Bergabungnya Indonesia dalam BoP Justru Melegitimasi Penjajahan

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Pemimpin Redaksi (Pemred) Majalah Al-Wa’ie Farid Wadjdi menilai, bergabungnya penguasa negeri-negeri Islam, termasuk Indonesia, dalam Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) bentukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump justru melegitimasi penjajahan Zionis Yahudi.

“Palestina itu tetap dijajah, pembunuhan terus berlangsung sampai sekarang ini. Sementara bergabungnya penguasa-penguasa negeri Islam termasuk Indonesia dalam Board of Peace justru melegitimasi penjajahan itu. Ini yang paling berbahaya,” terangnya dalam wawancara di Radio Dakta, Rabu (4/2/2026).

Menurut Farid, kendali utama dalam struktur BoP pada level pertama, ada Donald Trump (pem- backup penjajahan Zionis Yahudi, pemilik hak veto penuh), Marco Rubio (Menlu AS, yang menolak pengakuan negara Palestina), Steve Whitcock (utusan khusus AS, pengusaha real estate), Jared Kushner (arsitek normalisasi dengan Israel) dan Tony Blair (tokoh berdarah dibalik invasi Irak). Mereka semua pendukung penjajahan Zionis Yahudi.

“Sementara, negara-negara lain itu masuk pada level kedua yang disebut dengan Dewan Eksekutif Gaza. Di situlah ada beberapa pemerintahan negeri-negeri Islam, seperti Qatar, Mesir, Uni Emirat Arab, termasuk Indonesia. Dan level kedua ini yang masuk dalam Dewan Eksekutif Gaza ini tidak bisa memberikan keputusan,” jelasnya.

Sementara, lanjutnya, di level ketiga diisi teknokrat dari Palestina yang tidak memiliki kewenangan politik.

“Artinya apa? Kalau kita lihat dari struktur ini, maka keberadaan negara-negara lain, termasuk Indonesia, itu tidak akan bisa mempengaruhi level pertama yang menentukan. Apalagi Donald Trump itu sudah memiliki hak veto,” simpulnya.

Lebih lanjut Farid mengemukakan, menilik catatan dari beberapa resolusi perdamaian yang telah dilakukan selama ini seperti perjanjian: Madrid, Oslo, Camp David, dan lain sebagainya, tidak pernah menghasilkan perdamaian. Sebaliknya, justru mengokohkan penjajahan dan semua perjanjian dilanggar.

“Banyak perdamaian yang sudah dilakukan mulai ada perjanjian Madrid, Oslo, Camp David, dan sebagainya. Semua perjanjian damai itu banyak dilanggar oleh Israel dan justru lebih mengokohkan entitas penjajah Yahudi ini,” tegasnya.

Farid memberikan catatan lain, di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang anggotanya hampir semua negara saja, tidak bisa mempengaruhi Amerika dengan hak vetonya, apalagi BoP yang hanya beberapa negara.

“Di PBB saja, yang mayoritas situ adalah negara-negara di seluruh dunia, itu tidak bisa mempengaruhi Amerika. Karena Amerika itu memiliki apa yang disebut dengan hak veto. Apalagi ini beberapa negara saja, dan negara-negara ini dikenal tunduk kepada Amerika,” ungkapnya.

Jadi, cetus Farid, bagaimana bisa dikatakan Indonesia di BoP akan mempengaruhi Amerika Serikat.

Ia pun sangat menyayangkan kehadiran ormas-ormas Islam (di Indonesia) di Istana Negara, Jakarta, pada Selasa (3/2/2026) yang bahkan kemudian memberikan dukungan bergabungnya Indonesia ke dalam BoP dengan alasan kemaslahatan.

“Di mana letak kemaslahatannya? Ini jadi pertanyaan besar. Apalagi, kalau kita berpegang teguh pada syariat Islam, jelas bertentangan.” Pungkasnya mengakhiri.[] Imam Wahyono

Loading

Views: 5

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA