Tinta Media – Penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro yang dilakukan oleh Donald Trump dinilai Pengamat Internasional Budi Mulyana sebagai peristiwa yang paling dramatis di awal tahun 2026.
“Penangkapan Nicolás Maduro yang dilakukan Trump merupakan peristiwa yang paling dramatis di awal tahun 2026 ini,” ujarnya kepada Tinta Media, Jumat (9/1/2026).
Menurutnya, penangkapan kepala negara oleh negara lain, tentunya menimbulkan kontroversi secara internasional.
“Di satu sisi Amerika berkilah ini adalah bagian dari yurisdiksinya untuk menangani narkoterorisme, dan menganggap Maduro adalah pemimpin ilegal yang memanipulasi pemilu tahun 2024. Amerika juga menyandarkan pada pasal 51 Piagam PBB (hak untuk membela diri) sebagai tameng hukum, walau belakangan, Trump semakin tidak peduli dengan apa namanya Hukum Internasional” bebernya.
Empat Alasan
Menurutnya, alasan utama penangkapan Nicolás Maduro oleh pemerintahan Donald Trump pada awal Januari 2026 didasarkan pada serangkaian tuduhan kriminal berat dan strategi kebijakan luar negeri Amerika Serikat.
Ia menjelaskan empat alasan utama Trump tangkap Maduro. Pertama, tuduhan narkoterorisme dan kriminalitas. Kedua, isu legitimasi dan keamanan nasional. Ketiga, kepentingan strategis dan ekonomi. Keempat, penegakan ‘peace through strength’.
Pertama, kaitan dengan tuduhan narkoterorisme dan kriminalitas, Budi memaparkan, pemerintah AS, melalui Jaksa Agung Pam Bondi, menyatakan bahwa Maduro telah didakwa secara resmi di pengadilan federal New York. “Tuduhan tersebut meliputi, pertama konspirasi narkoterorisme, Maduro dituduh memimpin kartel narkoba bernama “Cartel de los Soles”. Kedua, impor kokain. Tuduhan bahwa ia bekerja sama dengan kelompok gerilya untuk menyelundupkan berton-ton kokain ke Amerika Serikat. Ketiga, kepemilikan senjata. Dakwaan terkait kepemilikan senapan mesin dan perangkat destruktif untuk melindungi operasi narkobanya,” bebernya.
Kedua, terkait isu legitimasi dan keamanan nasional, Budi menjelaskan, Trump menyatakan bahwa penangkapan ini adalah bagian dari upaya melindungi Amerika dari ancaman keamanan yang berasal dari Venezuela. “Pemilu yang tidak sah. AS menganggap Maduro sebagai pemimpin ilegal karena menilai pemilu Venezuela pada Juli 2024 penuh manipulasi dan tidak adil. Krisis fentanil dan migrasi. Trump menghubungkan rezim Maduro dengan ancaman narkoba dan migrasi ilegal yang masuk ke wilayah AS,” terangnya.
Ketiga, kepentingan strategis dan ekonomi. Adanya motif ekonomi di balik operasi militer ini. “Pertama, penguasaan cadangan minyak. Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia. Trump secara terbuka menyatakan keinginannya agar perusahaan minyak besar AS masuk untuk merehabilitasi dan mengelola industri minyak di sana. Kedua, Doktrin Monroe. Trump menghidupkan kembali “Doktrin Monroe” untuk menegaskan kembali dominasi penuh Amerika Serikat di Belahan Bumi Barat dan menyingkirkan pengaruh negara-negara seperti Rusia, Cina, dan Iran di kawasan tersebut,” jelasnya.
Keempat, penegakan “Peace through Strength”. Secara politis, Trump menggunakan operasi ini (yang diberi nama Operation Absolute Resolve) sebagai bukti nyata dari kebijakan luar negerinya yang agresif untuk menunjukkan kekuatan militer AS di mata dunia. Menjadi realisasi dari pengubahan nama Department of Defence menjadi Department of War.
Maduro sendiri, lanjutnya, dalam persidangan di Manhattan, membantah semua tuduhan tersebut dan menyatakan bahwa dirinya adalah korban penculikan serta berstatus sebagai “tawanan perang”.
Pentingnya Khilafah
Budi memandang apa yang dilakukan Trump terhadap Maduro, yang notabene seorang kepala negara berdaulat, menggambarkan keberadaan Amerika Serikat sebagai negara adidaya (yang) menunjukkan arogansi dan kesewenangannya.
“Bahkan melabrak apa yang disebut sebagai hukum internasional, yang mereka buat sendiri untuk mengatur interaksi negara-negara di dunia. Namun dengan segala kepentingannya, Amerika Serikat tidak peduli dengan itu semua,” kritiknya.
Inilah pentingnya hadir adidaya Islam yang membawa keadilan dan kebaikan. “Itu yang diemban oleh Khilafah Islam yang membawa rahmatan lil alamin. Akan menjadi lawan yang sepadan dalam melawan arogansi dari Amerika Serikat,” pungkasnya.[] ‘Aziimatul Azka
![]()
Views: 56
















