Tinta Media – Ketua Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Salamuddin Daeng mengungkap penyebab fundamental APBN kere keriting.
“Apa penyebab paling fundamental APBN kere keriting? Karena sistem pengelolaan sumber daya alam yang tidak benar atau menyimpang dari konstitusi,” tuturnya kepada Tinta Media, Rabu (27/11/2024).
Menurutnya, negara tidak mendapatkan bagi hasil sumber daya alam. Negara hanya memungut pajak ala kadarnya atas kegiatan eksploitasi sumber daya alam. “Seharusnya negara mendapatkan bagi hasil, bukan pungut pajak,” ujarnya.
Sekarang, lanjutnya, negara mendapatkan sedikit sekali hasil dari eksploitasi SDA, sementara pemilik modal asing dan kroninya mendapatkan sangat banyak. “Keuntungan mereka atas eksploitasi SDA melimpah ruah,” tandasnya.
Ia menambahkan, bukan hanya APBN yang kere, namun rakyat juga keriting, disebabkan oleh sistem ekonomi Indonesia yang sampai saat ini menganut model sistem ekonomi lintah darat. “Terlalu banyak menghisap ke dalam tubuh rakyat sendiri,” tamsilnya.
“Melalui apa? Dua kebijakan utama yakni pajak terhadap kegiatan sehari hari masyarakat seperti orang makan minum dipalaki, belanja kebutuhan sehari hari dipajaki, usaha kecil kelontongan dipajaki,” tukasnya.
Ia mengatakan bahwa semua ini yang menyedot uang yang beredar dalam Masyarakat, sehingga uang beredar yang sangat kecil juga disedot dengan ‘vacuum cleaner.’
“Apalagi model ekonomi lintah darat ini? Yakni bunga yang sangat menghisap darah rakyat. Bunga bank mencekik, mengapa? Karena bunga surat utang negara lebih tinggi,” jelasnya.
Ia menyebut bahwa uang mengalir ke bank dan mengalir ke surat utang negara. “Lama-lama masyarakat tidak memiliki sisa uang di rekening, saldo nol, tidak bisa belanja. Lalu berutang ke dalam sistem pinjaman online untuk mendapatkan uang untuk membeli sesuap nasi setiap hari. Ini yang membuat ekonomi kere keriting,” pungkasnya.[] Ajira
![]()
Views: 7









