Tinta Media – Di antara bisingnya truk pengangkat material, ada bisikan yang terangkut bersama pasir bebatuan di Garut. Sebuah bisikan tentang harta karun yang sangat banyak di Bumi Priangan. Anehnya, hal itu hanya menyisakan remahan di pundi-pundi daerah. Inilah ironi pajak mineral bukan logam dan batuan (MBLB) yang sejatinya adalah nadi perekonomian. Namun, di Garut, hal itu seperti denyut nadi yang terhalang.
Coba renungkan, setiap hari ribuan ton pasir dan batuan dibawa dari tanah Garut. Material itu berjalan ke kota-kota besar menjadi penghias bangunan megah, jalan raya mulus, atau jembatan yang kuat. Bisnis yang dulu dikenal sebagai nama galian C sekarang bernama pertambangan mineral bukan logam dan batuan. Meski namanya berevolusi, semangat penggaliannya tetap membara.
Garut dikenal sebagai kota intan karena banyak wilayahnya yang berharga seperti intan. Mereka memiliki kekayaan alam yang luar biasa, seperti mineral, batuan, pasir, dll. Akan tetapi, lihatlah sekarang. Garut dijadikan sebagai pencetak cuan bagi para pengusaha besar. Seharusnya, kekayaan alam ini bisa dirasakan manfaatnya oleh seluruh rakyat, tetapi realitasnya hanya menguntungkan segelintir pihak.
Di sisi lain, rakyat harus merasakan dampak negatifnya, seperti kerusakan lingkungan dan ancaman bencana alam. Karena peraturan yang rusak, maka pengelolaan SDA di suatu negara akan terancam rusak juga.
Kehidupan yang tidak berlandaskan aturan Sang Pencipta selamanya akan rusak dan mengancam keselamatan manusia. Ini karena manusia memiliki naluri untuk berkuasa dan ingin diuntungkan tanpa melihat kemudaratan bagi orang lain.
Oleh karena itu, aturan Allah harus segera diterapkan di bumi ini agar kelangsungan hidup manusia bisa aman dan SDA bisa dikelola dengan amanah. Allah Swt. berfirman, “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS al-A’raf: 56)
Dalam ayat di atas Allah menjelaskan bahwa rahmat Allah dekat dengan orang-orang yang berbuat baik, termasuk kepada alam. Jika kita lihat, banyaknya kerusakan pada hari ini disebabkan karena jauhnya manusia dari aturan Allah. Maka, kembalinya manusia pada aturan Allah, yaitu Islam akan membawa kehidupan manusia menuju jalan kebaikan yang penuh rahmat. Wallahualam bissawab.
Oleh: Irna Syarifah Aeni
Sahabat Tinta Media
Views: 17








