Tujuan dari Shaum adalah Ketakwaan

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Cendekiawan Muslim Ustadz Rahmat Kurnia menegaskan bahwa tujuan dari shaum (berpuasa) di bulan Ramadhan adalah ketakwaan.
 
“Clear goal setting dari shaum adalah laallakum tattaquun (agar kalian bertakwa) bukan agar kurus (slim). Bukan agar sehat, bukan agar segar. Tetapi yang dikejar oleh orang-orang yang beriman yang shaum di bulan Ramadhan adalah ketakwaan,” tuturnya dalam segmen Fajar Ramadhan: Takwa yang Melahirkan Kepedulian terhadap Penderitaan Umat, di kanal Youtube One Ummah TV, Rabu (4/3/2026).
 
Menurutnya, takwa itu bukan label. “Takwa itu bukan cap. Tetapi takwa itu adalah sebuah energi yang menggerakkan, karena dia adalah berupaya sekuat tenaga taat kepada perintah-perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan taat menjauhi seluruh larangan-larangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” jelasnya.
 
“Lalu kita bicara takwa. Manusia di alam raya ini, yang paling bertakwa adalah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam. Kita lihat Rasulullah sebagai sosok yang paling takwa, sebagai suri tauladan kita. Beliau, ternyata di samping ibadahnya rajin, saumnya rajin, zikirnya luar biasa, baca Qurannya juga banyak dan seterusnya. Tetapi beliau juga peduli kepada umatnya. Siang maupun malam beliau memikirkan umatnya bahkan hingga menjelang wafatnya,” bebernya.
 
Ia menyampaikan hadits Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yang artinya, “Barang siapa yang bangun pagi-pagi lalu ia tidak memikirkan, tidak peduli, cuek terhadap urusan kaum muslimin, seakan-akan dia bukan dari golongan kaum muslimin.”
 
“Ini adalah ancaman yang luar biasa bagi kita yang ingin bertakwa tetapi kita abai terhadap kepentingan kaum muslimin,” terangnya.
 
Ia menegaskan bahwa Rasulullah Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam, orang yang paling takwa. “Beliau sangat memperhatikan urusan kaum Muslimin. Begitu juga dengan sahabatnya,” tegasnya.
 
Ia mengisahkan bahwa sahabat Umar bin Khattab, suatu waktu melakukan inspeksi, terdengarlah rengekan anak yang menangis. “Pas ditemui, ternyata seorang ibu sedang memasak air yang kosong untuk menenangkan anaknya dengan harapan yang hampa. Melihat itu, Umar bin Khattab masuk ke Baitul Mal dan memanggul, memikul gandum, membawa minyak  samin dan sebagainya. Lalu ada sahabat lain mengatakan, ‘Wahai Umar, aku yang gendong, Masa sang khalifah menggendong’. Apa kata Umar? Apakah engkau akan menanggung dosaku nanti di hadapan Allah Subhanahu wa taala?” Tuturnya.
 
“Ini adalah bukan pencitraan, tetapi ini adalah takwa. Ini adalah buah dari ketakwaan. Yakni peduli kepada urusan umat. Perhatian terhadap urusan umat,” tandasnya.[] Ajira
 

Loading

Views: 21

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA