Tinta Media – Momen peringatan HUT Kemerdekaan RI biasanya identik dengan gegap gempita, parade bendera Merah Putih, dan upacara kenegaraan. Anehnya, tahun ini justru diwarnai oleh seruan yang tak biasa, yaitu mengibarkan bendera bajak laut dari anime legendaris One Piece. Sekilas, tindakan ini mungkin dianggap nyeleneh, bahkan sebagian orang bisa saja menilainya sebagai sikap tidak menghormati kemerdekaan.
Firman Soebagyo, Anggota DPR dari Fraksi Partai Golkar, menilai pengibaran bendera bajak laut dari serial anime One Piece sebagai tindakan pembangkangan terhadap negara yang bersifat provokatif dan berpotensi memecah belah persatuan bangsa.
Sejalan dengan pandangan tersebut, Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, juga memandang fenomena maraknya pengibaran bendera One Piece sebagai bentuk gerakan yang berlawanan dengan pemerintah. (Kompas.com, 01/08/2025)
Namun, jika ditelisik lebih mendalam, gerakan ini adalah bentuk ekspresi kekecewaan rakyat terhadap ketidakadilan yang semakin terasa. Sebagaimana logo topi jerami pada bendera One Piece (Jolly Roger) yang berarti kebebasan, solidaritas, dan perjuangan. Ini mewakili suara hati rakyat.
Seruan tersebut bukanlah bentuk makar. Justru, ia lahir dari rasa cinta rakyat kepada negaranya. Cinta yang membuat mereka tidak rela melihat Indonesia terus dirundung penderitaan akibat ulah segelintir elite yang memonopoli kekuasaan dan sumber daya alam. Sama seperti kisah One Piece, di mana bajak laut Topi Jerami berlayar melawan sistem dunia yang korup.
Secara hukum, bangsa ini telah merdeka sejak 17 Agustus 1945. Namun, merdeka di atas kertas berbeda dengan merdeka dalam realitas hidup sehari-hari. Faktanya, rakyat masih diimpit oleh kebijakan yang condong menguntungkan kelompok elite. Kesenjangan sosial semakin lebar, harga kebutuhan pokok melambung, dan lapangan pekerjaan berkualitas sulit didapat. Sementara itu, kekayaan alam negeri ini terus mengalir keluar melalui mekanisme yang dilegalkan oleh peraturan dan perjanjian internasional yang sering kali merugikan rakyat sendiri.
Kondisi ini selaras dengan sistem World Government dalam One Piece yang mengatur dunia dengan hukum-hukum yang tampak rapi, namun sejatinya melindungi kepentingan segelintir pihak. Korupsi, kolusi, dan penindasan dilembagakan. Rakyat hanya menjadi penonton, bahkan objek eksploitasi.
Jika ditelusuri, akar dari segala ketimpangan ini adalah penerapan sistem kapitalisme. Sistem ini menempatkan keuntungan sebagai tujuan utama, walaupun harus mengorbankan kesejahteraan rakyat. Kebijakan publik dibentuk untuk memfasilitasi pemodal besar, bukan untuk memenuhi kebutuhan rakyat. Dalam kapitalisme, kekuasaan dan kebijakan cenderung berada di genggaman mereka yang memiliki uang dan akses politik.
Kondisi ini bukan hanya masalah individu yang korup, melainkan masalah struktural. Selama sistem yang diterapkan adalah buatan manusia yang mengabaikan aturan Sang Pencipta, maka kesenjangan dan ketidakadilan akan terus berulang.
Kita selaku umat Muslim perlu menyadari bahwa Islam tidak hanya datang sebagai ajaran spiritual yang mengatur ibadah pribadi, tetapi juga sebagai sistem hidup yang mengatur seluruh aspek kehidupan mulai dari ekonomi, politik, hukum, pendidikan, hingga hubungan internasional. Penerapan syariat Islam secara kaffah akan menghapus ketidakadilan struktural karena sistem ini berlandaskan pada keadilan, kemaslahatan, dan larangan keras terhadap eksploitasi.
Sejarah membuktikan, ketika Islam diterapkan secara menyeluruh di bawah naungan Khilafah, umat Islam pernah menjadi khairu ummah (umat terbaik) yang memimpin peradaban dunia dengan keadilan dan kesejahteraan yang dirasakan oleh seluruh warga, baik Muslim maupun nonmuslim. Kekayaan alam dikelola untuk kepentingan rakyat, bukan dikuasai oleh korporasi asing. Keadilan ditegakkan tanpa memandang status sosial.
Kesadaran rakyat yang mulai tumbuh saat ini adalah modal berharga. Namun, kesadaran itu harus diarahkan kepada perjuangan hakiki. Bukan hanya mengibarkan simbol perlawanan, melainkan membangun gerakan yang terarah, terukur, dan berbasis pada ideologi yang benar. Dakwah dan advokasi perubahan sistem harus menjadi prioritas, agar negeri ini terbebas dari jerat kapitalisme dan berpindah kepada penerapan sistem Islam yang menyeluruh.
Maka, bendera bajak laut One Piece yang berkibar menjelang HUT ke-80 RI menjadi pengingat bahwa perjuangan melawan ketidakadilan tidak cukup hanya dengan protes simbolis saja. Perjuangan itu harus bermuara pada perubahan sistem menuju tatanan yang adil dan diridai Allah Swt. Wallahualam bissawab.
Oleh: Sabna Balqist Budiman
Sahabat Tinta Media
Views: 42













