Kesombongan Penguasa, Awal dari Kehancuran

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Kesombongan adalah penyakit hati yang sangat berbahaya. Penyakit ini biasanya menjangkiti pemimpin yang merasa hebat, paling berkuasa, tidak mau menerima kritik dan saran, serta enggan mengakui kesalahannya. Ingatlah, kesombongan akan berakhir dengan kehancuran dan kehinaan yang menyakitkan. Seperti yang terjadi pada Fir’aun, yang kisahnya diabadikan dalam Al-Qur’an agar menjadi pelajaran bagi kita semua untuk tidak merasa sombong saat diberikan Allah amanah kekuasaan dan kelebihan atas yang lain. Kekuasaan di dunia itu bersifat sementara dan kapan saja bisa diambil oleh Pemilik-Nya, Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang mengirimkan pembawa peringatan, Nabi Musa, agar Fir’aun kembali ke jalan yang benar. Nabi Musa diutus untuk mengingatkan Fir’aun karena sesungguhnya ia telah melampaui batas. Namun, kesombongannya membuatnya menolak dan berpaling dari petunjuk-Nya. Bahkan, ia berani mengangkat dirinya sebagai Tuhan Yang Maha Tinggi yang harus disembah. Maka, Allah menghukumnya dengan azab di akhirat dan siksaan di dunia.

Ingatlah penyesalan penghuni neraka yang sia-sia karena dahulu, saat masih hidup di dunia, tidak mau mendengar dan memikirkan peringatan yang menghampiri hidupnya. Kesenangan dunia yang menipu sering melalaikan kita dari petunjuk-Nya. Pemimpin yang sombong tidak mau mendengar dan memikirkan suara kritis atas keputusan dan kebijakan yang diambilnya. Kritik dibalas dengan nyinyiran dan dianggap sebagai bentuk kebencian. Padahal, bisa jadi itulah peringatan yang dapat menolongnya dari kehancuran.

Saat banyak masyarakat tidak puas dengan pelaksanaan MBG, hal itu justru dijawab dengan penganugerahan penghargaan Bintang Jasa Utama kepada Ketua BGN atas keberhasilannya menjalankan program MBG. Saat banyak orang kecewa dengan kinerja polisi, Kapolri malah diberi penghargaan dan proyek untuk mengelola SPPG, bisnis katering yang menyediakan MBG. Di saat banyak orang menyuarakan kemerdekaan Palestina atas penjajahan yang dilakukan Israel, justru diputuskan untuk bergabung dalam BoP. Banyak anak mengalami keracunan akibat MBG dan juga bunuh diri akibat kemiskinan, tetapi dijawab dengan pernyataan bahwa persentasenya kecil dibandingkan keberhasilan program unggulan yang dibanggakan. Nyawa rakyat dianggap tidak penting. Mengapa uang rakyat digunakan untuk program yang tidak memenuhi skala prioritas? Rakyat membutuhkan jaminan kesehatan dan pendidikan, tetapi anggaran justru dialihkan untuk memenuhi keinginan penguasa agar dianggap hebat dan berhasil dalam kepemimpinannya.

Rakyat marah dan geram terhadap pemimpin yang sombong dan tidak mau mendengar berbagai kritik yang ingin menyelamatkannya dari kehancuran. Ia lebih mendengarkan suara para penjilat yang memuji dan menyanjungnya demi imbalan jabatan dan proyek yang menghabiskan anggaran negara. Semua usaha yang dilakukan bukan untuk kesejahteraan rakyat, melainkan untuk kesenangan para pejabat.

Setiap manusia bisa salah, begitu pula pemimpin. Sebaik-baik pemimpin adalah yang mau mengakui kesalahannya, kemudian bertobat dan memperbaiki kebijakan atau keputusan yang telah diambil. Seburuk-buruk pemimpin adalah yang merasa paling benar dan tidak mau diingatkan. Bahkan, ia menganggap musuh siapa saja yang tidak setuju dengan keputusannya, padahal mereka melakukannya demi kebaikan bersama. Sungguh merugi pemimpin yang tertipu oleh ambisinya untuk terus berkuasa, karena hal itu hanya akan membawanya pada kehancuran di dunia dan siksa yang pedih di akhirat. Wallahualam bissawab.

Oleh: Mochamad Efendi
Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 23

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA