Tinta Media – LGBT dipandang sebagai bentuk penyimpangan yang dilaknat Allah. Perilaku tersebut dianggap tidak sesuai dengan fitrah manusia. Dalam ajaran Islam, perbuatan ini juga memiliki konsekuensi hukum yang berat. Sebaliknya, dalam sistem kapitalisme, LGBT dipandang sebagai bagian dari hak asasi manusia (HAM). Setiap orang dianggap memiliki hak atas dirinya sendiri. Tidak ada aturan yang boleh membatasi perasaan cinta seseorang karena cinta dipandang sebagai urusan pribadi antara dirinya dan pasangannya.
Pandangan tersebut mendorong manusia mengejar kebahagiaan tanpa batasan yang bersumber dari wahyu. Aturan yang dijadikan pedoman hanyalah aturan buatan manusia.
Akibatnya, dampak yang ditimbulkan terhadap generasi mendatang sering kali diabaikan. Bukan hanya persoalan penyakit, tetapi juga kerusakan moral yang dipandang menghilangkan batas-batas perilaku manusia.
Kapitalisme memberikan kebebasan yang luas kepada individu. Dalam sistem ini, HAM dipandang sebagai sesuatu yang harus dijunjung tinggi. Setiap orang dianggap berhak memperoleh apa yang diinginkannya meskipun bertentangan dengan aturan agama. Cinta pun dipandang sebagai hak mutlak individu yang tidak boleh dibatasi.
Bagaimana Islam Memandang?
Dalam Islam, perbuatan ini dipandang sebagai kemaksiatan yang dikutuk dan dikenai hukuman yang berat. Allah Swt. telah memberikan pelajaran melalui kisah kaum Nabi Luth dalam Al-Qur’an.
“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas menjadi di bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.” (QS Hud: 82)
Kaum Nabi Luth diazab dengan sangat dahsyat. Negeri mereka dibalik, dihujani batu sijjil, lalu dibinasakan. Gambaran tersebut menunjukkan beratnya azab yang mereka terima.
Ancaman di Zaman Sekarang
Setiap orang tua tentu menginginkan anak-anaknya tumbuh sesuai fitrahnya sebagai manusia. Namun, di tengah kehidupan yang dipenuhi kebebasan dan perkembangan teknologi, berbagai bentuk kemaksiatan semakin mudah diakses. Beragam tontonan tersedia, baik yang membawa kebaikan maupun yang mengandung kemaksiatan sehingga dapat memengaruhi anak-anak. Bahkan, film kartun pun kini dipandang mulai disisipi berbagai unsur yang mengarah pada LGBT.
Peran Orang Tua
Karena itu, orang tua harus lebih waspada dan memperhatikan tontonan anak-anak. Bekali mereka dengan akidah yang benar. Tanamkan pemahaman bahwa Allah Swt. menciptakan manusia dalam dua jenis yang saling berpasangan, yaitu laki-laki dan perempuan.
“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah).” (QS Az-Zariyat: 49)
Selain itu, jelaskan bahwa perilaku LGBT dipandang bertentangan dengan ketetapan Allah Swt. dan termasuk perbuatan yang mendatangkan murka-Nya.
“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) ketika dia berkata kepada mereka, ‘Mengapa kamu melakukan perbuatan keji yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun sebelum kamu di dunia ini?'” (QS Al-A’raf: 80)
Marilah kita menanamkan kepada anak-anak sebagai generasi masa depan tentang hakikat cinta yang sesungguhnya, yaitu cinta yang lahir dari ketaatan kepada setiap aturan Allah Swt. dan Rasul-Nya. Wallahu a’lam bish-shawab.
Oleh: Suparti
(Sahabat Tinta Media)
![]()
Views: 6
















