bersifat tambal sulam, yang alih-alih menyelesaikan masalah, justru berpotensi menimbulkan persoalan baru.
Wallahu a’lam bish-shawab.[]

Oleh: Wafi Mu’tashimah
Tim Redaksi Tinta Media

Loading

Views: 8

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA