Idul Adha Sama, Bukti Satunya Umat Islam

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Tahun ini, hari raya Idul Adha 1446 Hijriah yang ditetapkan pemerintah Indonesia sama dengan yang akan dilaksanakan di Mekkah yaitu Jum’at, 6 Juni 2025. Kesamaan dalam pelaksanaan hari raya ini menjadi bukti bahwa umat Islam sesungguhnya adalah umat yang satu tidak boleh dibedakan gara-gara batas wilayah.

Penetapan hari raya Idul Adha mengacu pada penetapan awal Dzulhijjah berdasarkan pengamatan visual bulan sabit (rukyat hilal) di 114 lokasi di Indonesia. Hasilnya, hilal terlihat di Aceh pada Selasa, 27 Mei 2025, menunjukkan hari berikutnya, Rabu, 28 Mei 2025 adalah hari pertama bulan Dzulhijjah. Pada hari itu, di seluruh wilayah Indonesia hilal sudah berada di atas ufuk yakni di atas nol derajat hingga lebih dari tiga derajat.

Berbeda dengan tahun sebelumnya, pemerintah Indonesia menetapkan hari raya Idul Adha sehari lebih lambat dari yang berlangsung di Mekkah. Jika di Mekkah hari raya Idul Adha jatuh pada Minggu, 16 Juni 2024, sedangkan di Indonesia Senin, 17 Juni 2024.

Alasannya, karena saat dilakukan rukyat hilal di seluruh wilayah Indonesia pada tanggal 29 Dzulqaidah bertepatan dengan 6 Juni 2024, hilal belum tampak sama sekali. Akibatnya bulan Dzulqaidah waktu itu dicukupkan menjadi 30 hari. Sehingga awal Dzulhijjah di Indonesia jatuh pada tanggal 8 Juni 2025 dan hari raya Idul Adha yang dilaksanakan setiap tanggal 10 Dzulhijjah 1445 Hijriah jatuh pada tanggal 17 Juni 2024.

Menariknya, jawaban dari Wakil Menteri Agama RI waktu itu Saiful Rahmat saat ditanya perbedaan Idul Adha di Mekkah dengan Indonesia. “Salah satunya kondisi alam yang berbeda, wilayah kita berbeda itu, elongasi dan lain-lain,” jawabnya sebagaimana terdokumentasi dalam berita detiknews, 8/6/2024.

Perbedaan mathla juga menjadi pembenaran atas perbedaan penetapan dengan Pemerintah Arab Saudi. Mekkah dengan wilayah di Indonesia dianggap memiliki mathla yang berbeda. Sehingga, meskipun di Mekkah sudah terlihat hilal, umat Islam di wilayah Indonesia tidak harus menjadikannya rujukan penentuan awal dan akhir bulan hijriah.

Dengan adanya penetapan yang sama pada Idul Adha tahun ini, harusnya alasan berbeda mathla dengan Mekkah tidak boleh lagi dimunculkan. Begitu juga dengan selisih waktu, tidak boleh lagi dijadikan alasan. Sebab jarak dan selisih waktu bersifat tetap tidak mengalami perubahan. Sehingga, jika tahun ini sama, maka hari raya Idul Adha begitu juga awal Ramadhan serta Idul Fitri juga tidak boleh lagi berbeda pada tahun-tahun berikutnya.

Pada dasarnya, yang telah menyebabkan terjadinya perbedaan dalam penentuan awal bulan hijriah yang berakibat perbedaan penentuan hari raya adalah Nasionalisme. Paham ini telah berhasil memecah persatuan umat Islam menjadi negara bangsa yang kecil-kecil. Selanjutnya, pembagian mathla pun dilakukan berdasarkan batas wilayah negara-negara bangsa tersebut. Papua, Sulawesi, Jawa, Kalimantan disebut satu mathla dengan Aceh karena merupakan satu kesatuan dalam wilayah Indonesia, namun tidak dengan wilayah lain di luar Indonesia.

Selama nasionalisme masih tertanam dalam tubuh umat Islam, kemungkinan perbedaan hari raya Idul Adha maupun Idul Fitri akan tetap ada. Pemerintah masing-masing negara merasa berhak menetapkan awal dan akhir bulan hijriah di wilayah negaranya masing-masing.

Kesamaan Idul Adha ini hanya bisa dipertahankan jika umat Islam memiliki pemimpin yang satu, sebagaimana bumi hanya memiliki satu bulan. Pemimpin yang satu itulah yang berhak menetapkan awal dan akhir Ramadhan yang berlaku untuk seluruh dunia. Tentunya, berdasarkan hasil rukyat hilal di berbagai titik di seluruh dunia, kecuali Idhul Adha mengikuti rukyat penduduk Mekkah.

Pemimpin yang satu itulah dikenal dengan sebutan Khalifah. Di samping menyatukan pelaksanaan dua hari raya serta awal bulan hijriah, Khalifah juga akan menyamakan pelayanan bagi para jamaah haji tanpa paspor dan visa. Tidak ada lagi istilah haji reguler, haji plus maupun haji furada. Kaum muslimin yang ingin berhaji akan mengeluarkan biaya yang sama sesuai dengan jarak tempuhnya masing-masing.

Dengan kesatuan kepemimpinan ini, penggambaran Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bagaikan satu tubuh benar-benar terwujud. Ketika satu bagian tubuh mengalami rasa sakit, seluruh bagian tubuh yang lain tidak akan tinggal diam bahkan berusaha menghilangkan rasa sakit itu karena seluruh tubuh juga merasakan sakit yang sama. Dengan komando dari Khalifah, seluruh potensi umat akan disatukan demi menghilangkan penderitaan dan penjajahan yang dialami umat Islam di mana pun berada seperti yang terjadi di Palestina, Uighur, Myanmar dan lain sebagainya.[]

Oleh: Muhammad Syafi’i
Aktivis Dakwah

Views: 32

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA