Tinta Media – Militer Israel telah menewaskan sedikitnya sembilan warga Palestina di Gaza pada pagi hari Idul Fitri, Ahad 30 Maret 2025. Para korban tewas, termasuk lima anak. Serangan Israel ini terjadi serentak di kamp pengungsi Khan Younis di Gaza selatan hingga di Kota Gaza dan kamp pengungsi Jabalia di Gaza utara. (TEMPO.CO, Jakarta)
Palestina di Gaza menggelar salat Id untuk menandai akhir bulan suci Ramadan dan dimulainya Idul Fitri. Sama seperti yang dilakukan selama perang, warga berdoa di tengah puing-puing yang disebabkan oleh serangan Israel di Jalur Gaza.
Para Zionis dalam melancarkan aksinya benar-benar tidak mengenal waktu, entah di hari-hari biasa, bulan Ramadan, bahkan hari raya. Padahal, umat Islam semua pantas merasakan kebahagiaan setelah melaksanakan salah satu rukun Islam, yakni berpuasa. Pada momentum Lebaran atau Idul Fitri, biasanya menjadi waktu yang amat berkesan karena seluruh keluarga berkumpul bersama, silaturahmi, dan saling memaafkan di hari yang suci. Pada saat itu, semua umat Islam merasakan kebahagiaan.
Namun, sangat berbanding jauh dengan umat Islam yang berada di Palestina, mereka tidak merasakan kebahagiaan yang sepenuhnya arena masih diserang oleh Zionis. Tercatat dalam data bahwa zionis membunuh 9 orang di Gaza, 5 anak laki-laki. Tak kenal waktu mereka menjalankan ambisinya, yakni merebut wilayah Palestina. Padahal, seharusnya warga Palestina merasakan kebahagiaan di hari yang suci.
Akan tetapi, kenyataannya tidak seperti itu. Warga Palestina tetap diserang. Walau Zionis masih terus melancarkan aksinya, tetapi warga Palestina tetap melaksanakan ibadah sunah salat Idul Fitri. Mereka melakukannya di tengah reruntuhan bangunan. Namun, hal itu tidak membuat mereka hilang kekhusukan. Mereka semakin khusyuk dan percaya pada Allah bahwa kemenangan semakin dekat.
Hal tersebut terjadi karena adanya nation state yang memisahkan negara-negara muslim di dunia. Memberlakukan sistem yang rusak juga salah satu faktor Gaza belum mendapatkan pertolongan yang hakiki.
Sebab, pemberlakuan sistem tersebut tidak sesuai pada dua sumber hukum Islam, yakni Al-Qur’an dan As-sunah. Seluruh dunia menerapkan sistem yang jelas bertentangan dengan syariat dan fitrah manusia, yang hanya menguntungkan para kapitalis dan berdiri dengan asas manfaat, menjadikan negara-negara muslim tidak bisa bersatu dan berimbas pada warga Palestina yang sekarang masih terus berjuang menghadapi Zionis la’natullah. Benang merahnya adalah dunia butuh sistem yang dapat mempersatukan umat Islam.
Berbeda dengan penerapan Islam yang sesuai dengan Al-Quran dan As-sunah. Islam tidak memecah belah negara-negara muslim. Islam justru menyatukan, sesuai dengan koridor syara. Sistem ini berasal dari Sang Pencipta Alam semesta.
Tidak diragukan lagi, penerapannya benar-benar membawa berkah ke seluruh alam. Islam juga akan membebaskan Palestina dengan jihad dan Khilafah, supaya umat Islam di seluruh penjuru dunia merasakan kebahagiaan yang hakiki. Maka dari itu, pengembang dakwah harus terus menggencarkan dakwah, membuat opini bahwa kebahagiaan yang hakiki hanya dapat dirasakan ketika sebuah sistem diterapkan, yakni Sistem Islam di bawah naungan Khilafah. Wallahua’lam bisshawab.
Oleh: Ayu Septia
Santri Ideologis
![]()
Views: 19
















