Suahasil Gantikan Purbaya, Pergantian Menkeu RI Dinilai Tak Selesaikan Persoalan Ekonomi

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Suahasil Nazara resmi menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan Republik Indonesia (Menkeu RI). Namun, pergantian tersebut dinilai tidak menyelesaikan persoalan ekonomi Indonesia karena perubahan menteri tidak otomatis mengubah sistem ekonomi yang diterapkan.

“Jadi, Suahasil menggantikan Purbaya bukan berarti persoalan ekonomi Indonesia selesai,” tulis Jurnalis Senior, Joko Prasetyo, dalam tulisannya berjudul “Suahasil Jadi Menkeu, Jejak Ekonomi Liberal Menguat”, yang diterima Tinta Media pada Senin (14/9/2026).

Jurnalis yang akrab disapa Om Joy itu menyebut Suahasil bukan orang baru di Kementerian Keuangan. Selain menjabat Wakil Menteri Keuangan sejak 2019 dan sebelumnya memimpin Badan Kebijakan Fiskal (BKF), Suahasil juga merupakan salah satu figur yang dekat dengan Sri Mulyani.

Sejumlah rekam jejak Suahasil, ungkapnya, menunjukkan kuatnya pendekatan ekonomi kapitalistik, mulai dari pasar, investasi, perdagangan, sektor finansial, utang, hingga disiplin fiskal.

Sebelumnya, Om Joy menyebut Purbaya mengambil kebijakan yang lebih agresif untuk mendorong pertumbuhan, termasuk mengalihkan sekitar Rp200 triliun dana pemerintah dari Bank Indonesia ke sejumlah bank untuk mendorong kredit.

“Purbaya bukanlah sosok yang perlu dirindukan. Pergantiannya pun tidak otomatis membawa ekonomi Indonesia ke arah yang sesuai dengan syariah,” nilainya.

Om Joy menyoroti sejumlah kebijakan yang berkaitan dengan pasar, investasi, perdagangan, sektor finansial, dan utang dalam rekam jejak Suahasil.

Maka menurutnya, persoalan ekonomi Indonesia bukan hanya mengenai siapa yang menjadi menteri keuangan, tetapi juga sistem ekonomi yang menjadi landasan kebijakan.

Om Joy menjelaskan investasi dan perdagangan pada dasarnya dibolehkan dalam Islam, tetapi harus berada dalam batas syariah. Ia pun menyoroti penggunaan utang berbunga sebagai instrumen pembiayaan negara.

“Jika pembiayaannya menggunakan bunga, ada riba di dalamnya,” bebernya.

Di sisi lain, Suahasil disebut memprioritaskan kredibilitas APBN dan memastikan defisit tetap di bawah batas 3 persen PDB.

Om Joy menerangkan disiplin fiskal bukan persoalan dalam Islam, tetapi kerangka penerimaan, pengelolaan kekayaan negara, belanja, dan pembiayaannya harus dilihat dari kesesuaiannya dengan syariah.

Om Joy menegaskan bahwa pergantian Purbaya dengan Suahasil tidak akan mengubah persoalan mendasar karena keduanya dinilai bergerak dalam kerangka ekonomi yang sama-sama bukan ekonomi Islam, tetapi sistem ekonomi kapitalisme-sekuler.

“Maka, umat jangan berhenti pada pertanyaan siapa yang menjadi Menteri Keuangan?” catatnya.

Sebagai penutup Om Joy mengibaratkan bahwa fenomena pergantian pejabat sebagai pergantian masinis dan asisten masinis, sedangkan sistem pemerintahan dianalogikan sebagai kereta dan ideologi sebagai relnya.

“Masinis berulang kali berganti. Asisten masinis pun berganti lebih sering lagi. Namun, selama keretanya tetap sama dan relnya tidak berubah, perjalanan akan tetap mengikuti jalur tersebut,” tutupnya mengakhiri. [] Muhar

Loading

Views: 2

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA