Sunyi di Sudut Hati

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – “Yah, Ayah…, boleh minta tolong ambilkan pisang di rumah Pak?” ucapku lirih dekat telinga sosok yang masih berselancar dalam mimpi indahnya.

Beberapa detik berlalu. Masih bergeming, belum menunjukkan tanda-tanda untuk membuka mata.

Masih cukup dini, waktu baru menunjukkan pukul 02.45 WIB. Entah mengapa tetiba aku teringat pisang kepok pemberian salah satu anggota kajian MuTu, yang sehari sebelumnya masih mentah, aku letakkan di meja belakang rumah Pak.

Kami memang tinggal di salah satu rusun daerah Fanindo Batu Aji, milik Pemko Batam, sejak tahun 2015. Empat tahun yang lalu Pak dan Emak datang ke Batam, kami sewakan satu rumah. Supaya orang tua merasa nyaman dan privasi saling terjaga. Rumah Pak tepat depan rumah kami. Jadi sangat dekat. Hanya beberapa langkah saja.

Hari itu, Kamis (21/6/2026) ada niatku untuk shaum sunah. Di benakku terbesit keinginan makan sahur dengan pisang kukus dan telur rebus.

Sebenarnya aku tidak keberatan jika harus mengambil sendiri pisang kepok itu. Entah mengapa hari itu langkahku terasa begitu berat. Sehingga aku memilih meminta tolong lelaki yang telah meminangku 19 tahun lalu.

“Ayah, tolong ambilkan pisang kepoknya!” pintaku sedikit manja.

“Bunda ingin sahur pakai telur rebus dan pisang kukus,” ucapku dengan senyum tipis.

“Alhamdulillah, dah bangun dia,” gumamku dalam hati.

“Di mana pisang kepoknya?” tanya lelaki yang kini genap 47 tahun usianya mengembara di dunia yang fana ini.

“Di dapur, di meja belakang, Sayang,” ucapku santai. Karena aku tahu, ayah dari anak-anakku ini, dan kebanyakan kaum Adam memang tidak menyukai suara tinggi dari istri maupun anak-anaknya melebihi suaranya.

Sambil menunggu pisang diambil, aku memanfaatkan waktu untuk shalat tahajud 2 rakaat dan witir 1 rakaat.

Shalat tahajud, witir, dzikir, berdoa dan tilawah Al-Qur’an kurang lebih sekitar setengah jam-an, kok suamiku belum kembali.

“Kreeek…” Suara pintu dibuka.

“Pak, lagi ngapain, Yah? Bisa tidur tidak katanya? Kondisinya gimana?” Tanyaku sudah mirip dengan orang yang sedang menginterogasi.

“Lagi njegok (duduk), Bun. Semalaman enggak bisa tidur. Sekarang mual-mual. Bolak-balik kebelet pipis katanya. Coba sampean lihat,” wajah suamiku masih cukup datar dan tenang.

“Pak itu lemes Yah. Dia juga masih ingin terlihat kuat. Dia mungkin dah kebelet tapi harus mengumpulkan tenaga untuk bisa berdiri dan tidak merepotkan,” ucapku panjang lebar. Seperti khotbah Jumat.

“Iya Bun. Dah Ayah tawarin. Mau tak gandeng. Enggak mau,” ucap suamiku mencoba memberikan penjelasan kepadaku.

Meskipun dengan perasaan yang tidak menentu. Dengan memakai mukena lajuran (terusan) mirip jilbab, aku langsung keluar menuju rumah Pak.

Benar. Pak nafasnya sudah teramat sesak. Badannya limbung. Ingin buang air kecil tak ada lagi kekuatan. Sampai aku melihat celananya sudah basah.

“Pak, sampean arep pipis (Pak mau buang air kecil)?” Tanyaku sangat pelan dan berhati-hati. Takut Pak terluka.

Tak ada jawaban.

“Pak, dipapah Ayah Naila (suamiku)? Kuwi celanane sampean wes teles. Sampean lemes (itu celananya Pak sudah basah/ ngompol sedikit. Pak badannya lemes),” ucapku masih mencoba untuk merayu agar mau dibantu oleh menantu satu-satunya. Karena aku adalah anak semata wayangnya.

Pak tidak menjawab apa-apa. Dengan nafas yang tersengal-sengal, dia memilih untuk berbaring kembali. Tak sanggup lagi untuk duduk.

Kemudian aku kembali ke rumah untuk menyampaikan kepada suamiku.

“Ayah, Pak kondisinya memburuk, Yah. Dia menahan pipis. Mau ke kamar mandi tak ada kekuatan lagi. Celananya dah basah. Ngompol. Itu sprei juga sudah terkena najis juga,” ucapku menyampaikan kepada suamiku yang masih mengenakan sarung itu dan terduduk di ruang tamu.

Akhirnya suamiku pun kembali ke rumah Pak berusaha untuk membantu Pak ke kamar mandi.

Pisang kepok yang aku kukus sampai masak, aku juga telah selesai makan sahur, ternyata suamiku belum juga kembali ke rumah.

Hampir satu jam di rumah Pak. Menjelang adzan Subuh suamiku membuka pintu rumah.

“Piye Yah (gimana Yah)?” Tanyaku tidak sabar.

“Aku mrono mau Pak e wes ning kamar mandi, tak enteni nganti iki mau Pak e rung metu. (Waktu aku ke sana tadi, Pak sudah masuk kamar mandi. Sampai detik ini Pak masih di kamar mandi. Aku mencoba menunggu Pak belum juga keluar),” jelas ayahnya Naila yang tidak lain adalah suamiku.

Naila adalah anak pertama kami. Sehingga menjadi kebiasaan di Batam. Kita dikenal dengan nama anak pertama.

“Astaghfirullah hal azim ya Allah. Sudah segitu lamanya. Pak pasti berusaha mengumpulkan tenaga lagi untuk bisa keluar dari kamar mandi, Yah,” jelas ku pada suamiku.

Hati dan pikiranku mulai enggak karuan. Tanpa berpikir panjang. Aku langsung menuju rumah Pak.

“Pak, sampean mek opo? Urung bar? (Pak, Pak sedang apa? Belum selesai kah)?” Tanyaku pada Pak yang masih di kamar mandi.

“Hemmm… Hoh hoh,” tidak ada jawaban
Suaranya parau dan sangat tidak jelas. Nafasnya yang sangat berat justru lebih terdengar.

Seketika aku lari ke rumah. Dengan sejuta rasa khawatir aku mencoba meyakinkan ke suamiku. Bahwa Pak mulai kehilangan kendali kesadaran.

Akhirnya kami berdua kembali ke rumah Pak. Pak sudah terbaring di kasur. Tidak lagi bisa diajak bicara. Celananya masih tercium aroma pesing. Berarti Pak ke kamar mandi enggak sanggup mengganti celananya.

Biasanya dia masih selalu menolak untuk dibantu. Kali ini dia pasrah. Tangan dan kakinya berdarah lagi. Ada luka baru. Pertanda Pak habis terjatuh yang kesekian kalinya.

“Pak, sepurane ya. Tak ganteni celanane sampean. Tak tutup selimut. (Pak, maaf ya. Aku gantiin celananya ya. Aku tutup pakai selimut),” ucapku lirih dibantuin suamiku untuk mengganti celana Pak.

Mata Pak terpejam separo. Tak ada lagi suara. Perasaan panik mulai menggelayut dalam anganku.

Sambil memegang selimut, suamiku mencoba membimbing dengan bacaan takbir di telinga Pak.

“Pak ada pesan apa Bun,” suamiku berkata sangat pelan.

“Enggak ada. Selain beberapa hari lalu itu. Tentang sertifikat rumah. Agar aku menjaganya baik-baik. Dah itu aja,” jawabku yang masih belum selesai mengganti pakaian Pak.

Kami berdua akhirnya memutuskan untuk shalat subuh bergantian. Supaya tetap ada yang menjaga Pak.

“Pak… Nyebut Pak. Allah… Allah… Allah,” bisikku lirih di telinga Pak, ditemani deraian air mata.

Aku sengaja memilih kata yang singkat dan aman. Kalau syahadat panjang dan berat. Andaikan itu adalah saat terakhir. Setidaknya kata Allah lah yang diingatnya. Itu harapan kami.

Setelah kami berdua selesai shalat. Kami menghubungi Mbak Ratna. Dia adalah tenaga medis (bidan) yang sempat memberikan infus untuk Pak di rumah. Dia juga yang dulu merawat luka emak sehabis operasi selama 9 bulan. Meskipun akhirnya Emak pergi juga. Kami teman dekat. Sudah terbiasa bercerita tentang keluh kesah keluarga kita masing-masing.

“Mbak, ini kondisi Pak terkini,” tulisku dalam pesan WhatsApp kepada Mbak Ratna dengan menyertakan video singkat Pak.

“Kalau saranku bawa ke Rumah Sakit, Bu! Paksakan saja! Khawatir semakin lemah,” saran Bidan Ratna melalui pesan WhatsApp juga.

Tanpa berpikir panjang. Tanpa memberikan pilihan kepada Pak. Karena memang kondisinya tak sadarkan diri. Kami menghubungi beberapa teman untuk mencari ambulance.

Alhamdulillah, ambulance telah datang, atas bantuan teman kami. Mereka berdua suami istri sekaligus sahabat lama kami. Setelah ambulance datang. Pak dinaikkan ke atas tandu dibantu beberapa sekuriti rusun untuk segera dilarikan ke UGD RS Embung Fatimah.

Tanpa membawa perbekalan apa pun. Suamiku dan Pak Yus lah yang membawa dan menemani Pak ke rumah sakit. Yang ada dalam benak kami. Yang penting Pak segera mendapatkan perawatan medis.

Beberapa jam berlalu. Aku belum berhasil menghubungi suamiku. Aku sendiri tidak bisa membersamai Pak. Karena kondisi anak-anak yang banyak dan masih kecil-kecil. Tidak mungkin diperbolehkan untuk masuk rumah sakit.

Aku mencoba menghubungi Pak Yus. Mencoba bertanya bagaimana kabar Pak.

“Alhamdulillah, sudah di cek tadi. Sekarang lagi diantar Pak Ahmad ke kamar mandi untuk buang air kecil,” jawab Pak Yus.

Sedikit lega. Karena Pak sudah sadar. Tinggal menunggu informasi selanjutnya.

“Bun, tadi ayah sudah ketemu dokter paru-parunya. Kata dokter itu, hasil lab untuk dahak pak positif TBC bun, tapi lantaran obat itu ada efek ke fungsi hati, dan mungkin faktor usia juga, jadi kondisi fungsi hatinya pak terganggu. Makanya obat yang merah itu dihentikan dulu untuk sementara, nanti kalau fungsi hatinya sdh normal, kata dokternya obat TBC nya diganti,” kabar dari suamiku yang stanby menjaga Pak seorang diri.

Hari pertama (Kamis) sudah sedikit lega. Karena Pak sudah mendapatkan perawatan oleh Dokter Spesialis Penyakit Dalam di ruang isolasi.

Hari kedua hingga hari keempat (tulisan ini dibuat). Hatiku diselimuti kegelisahan dari. Meski suasana riuh oleh canda dan tawa anak-anak, namun tetap saja ada yang sunyi di sudut hatiku.

Bukan mengingkari konsep qodho’ dan qodar. Namun, sebagai manusia biasa. Sebagai hamba yang lemah dan tak berdaya, tetap saja muncul lintasan kesedihan dan kegamangan.

Betapa tidak. Goncangan ekonomi hari ini sangat berdampak pada kehidupan rakyat kecil. Tak terkecuali keluarga kami. Beberapa waktu lalu, aku sempat syock karena harga emas yang terus terjun bebas. Kemudian ditambah lagi informasi ketiadaan lembur untuk karyawan PT KTU Shipyard. Walhasil rencana keberangkatan anak kami untuk melanjutkan studi ke Bumi Para Nabi itu terpaksa diundur. Sampai perekonomian stabil.

Belum usai permasalahan yang satu. Kini Pak terbaring di rumah sakit. Tak tahu sampai kapan. Dengan begitu terpaksa suamiku lah yang harus berjaga siang dan malam.

Sudahlah tidak lagi memiliki hak cuti, dengan terpaksa harus potong gaji. 300.000/ hari. Tinggal menghitung.

Secara matematika manusia. Sudah bisa dipastikan gaji yang diterima bakal berkurang drastis. Sudah tidak ada lemburan. Gaji basic terkena potongan.

“Astaghfirullah hal azim,” seketika aku tersadar dari lintasan yang akan menjerumuskan ku pada kufur nikmat.

“Ya Allah. Ini semua adalah ketetapan-Mu. Hamba yakin, apa pun yang Engkau takdirkan terhadap kami adalah skenario terbaik-Mu,” gumamku dalam hati.

“Masak aku masih meragukan dan mengkhawatirkan tentang rezeki. Bukankah ada Allah SWT. yang maha luas rezeki-Nya. Yang menggenggam dunia beserta isinya. Tugas kita hanya taat dan menjalankan segala apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang. La haula wa la quwwata Illa Billah,” hatiku masih terus bermonolog.

Dengan tetap menjalani rutinitas sebagai ibu dari anak-anak aku berusaha bersikap datar dan tidak menampakkan sedih dan gelisah itu di hadapan manusia. Aku terus meyakinkan diri dan menyemangati suami yang terkadang terlihat lelah.

“Ayah pasti capek. Istirahatlah sejenak! Biar Bunda jaga anak-anak. Minta tolong Naila untuk jaga Pak di rumah sakit sebentar. Biar agak fresh. Yakinlah Sayang. Mungkin kali ini kita sedang terpuruk dan mundur ke belakang. Tapi yakinlah. Sebagaimana anak panah. Kita adalah anak panah milik Allah. Allah SWT. Menarik kita ke belakang sejauh mungkin. Karena Allah SWT. menginginkan kita agar bisa melesat ke depan sejauh mungkin,” ucapku bak seorang motivator. Untuk terlihat kuat di depan suamiku yang lelah.

Hanya dengan keyakinan dan menyerahkan semua kepada Allah lah hati kita menjadi lebih tenang dan optimis.

Selesai.[]

Oleh: Nur Salamah
Sahabat Feature News

Loading

Views: 19

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Tulisan Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA