Tinta Media – Saat ini, terdapat 20.000 sarjana menganggur di Tangerang Raya. Angka pengangguran tertinggi berada di Kota Tangerang. Data Job Fair Agustus 2026 menunjukkan kondisi yang mengejutkan. Dari 2.126 lowongan yang tersedia, hanya 60 lowongan yang diperuntukkan bagi lulusan S1. Sementara itu, lowongan untuk lulusan SMA/SMK mencapai 1.998. Banyak sarjana kurang menguasai keterampilan digital dan komunikasi sehingga mengalami kesenjangan keahlian (skill gap) dengan kebutuhan industri (tangerangnews.com, 24/8/2026).
Masalah Akibat Sistem Kapitalisme
Sistem ekonomi kapitalisme membawa dampak besar terhadap dunia pendidikan, terutama di tingkat perguruan tinggi. Saat ini, kuliah sering kali tidak lagi berfokus pada pengayaan ilmu, melainkan hanya untuk mencetak pekerja murah yang siap pakai demi keuntungan pemilik modal. Akibatnya, kampus dipaksa mengikuti kebutuhan pasar dan standar yang ditentukan perusahaan-perusahaan besar. Kurikulum pendidikan pun ikut berubah demi memenuhi kebutuhan industri tersebut.
Tantangan bagi para lulusan perguruan tinggi semakin berat ketika teknologi berkembang dengan sangat cepat. Perusahaan-perusahaan besar mulai menggantikan peran manusia dengan sistem otomatisasi dan kecerdasan buatan demi menghemat biaya operasional. Langkah efisiensi ini secara otomatis mengurangi jumlah tenaga kerja lulusan sarjana yang dibutuhkan di perkantoran. Dampaknya, angka pengangguran terdidik terus meningkat karena jumlah lapangan kerja yang tersedia tidak mampu menampung banyaknya lulusan baru. Situasi ini membuat persaingan dalam mencari pekerjaan semakin ketat dan memicu kecemasan di kalangan generasi muda.
Di sisi lain, pemerintah cenderung lepas tangan dalam mengatasi krisis lapangan kerja ini. Negara biasanya hanya bertindak sebagai fasilitator atau pembuat aturan yang mempermudah masuknya investasi swasta. Urusan jaminan kerja dan kesejahteraan buruh diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar bebas. Akibatnya, para sarjana harus berjuang sendiri untuk bertahan hidup tanpa adanya perlindungan kerja yang pasti dari negara.
Solusi Hakiki dari Sistem Islam
Solusi hakiki dari sistem Islam memberikan jawaban yang nyata, adil, dan menyeluruh terhadap problematika kesejahteraan masyarakat. Dalam pandangan Islam, negara mengemban kewajiban mutlak untuk mengurus seluruh urusan rakyat tanpa kecuali. Seorang pemimpin diharamkan lepas tangan atau berlepas diri dari tanggung jawab menyediakan jaminan hidup, termasuk memenuhi kebutuhan lapangan kerja bagi warganya.
“Tidaklah seorang hamba yang Allah serahi urusan memimpin rakyat, lalu ia mati pada hari kematiannya dalam keadaan menipu (menelantarkan) rakyatnya, melainkan Allah haramkan surga baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Negara secara aktif membuka lapangan kerja seluas-luasnya melalui strategi pengelolaan kekayaan alam secara mandiri dan berdaulat. Seluruh hasil tambang, hutan, dan sumber energi diklasifikasikan sebagai kepemilikan umum yang wajib dikelola langsung oleh negara. Seluruh hasilnya dikembalikan kepada rakyat dalam bentuk fasilitas atau pelayanan publik gratis. Di sisi lain, negara juga memberikan stimulasi ekonomi berupa bantuan modal usaha tanpa bunga (bebas riba), sekaligus membagikan tanah-tanah kosong milik negara agar dapat digarap secara produktif oleh masyarakat yang membutuhkan.
“Barang siapa yang memakmurkan (mengolah) tanah yang tidak dimiliki oleh siapa pun, maka ia lebih berhak atas tanah tersebut.” (HR. Bukhari)
Melalui kombinasi kebijakan tersebut, sektor ekonomi riil akan bergerak secara masif dan menyerap banyak tenaga kerja. Sistem ini menutup celah bagi praktik kapitalisasi yang hanya menguntungkan segelintir pemilik modal sehingga keadilan sosial yang hakiki dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Belajar untuk Beramal dan Mandiri
Islam mengubah tujuan pendidikan menjadi lebih bermakna karena pendidikan bukan sekadar untuk mendapatkan selembar ijazah. Melalui kurikulum yang terintegrasi, institusi pendidikan Islam mengajarkan keahlian praktis sekaligus pembentukan kepribadian Islam dan penanaman akhlak mulia. Tujuannya adalah menyiapkan para lulusan menjadi ahli yang benar-benar kompeten dan menguasai bidangnya secara mendalam (itqan).
“Sesungguhnya Allah mencintai jika seseorang di antara kalian mengerjakan suatu pekerjaan, ia melakukannya secara itqan (profesional, sempurna, dan mendalam).” (HR. Al-Baihaqi)
Secara mental, para sarjana didorong untuk memiliki jiwa mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Hal ini sejalan dengan ajaran Islam yang sangat memuji perdagangan serta kewirausahaan sebagai salah satu pintu rezeki.
“Pekerjaan apa yang paling baik?” Beliau menjawab: “Pekerjaan seseorang dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli (perdagangan) yang mabrur (jujur/bersih).” (HR. Al-Bazzar dan Ahmad)
Berbekal ilmu digital yang relevan dengan perkembangan zaman, sarjana muslim yang dilahirkan dalam sistem pendidikan Islam akan memiliki peluang besar untuk berinovasi dan menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat luas.
Khatimah
Banyaknya sarjana yang menganggur saat ini merupakan bukti nyata kegagalan sistem kapitalisme. Kuliah seharusnya tidak hanya bertujuan mencetak pekerja murah yang siap pakai demi keuntungan pemilik modal. Oleh karena itu, kita membutuhkan perubahan besar agar pemerintah benar-benar bertanggung jawab penuh dalam mengurus rakyatnya.
Dalam sistem Islam, negara akan membuka lapangan kerja secara luas dengan mengelola sendiri kekayaan alam secara mandiri. Para lulusan perguruan tinggi juga akan dididik agar berkepribadian Islam, berakhlak baik, memiliki keahlian nyata, dan bermental mandiri tanpa bergantung pada ijazah semata. Melalui solusi yang adil dan menyeluruh ini, masa depan generasi muda akan lebih terjamin dan terbebas dari rasa cemas. Wallahu a’lam bish-shawab.
Oleh: Hanum Hanindita, S.Si.
(Penulis Artikel Islami)
![]()
Views: 1





