One Piece dan Cermin Ketidakadilan di Negeri Kapitalis

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Fenomena pengibaran bendera serial anime asal Jepang One Piece semakin marak menjelang perayaan HUT ke-80 RI. Bendera One Piece bisa ditemukan berkibar di berbagai tempat, mulai dari pagar rumah hingga transportasi umum dan kendaraan milik pribadi. Bahkan, ada yang melukisnya di jalanan kampung.

Bendera bajak laut ini berfungsi sebagai lambang kekuatan, kemerdekaan, persahabatan, dan perlawanan terhadap penindasan. Sebagian masyarakat mendukung, sebagian membiarkan, bahkan sebagian lagi mengecam karena menganggap bahwa bendera hitam dengan gambar tengkorak identik dengan simbol bajak laut, yaitu segerombolan pelaku kejahatan yang kejam.

Kepanikan Pemerintah

Menghadapi fenomena ini, banyak politisi yang menyerukan kewaspadaan akan tindakan makar yang mengancam memecah belah bangsa. Sebagaimana yang diungkapkan oleh anggota DPR dari fraksi Golkar, Firman Subagyo, yang menyebutkan bahwa pengibaran bendera bajak laut One Piece di bawah bendera merah putih bisa dimasukkan pada tindakan makar sehingga harus ditindak tegas.

Komentar serupa juga disampaikan oleh Wakil Ketua DPR, Sufmi Dasco Ahmad, yang menegaskan bahwa benar ada usaha untuk meretakkan kebersamaan dan kesatuan bangsa. Dasco juga mengungkapkan bahwa terdapat individu yang tidak ingin negara ini berkembang di masa depan. (Kompas.com, 31/07/2025)

Protes Ketidakadilan

Anime One Piece terdiri dari seribu lebih episode. Jika kita meneliti lebih dalam tentang perjalanannya, kita akan menyadari bahwa anime One Piece menggambarkan kondisi di Indonesia, di mana sekelompok penguasa memanfaatkan kekuasaan, sementara masyarakat mengalami penindasan. Meski secara formal merdeka, rakyat belum merasakan kemerdekaan sejati dalam kehidupan mereka karena kebijakan yang condong kepada elite politik.

Pengibaran bendera bajak laut One Piece mencerminkan ungkapan kekecewaan masyarakat terhadap ketimpangan yang ada. Gerakan ini bukanlah bentuk makar, melainkan simbol bahwa rakyat mencintai negeri ini. Mereka tidak rela negerinya terus didera penderitaan akibat ulah pemerintah yang dijalankan oleh beberapa orang yang berkuasa dari golongan atau kelompok tertentu (oligarki).

Memandang dengan Kacamata yang Benar

Rakyat bergerak tentu sesuai dengan pemahaman mereka. Pemahaman mereka diperoleh dari melihat fakta dan realitas di sekeliling mereka terkait dengan kondisi yang mereka hadapi saat ini.

Penerapan sistem kapitalisme hari ini membuat negeri Indonesia terus masuk ke dalam jurang kebinasaan. Kehidupan rakyat semakin susah, PHK dimana-mana, sulitnya lapangan pekerjaan yang layak dan memadai, tekanan pajak tiada henti, ketidakadilan merajalela, korupsi, tingkat kriminalitas yang terus naik, biaya kehidupan, pendidikan dan kesehatan yang semakin mahal, kerusakan moral generasi muda, dll. Semua ini menyebabkan semakin menipisnya kepercayaan rakyat terhadap pemerintah saat ini.

Kebijakan dijalankan dalam tatanan kapitalisme untuk keuntungan kelompok elite sehingga masyarakat tetap terjepit oleh ketidakadilan struktural. Ini mirip dengan skenario dunia di dalam cerita One Piece yang sarat dengan korupsi dan penindasan.

Dalam hal ini, negara perlu melihat bahwa fenomena bendera One Piece tidak hanya sekadar simbol bahaya, kemudian menuding bahwa ada makar di baliknya. Negara perlu menimbang bahwa terdapat suatu pesan atau makna yang ingin disampaikan rakyat yang membawakan simbol ini bahwa telah terjadi ketidakadilan, ketidakpuasan, dan telah terampas haknya. Pemerintah harus melihat pesan rakyat dan segera bergerak untuk memberikan solusi.

Kemerdekaan Hakiki dalam Islam

Dalam kitab Asy-Syakhsiyah Islam karya syaikh Taqiyuddin An Nabhani juz 2 bab Masuliyyah ‘Ammah tentang tanggung jawab umum penguasa disebutkan bahwa seorang penguasa harus memiliki empat kriteria penting, yaitu al-quwwah (kekuatan), at takwa (ketakwaan), ar-rifq bi ar-ra’iyyah (belas kasih terhadap rakyat), dan tidak menimbulkan antipati dari masyarakat.

Seorang pemimpin tidak boleh khianat, tidak tirani, tidak otoriter, dan tidak boleh penguasa itu seolah-olah bekerja untuk kepentingan rakyat, padahal sesungguhnya sedang melegitimasi kepentingan sekelompok elite (populis otoritarian). Penderitaan yang rakyat alami adalah sebuah keniscayaan sebagai konsekuensi hidup dalam sistem buatan manusia, bukan dari sang pemilik kehidupan yaitu Allah Swt. Kemerosotan ekonomi, kerusakan tata nilai kehidupan, kriminalitas, dll, semua itu adalah akibat dari kemaksiatan dan kemungkaran akibat jauhnya manusia dari aturan Islam.

Allah Swt. berfirman, “Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (para rasul dan ayat-ayat Kami). Maka, Kami menyiksa mereka disebabkan oleh apa yang selalu mereka kerjakan.“ (QS al-A’raf: 96)

Allah Swt. berfirman, “Siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit. Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS Thaha: 124)

Kapitalisme adalah sistem buatan manusia. Menerapkan sistem ini adalah wujud nyata dari berpalingnya manusia dari Al-Qur’an sehingga tidak akan pernah membawa kemaslahatan bagi kehidupan manusia. Hidup dalam sistem kapitalisme tidak akan ada harapan untuk sejahtera.

Pemimpin dalam Islam adalah pemimpin yang menerapkan sistem Islam secara menyeluruh. Dirinya senantiasa menanamkan rasa takut bahwa setiap keputusan yang diambil akan dipertanggungjawabkan di sisi Allah. Islam diberikan bukan hanya sebagai panduan spiritual, tetapi juga sebagai cara hidup yang menjadikan pengikutnya sebagai umat terbaik yang menegakkan keadilan serta menolak segala bentuk penindasan.

Perubahan hakiki hanya bisa diraih dengan mengubah sistem kapitalisme menuju sistem Islam di bawah naungan Khilafah. Ini bukan hanya bersifat simbolis, melainkan merupakan perjuangan yang terencana dan terukur melalui dakwah dan transformasi sistem. Wallahualam bissawab.

 

Oleh: Eka Dwiningsih

Sahabat Tinta Media

Views: 45

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA