ABI: Bukan Bendera One Piece tapi One Ummah

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Meski dianggap melambangkan impian dan kebebasan, yang harus terus disuarakan dan diperjuangkan Muslim bukanlah bendera One Piece tetapi one ummah yang berarti persatuan umat di bawah satu kepemimpinan Islam.

“Bukan One Piece, tetapi one ummah (satu umat) di bawah satu kepemimpinan khilafah,” ujar Khadim Ma’had Wakaf Darun Nahdhah al-Islamiyah Bogor Ustadz Arief B. Iskandar (ABI) dalam siaran pers yang diterima media-umat.com, Ahad (10/8/2025).

Sebab, menurutnya, bendera inilah yang menjadi simbol perlawanan hakiki terhadap dominasi dan hegemoni kapitalisme global yang terbukti rusak dan telah menciptakan berbagai kerusakan di muka bumi.

Adalah bendera atau panji yang digunakan oleh Nabi Muhammad SAW, yang dalam ajaran Islam disebut al-liwa (bendera putih dengan tulisan lafaz tauhid berwarna hitam), dan ar-rayah (bendera hitam dengan tulisan lafaz tauhid berwarna putih).

Kata ABI, kedua panji ini bukan sekadar bendera, tetapi juga simbol persatuan, identitas, dan yang lebih penting bagian dari ajaran Islam. Bahkan penggunaan panji-panji ini dalam sejarah Islam, termasuk dalam masa Nabi Muhammad dan para Khulafaur Rasyidin, menunjukkan pentingnya mereka sebagai penanda.

Maka, umat mesti menelaah terlebih dahulu terhadap suatu simbol yang sekalipun melambangkan impian dan kebebasan. Jika tidak, umat bakal mengaburkan cahaya Islam dalam hatinya. “Jika kita bangga dengan bendera yang kelam, bisa jadi kita telah mengaburkan cahaya Islam dalam hati kita sendiri,” tuturnya.

Viral di media sosial akhir-akhir ini, bendera bajak laut dalam cerita anime One Piece, bergambar tengkorak dengan tulang bersilang, dihiasi topi jerami atau atribut lain, menjadi ikon yang nyaris disakralkan.
Oleh para penggemar anime One Piece tentu amat mengenal bendera bajak laut tersebut, dan dikenal sebagai Jolly Roger.

Bukan Pengingat Kematian

Tetapi sayang, kata ABI lebih lanjut, kekaguman dimaksud hanya sebagai identitas dan kebanggaan, bukan sekaligus menjadi pengingat kematian seperti disyaratkan dalam aktivitas ziarah kubur.

Kendati demikian, bukan berarti menonton atau menikmati kisah fiksi One Piece tidak boleh, tetapi rasa bangga maupun cinta terhadap simbol yang bertentangan dengan Islam bisa menggiring pada dosa.

“Bangga dan cinta terhadap simbol selain Islam atau bahkan bertentangan dengan Islam bisa menggiring kita pada dosa,” kata ABI, seraya menyebut kebanggaan ini secara tak langsung juga menunjukkan kontribusi dalam hal syiar-syiar jahiliah.

Artinya, seorang Muslim harus menyaring terlebih dahulu setiap nilai dan simbol dari budaya populer, dan tidak boleh menelan semuanya mentah-mentah.

Apalagi, sebagaimana akidah umat Islam, bukanlah bendera tengkorak yang ‘menyelamatkan’ di akhirat kelak, tetapi bendera tauhid, dalam hal ini Panji Rasulullah SAW, satu-satunya harapan untuk memperoleh ridha dan ampunan Allah SWT di akhirat kelak.

Lebih jauh, umat Islam saat ini bukan hanya ditantang oleh simbol-simbol budaya pop yang bertentangan dengan akidah, tetapi juga oleh sistem penjajahan modern yang lebih besar yakni kapitalisme.

“Ideologi ini (kapitalisme) tidak hanya mengatur ekonomi dunia, tetapi juga menyusup dalam politik, pendidikan, budaya, bahkan cara berpikir umat Islam sendiri,” ulas ABI.

Karenanya, wajib bagi umat untuk melakukan perlawanan terhadap penjajahan kapitalisme dalam segala aspek. Di antaranya, selain ideologi ini sekuler, di dalamnya terdapat sistem politik demokrasi yang sangat jelas tidak menerima hukum-hukum Allah SWT secara keseluruhan.

Terlebih, sistem ekonominya tak lepas dari ribawi yang bersifat menindas serta memiskinkan. Pun di dalamnya sarat budaya liberal yang merusak akhlak generasi.
Di sinilah, kata ABI kembali menegaskan, umat membutuhkan kekuatan berupa persatuan untuk berjuang melawan penjajahan kapitalisme.

Dan yang tak kalah pentingnya adalah berjuang mengembalikan seluruh kehidupan umat ini di bawah naungan Islam, dengan menegakkan kembali Khilafah Rasyidah ‘ala minhaj an-nubuwwah.

Sebab dengannya, umat tak berhenti pada upaya menyaring tontonan atau mengkritik simbol budaya. Tetapi, Khilafah akan menghapus simbol-simbol batil dari ruang publik. Berikutnya, tentu mengembalikan dan menjaga kehormatan syiar-syiar Islam, serta mempersatukan negeri-negeri Muslim untuk kemudian menerapkan keseluruhan hukum Allah SWT.

Dengan kata lain, kedua bendera inilah yang sejatinya layak dibela bahkan dengan harta maupun nyawa sekalipun. “Bukan bendera bajak laut fiksi, bukan ideologi buatan manusia. Namun sistem yang diwariskan oleh Rasulullah SAW dan para Khulafaur Rasyidin,” pungkasnya.[] Zainul Krian

Views: 33

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA