Tinta Media – Cendekiawan Muslim Ustadz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) menilai berdirinya Board of Peace (BoP) mencerminkan terjadinya pergeseran fundamental tatanan dunia.
“Satu hal yang langsung terlihat dari berdirinya BoP adalah terjadinya pergeseran yang fundamental tatanan dunia dari Rule Based Order (RBO) atau tatanan berbasis aturan menjadi Force Based Order (FBO) atau tatanan berbasis kekuatan,” ujarnya dalam Focus to The Point: Board of Peace, Akankah Membawa Perdamaian? Di kanal YouTube UIY Official, Ahad (1/2/2026).
UIY menjelaskan bahwa RBO berarti hubungan antarnegara dibangun berdasarkan kesepakatan, regulasi, dan hukum internasional, meski di dalamnya masih terdapat kekurangan dan ketimpangan.
“Dalam situasi berbasis aturan saja dunia tidak adil. Lihat saja, lebih dari 33 resolusi yang berkenaan dengan Israel diacuhkan, tindakan internasional terhadap Israel begitu mudah diveto. Apalagi dari RBO menuju FBO, pasti lebih tidak adil,” bebernya.
Dunia saat ini, lanjutnya, di bawah kendali negara yang merasa kuat yaitu Amerika Serikat dengan Presidennya, Donald Trump.
“Lihat saja Trump yang merasa bisa bertindak melakukan apa saja yang dimaui mulai dari menangkap Presiden Venezuela, mengancam ambil Greenland, dan mengancam Iran. Jadi BoP itu sesungguhnya adalah konfirmasi terhadap pergeseran berbasis aturan menjadi kekuatan,” tandasnya.
Tentu, kata,UIY, kita melihat BoP sebagai Dewan Perdamaian. Tapi, ungkapnya, yang memimpin adalah orang yang menimbulkan kegaduhan, ketidakperdamaian, ketidakpatuhan yang ini menunjukkan bahwa BoP bermasalah sejak awal.
“Apalagi BoP ditujukan untuk rekonstruksi Gaza, tidak disinggung tentang kemerdekaan bagi rakyat Palestina. Bahkan tidak disinggung nasib orang-orang Palestina. Yang ada adalah Gaza harus direkonstruksi, tapi seolah-olah di Gaza tidak pernah terjadi apa-apa dan tidak ada apa-apa,” tambahnya prihatin.
Jika melihat rancangan rekonstruksi Gaza, paparnya, tampak sekali Gaza ke depan yang dimaui adalah Gaza dalam angan-angan Trump, yaitu Gaza yang ‘property oriented’, menghilangkan nature/alamiah Gaza, dan tidak membicarakan di mana penduduk Gaza akan tinggal.
“Saya kira ini masalah perspektif yang harus diambil adalah perspektif konstitusi, di mana penjajah di dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Kenapa bukan itu yang diambil?” ujarnya retorik.
Sedangkan, tegas UIY, Islam menyatakan bahwa kezaliman tidak boleh dibiarkan, apalagi ada penjajah dan perampas.
“BoP itu sepenuhnya menjaga kepentingan Israel (selaku penjajah),” pungkasnya. [] Erlina
![]()
Views: 2
















