Tinta Media – Cendekiawan Muslim Ustadz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) menilai, kunci ketaatan kepada Allah SWT terletak pada kemauan.
“Bila (pada Bulan Ramadhan) meninggalkan yang halal saja bisa, apalagi yang haram, tentu lebih bisa lagi. Apa kuncinya? Kuncinya adalah kemauan,” tuturnya dalam kajian bertajuk “Puasa dan Mastering Habbits” yang ditayangkan di kanal YouTube UIY Official, pada Ahad (29/3/2026).
UIY menjelaskan bahwa ajaran Islam pada dasarnya mudah dijalankan selama ada kemauan dari individu. Ia mengutip Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 185 untuk menegaskan hal tersebut.
“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu,” kutipnya.
Ia menilai, tidak ada yang sulit dalam menjalankan perintah agama jika dipahami dengan benar.
“Coba kalau kita pikir-pikir, apa yang berat, dan apa yang sulit? Gak ada!” tegas UIY.
Sebagai contoh, UIY menyebut ibadah puasa hanya mengurangi satu dari tiga kali kebiasaan makan harian. Sahur disamakan dengan sarapan yang dimajukan, sementara berbuka puasa menjadi waktu makan malam.
“Puasa itu kan hanya mengurangi satu dari tiga kali kesempatan makan kita,” ujarnya.
Menurutnya, Allah tidak menetapkan agama untuk memberatkan manusia.
“Agama kita ini ditetapkan oleh Allah memang tidak untuk memberatkan manusia,” ucapnya.
Ia juga mengutip Al-Qur’an surat Al Hajj ayat 78 untuk memperkuat argumennya.
“Dan tidaklah aku jadikan bagi kalian itu di dalam agama ini kesulitan, kesempitan, enggak ada,” terangnya.
UIY menambahkan bahwa seluruh kewajiban dalam Islam tidak melampaui batas kemampuan manusia.
“Allah itu zat yang menciptakan manusia , maka Allah pulalah yang tahu persis, batas kemampuan manusia. Dan seluruh kewajiban agama itu, jauh di bawah ambang batas kemampuan manusia,” tukasnya.
Meski demikian, UIY mempertanyakan mengapa masih banyak orang meninggalkan kewajiban agama.
“Itu menunjukan bahwa bukan soal kemampuan saja, tapi juga kemauan,” tandasnya.
“Bila kewajiban agama itu ringan dan mudah, kenapa kok masih saja banyak yang tidak melaksanakan kewajiban agama itu?” lanjutnya.
Ia juga mencontohkan kemudahan dalam pelaksanaan salat yang dapat disesuaikan dengan kondisi seseorang.
“Awalnya kita bisa, harus berdiri, kalau tidak bisa berdiri dengan duduk, kalau tidak bisa duduk dengan berbaring, begitu seterusnya. Kenapa kok masih banyak yang tidak mau melaksanakan kewajiban agama,” tegas UIY.
Lebih lanjut, UIY memberikan perbandingan bahwa meninggalkan perbuatan terlarang tidak membutuhkan kemampuan khusus.
“Untuk tidak minum-minuman keras, tidak diperlukan kemampuan, untuk minum minuman keras malah diperlukan kemampuan. Karena mahal,” contohnya.
Ia juga menyinggung praktik korupsi yang justru membutuhkan kemampuan tertentu, termasuk posisi jabatan.
” Untuk korupsi perlu kemampuan paling tidak jabatannya juga ya harus tinggi,” tutur UIY.
Menutup pernyataannya, UIY menegaskan bahwa Ramadhan menjadi momentum pelatihan untuk membangun kemauan dalam ketaatan.
“Jadi sepanjang bulan Ramadhan itu, kita itu dilatih oleh Allah swt, apa? Kemauan untuk taat,” pungkasnya.[] Teti Rostika
![]()
Views: 10






