Cerminan Ketidakadilan Sistem Internasional

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Otoritas militer Israel kembali menorehkan luka mendalam bagi rakyat Palestina dengan menutup akses warga Gaza ke pusat-pusat distribusi bantuan. Avichay Adraee mengklaim bahwa penutupan ini dilakukan demi renovasi, reorganisasi, dan peningkatan efisiensi. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa tindakan ini menambah penderitaan rakyat Gaza yang sejak lama telah hidup dalam blokade dan kelaparan yang sistematis.

Penutupan ini diumumkan tak lama setelah serangan brutal Israel terhadap sekelompok warga Palestina yang sedang menunggu bantuan di bundaran Al-Alam, Rafah, yang menewaskan sedikitnya 27 orang. Pemerintah Gaza mencatat bahwa sejak 27 Mei, serangan-serangan di sekitar pusat distribusi bantuan telah menyebabkan lebih dari 100 kematian dan melukai hampir 500 orang.

Situasi ini mencerminkan betapa nilai-nilai kemanusiaan telah direndahkan oleh kekuatan politik global. Bantuan kemanusiaan—yang seharusnya menjadi simbol solidaritas dan kemuliaan—malah dijadikan alat politik untuk menekan dan mengendalikan penduduk sipil.

Tragedi di Gaza tidak bisa dipisahkan dari akar permasalahan yang lebih mendasar, yaitu runtuhnya institusi pelindung umat Islam yang sejati (Khilafah). Selama umat Islam masih hidup di bawah sistem kapitalisme sekuler, penderitaan seperti yang dialami oleh warga Palestina akan terus berulang. Sistem ini tidak menjadikan kemuliaan umat sebagai prioritas, melainkan hanya mengejar kepentingan ekonomi dan politik segelintir elit global.

Pandangan Islam

Dalam sejarah Islam, Khilafah adalah institusi politik yang tidak hanya melindungi umat, tetapi juga menjadi pelindung bagi hak-hak seluruh manusia, termasuk nonmuslim. Dalam naungan Khilafah, tidak ada satu pun kekuatan Zionis atau imperialis yang berani menindas umat Islam seperti hari ini.

Oleh karena itu, seruan jihad dan pembebasan Palestina sejati hanya dapat dikumandangkan oleh institusi Khilafah, yang memiliki otoritas syar’i dan kekuatan riil untuk membebaskan tanah-tanah kaum muslimin dari penjajahan.

Menegakkan Khilafah bukanlah mimpi utopis, melainkan kewajiban syar’i yang harus diperjuangkan oleh umat Islam. Upaya ini membutuhkan kepemimpinan yang lahir dari jemaah dakwah ideologis yang konsisten menyerukan tegaknya syariat Islam secara kaffah. Jemaah ini tidak hanya menyuarakan kebenaran, tetapi juga membina umat, membangun kesadaran politik Islam, serta menunjukkan jalan keluar yang mulia dan bermartabat.

Umat Islam tidak boleh lagi terjebak dalam ilusi sistem demokrasi sekuler atau janji palsu dari kekuatan-kekuatan Barat yang hanya menjadikan dunia Islam sebagai pasar dan ladang konflik. Sudah saatnya umat menjawab seruan jemaah dakwah ideologis ini dan bergabung dalam perjuangan menjemput pertolongan Allah (nashrullah) melalui tegaknya institusi Khilafah.

Penutupan pusat distribusi bantuan di Gaza hanyalah satu dari sekian banyak bukti bahwa dunia yang dipimpin oleh sistem kapitalisme global telah gagal menjamin keamanan dan kesejahteraan manusia. Maka, solusi sejatinya bukan hanya sekadar mengecam atau mengutuk, melainkan mengambil langkah nyata untuk mengembalikan kekuasaan Islam dalam bentuk Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah.

Dengan Khilafah, umat akan memiliki pemimpin sejati yang peduli dan bertanggung jawab, bukan hanya dalam wacana, tetapi juga dalam tindakan. Inilah jalan kemuliaan yang hakiki, dan inilah saatnya umat bangkit untuk memperjuangkannya.

 

Oleh: Asyrofah

(Pemerhati Remaja)

Views: 36

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA