Analis: Desa Paling Kaya Sumber Daya Justru Paling Menderita

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Analis Senior Pusat Kajian dan Analisis Data (PKAD) Fajar Kurniawan mengatakan bahwa desa yang paling kaya sumber daya justru paling menderita.
 
“Desa-desa yang paling kaya sumber daya justru jadi tempat yang paling menderita. Hutannya luas, laut lepas, tanah subur, tapi kok warganya miskin, kok anak-anak mudanya malah kabur ke kota” tuturnya dalam video Panorama Ekonomi Desa, Selasa (17/6/2025) di kanal YouTube Khilafah News.
 
Menurutnya, jawabannya ada di sistem ekonomi yang selama ini lebih senang mengeksploitasi daripada memelihara. Indonesia sudah terlalu lama bergantung sama ekonomi ekstraktif, model yang Cuma tahu satu hal. “Ambil sebanyak-banyaknya dari alam, kirim hasilnya keluar lalu tinggalin kerusakan buat masyarakat lokal,” ujarnya.
 
Ia menyebutkan bahwa berdasarkan data dari Center of Economic and Law Studies (Celios), dari 84.000 desa di Indonesia, ada 23.473 473 desa yang punya potensi restoratif yang tinggi. Karena itu desa-desa ada di sekitar kawasan hutan dan hampir 85% masyarakat desa masih tergantung langsung pada alam untuk hidup. “Tetapi bedanya gini, ekonomi restoratif itu seperti pinjam uang dari masa depan tanpa niat membalikkan. Hutan dibabat habis, sungai kering, tanah jadi tandus dan hasilnya desa makin rapuh dan ketimpangan makin dalam. Sementara itu ekonomi restoratif bekerja dengan logika yang betul-betul berbeda total,” bebernya.
 
“Bukan soal ambil sebanyak-banyaknya, tapi soal hidup yang seimbang. Ngambil sumber daya secukupnya sambil merawat dan mengembalikan apa yang sudah rusak. Ini bukan mimpi kosong kalau dijalankan dengan serius,” tegasnya.
 
Ia menilai bahwa ekonomi restoratif bisa hasilkan dampak ekonomi lebih dari 2.200 triliun selama 25 tahun dan mengurangi ketimpangan sosial sampai 15%. Menurut Ikra Agriugrah, peneliti yang fokus pada transformasi desa, kunci dari ekonomi restoratif itu ada di pendekatan lokal. “Jadi perlu mengubah relasi kuasa antara negara, pasar dan juga komunitas desa. Enggak bisa lagi Cuma dijadikan sebagai objek proyek, tetapi harus jadi subjek yang punya kendali,” terangnya.
 
“Tetapi masalahnya, sistem kita belum siap. Masih banyak petani yang enggak punya lahan sendiri. Akses ke modal dan pasar masih timpang dan generasi mudanya banyak yang mulai enggak percaya kalau bertani atau hidup di desa itu bisa jadi masa depan mereka,” paparnya.
 
Padahal, lanjutnya, dengan teknologi digitalisasi dan model bisnis yang adil, bisa menjadi ujung tombak ekonomi hijau yang berbasis komunitas. “Teman-teman, sekarang kita ada di titik kritis, mau terus jalan di ekonomi ekstraktif yang rusak dan ninggalin krisis buat generasi berikutnya, atau mulai investasi ke ekonomi restoratif yang bisa menghubungkan alam, sosial dan ekonomi jadi satu kesatuan yang utuh,” ungkapnya.
 
“Desa-desa kita bukan tempat tertinggal. Mereka adalah masa depan tapi masa depan itu enggak akan datang sendiri. Kita yang harus datangin dia, kalau kamu percaya masa depan harus dibangun dari bawah, dari desa, dari komunitas, yuk sebarkan narasi ini,” ajaknya.
 
“Karena masa depan yang adil dan lestari dimulai dari sekarang,” pungkasnya.[] Ajira

Views: 27

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA