Tinta Media – Bulan Rajab merupakan salah satu bulan yang dimuliakan oleh Allah Swt. Di dalamnya terdapat peristiwa istimewa yang diperingati oleh umat Islam, yaitu peristiwa Isra Mikraj. Isra adalah perjalanan Nabi Muhammad saw. dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Mikraj adalah perjalanan spiritual menuju langit ketujuh hingga sidratulmuntaha untuk menerima perintah salat lima waktu. Perjalanan ini merupakan hadiah dari Allah Swt. setelah Nabi Muhammad saw. menghadapi ujian bertubi-tubi, yaitu wafatnya istri tercinta, Siti Khadijah, serta pamannya yang senantiasa membela dan melindunginya, Abu Thalib. Oleh karena itu, tahun tersebut dikenal sebagai ‘am al-huzn atau tahun kesedihan Rasulullah saw.
Pesan inti dari peristiwa Isra Mikraj adalah perintah salat yang Allah Swt. wajibkan secara langsung kepada Nabi Muhammad saw. tanpa perantara. Hal ini menunjukkan bahwa salat merupakan fondasi utama umat Islam dalam membangun ketakwaan dan meraih keberkahan. Namun, lebih dari itu, terdapat hikmah besar di balik perjalanan Isra Nabi Muhammad saw. Ketika Nabi Muhammad saw. tiba di Masjidil Aqsa, Malaikat Jibril meminta beliau menjadi imam salat, sementara di belakangnya berdiri ruh-ruh para nabi terdahulu. Peristiwa ini menggambarkan bahwa Nabi Muhammad saw. adalah pemimpin para nabi sekaligus pemimpin umat manusia di seluruh penjuru dunia.
Selain itu, pada bulan Rajab juga terjadi peristiwa Baiat Aqabah Kedua, yaitu perjanjian penting antara Nabi Muhammad saw. dan delegasi penduduk Yatsrib (Madinah) di Bukit Aqabah. Peristiwa ini menjadi tonggak dukungan dan perlindungan terhadap Nabi Muhammad saw., sekaligus membuka jalan bagi hijrah dan berdirinya negara Islam pertama di Madinah.
Rangkaian peristiwa tersebut menjelaskan bahwa bulan Rajab dan perjalanan Isra Mikraj bukan sekadar perjalanan spiritual, melainkan gerbang menuju perubahan umat secara ideologis serta langkah awal pembentukan negara Islam (Khilafah).
Rasulullah saw. adalah nabi yang mulia sekaligus pemimpin dunia. Pada masa kepemimpinannya, terbentuk institusi besar untuk menerapkan syariat yang Allah Swt. turunkan bagi umat manusia. Setelah wafatnya Rasulullah saw., kepemimpinan dilanjutkan oleh Khulafaur Rasyidin. Bahkan, ketika Rasulullah saw. wafat, jenazah beliau tidak langsung dimakamkan karena para sahabat terlebih dahulu bermusyawarah untuk menentukan siapa yang pantas menjadi pengganti beliau. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya keberadaan seorang pemimpin. Satu malam tanpa pemimpin merupakan kondisi yang sangat buruk.
Syekh al-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Enam puluh tahun bersama pemimpin yang zalim lebih baik daripada satu malam tanpa pemimpin.” (Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyah, 1/547–548)
Namun, kenyataannya, sudah 105 tahun umat Islam hidup tanpa pemimpin yang menerapkan syariat Allah Swt. Sejak 3 Maret 1924, Khilafah diruntuhkan oleh penjajah kafir dengan bantuan orang munafik, Mustafa Kemal Atatürk. Sejak saat itu, umat Islam tidak lagi memiliki perisai dan pelindung. Yang tersisa hanyalah kezaliman yang terus berlangsung hingga kini. Tanpa perisai tersebut, negeri-negeri muslim terpecah menjadi sekitar 55 negara yang lemah, terjajah, dan dikendalikan oleh negara-negara kuat. Salah satu contohnya adalah kezaliman yang menimpa umat Islam di Palestina, Sudan, dan Rohingya yang masih terus terjadi hingga hari ini. Padahal, Palestina dahulu merupakan tanah para nabi yang penuh keberkahan dan ketenangan, tanah yang dibebaskan oleh Umar bin Khaththab tanpa peperangan. Kini, semua itu tinggal sejarah selama belum ada Khilafah yang membebaskannya kembali.
Kekosongan kepemimpinan yang menerapkan syariat Allah Swt. selama 105 tahun kemudian diisi oleh sistem kufur yang ditawarkan oleh kaum penjajah. Sistem kapitalisme yang dipimpin oleh Amerika Serikat berdiri di atas asas sekularisme, yaitu pemisahan agama dari kehidupan. Sistem ini hanya berorientasi pada keuntungan materi, bukan pada wahyu Allah Swt. Hal tersebut jelas bertentangan dengan sistem Islam yang berlandaskan wahyu Ilahi. Dampak penerapan sistem kapitalisme sekuler sangat nyata, berupa berbagai kerusakan dan problematika di berbagai bidang, seperti ekonomi, pendidikan, sosial, budaya, pergaulan, dan lainnya. Allah Swt. telah memperingatkan hal ini dalam QS Al-A’raf ayat 96:
“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan bagi mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka akibat perbuatan mereka sendiri.”
Islam yang diemban oleh negara tidak hanya mengatur urusan ibadah, tetapi juga seluruh aktivitas manusia. Islam menjaga kemuliaan dan nyawa manusia serta tidak membenarkan pembunuhan maupun perampasan hak demi kepentingan komoditas. Mengganti sistem kepemimpinan Islam dengan sistem kufur (kapitalisme sekuler) merupakan bentuk kemaksiatan kepada Allah Swt. Akibatnya, bukan kedamaian yang diraih, melainkan semakin tampak jurang pemisah antara si kaya dan si miskin, serta krisis yang merajalela di berbagai bidang. Oleh karena itu, keberadaan Khilafah menjadi kebutuhan yang sangat mendesak untuk menyelesaikan seluruh problematika umat.
Isra Mikraj merupakan momentum untuk bermuhasabah diri. Ketika kepekaan terhadap kerusakan telah tumbuh, maka sudah saatnya umat bangkit dan mengembalikan kondisi sebagaimana yang diperjuangkan Rasulullah saw. dan para sahabat, yaitu menerapkan kembali syariat Allah Swt. dalam naungan Khilafah. Sebab, dalam darah umat Islam mengalir DNA perjuangan yang diwariskan Rasulullah saw. Pembebasan berada di tangan para pejuang.
Jika salat diwajibkan oleh Allah Swt., maka penerapan Islam secara kafah juga merupakan kewajiban yang tidak kalah pentingnya. Allah Swt. berfirman dalam QS Al-Baqarah ayat 208:
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara menyeluruh dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.”
Mewujudkan Khilafah adalah sebuah keniscayaan untuk menerapkan syariat Islam secara kafah, yang mampu menghadirkan keadilan serta membimbing manusia menuju kesejahteraan dan rida Allah Swt. Allah Swt. berfirman dalam QS An-Nur ayat 55:
“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan yang mengerjakan kebajikan bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa…”
Ayat tersebut merupakan janji Allah Swt. yang pasti dan tidak akan diingkari. Namun, janji itu harus diraih melalui perjuangan dan pengorbanan, bukan dengan berpangku tangan. Kita adalah tokoh utama, para pejuang dan pembebas, yang harus berkontribusi semaksimal mungkin dalam menegakkan syariat Islam secara kafah dalam naungan Khilafah. Takbir! Wallahualam bissawab.
Oleh: Anni Siaturrahmah, S.Pd.,
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 21















