Tinta Media – Generasi muda termasuk pelajar di dalamnya merupakan aset yang sangat berharga bagi sebuah negara sebab merekalah yang akan memegang tampuk kepemimpinan untuk kedepannya. Sayangnya, mental pemuda termasuk para remaja pada saat ini sedang tidak baik-baik saja.
Dilansir dari kompas.com, (17/1/2025), warga Perumahan Made Great Residence, desa Made Lamongan geger karena ditemukan seorang pelajar yang tewas mengenaskan di sebuah warung. Ia dibunuh oleh temannya sendiri karena motif asmara. Setelah ditelusuri motif pembunuhan pelajar yang pelakunya adalah temannya sendiri adalah penolakan cinta yang menyebabkan pelaku melakukan kekerasan terhadap korban di sebuah warung hingga menghilangkan nyawa korban.
Dari fakta di atas, kita bisa melihat bahwa memang benar adanya, kondisi pemuda terutama para pelajar saat ini sedang tidak baik-baik saja. Peristiwa pembunuhan tersebut didasari oleh banyak faktor. Pertama, lemahnya kontrol emosi. Kita semua mengetahui bahwa usia remaja merupakan usia yang emosinya membumbung tinggi. Mereka tidak peduli dengan orang lain, yang terpenting mereka bisa puas dan keinginan mereka tercapai. Emosi mereka cenderung tidak terkontrol dengan baik.
Kedua, minimnya pendidikan moral. Sistem pendidikan saat ini hanya berorientasi pada kecerdasan intelektualnya saja, tanpa memperhatikan Emotional Quotient Intelligence (EQ), yaitu kemampuan seseorang untuk menerima, mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain di sekitarnya. Hal ini juga diperburuk oleh kondisi lingkungan sosial yang kurang supportif. Selain itu, peran media sosial juga menjadi poros bagi para pemuda. Para pemuda biasanya langsung menelan mentah informasi yang berasal dari media sosial tanpa filter.
Berbagai kondisi pelajar di atas merupakan buah dari sistem sekuler, yakni tata kehidupan yang diatur tanpa melibatkan peran agama sedikitpun di dalamnya.
Sekularisme yang menjangkiti para pemuda, terutama pelajar pada saat ini, membuat mereka jauh dari agama. Mereka berpikir bahwa kesenangan dunia lebih utama daripada agama, sehingga kebanyakan dari mereka melanggar aturan-aturan yang ada dalam agama serta mereka tidak peduli lagi dengan halal maupun haram. Kebahagiaan menurut para pemuda saat ini adalah mendapatkan sebanyak-banyaknya materi untuk memenuhi kebutuhan mereka. Akibatnya, mereka menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Demikian juga emosi dilampiaskan sesuai dengan hawa nafsu.
Berbagai persoalan generasi yang sudah dipaparkan di atas tentu membutuhkan sistem yang mampu memberikan solusi komprehensif, yaitu aturan yang menyeluruh. Aturan tersebut tidak lain adalah aturan Islam. Islam menjadikan pendidikan tidak hanya terfokus pada aspek intektual saja, melainkan juga pembentukan akhlak mulia, pengendalian diri, dan pemahaman yang benar terkait hubungan antar manusia. Pendidikan Islam bertujuan membentuk generasi berkepribadian Islam, di mana pola sikap dan pola pikir mereka bersandar pada akidah Islam. Islam juga memiliki aturan yang jelas bagaimana interaksi antara laki-laki dan perempuan untuk mencegah timbulnya fitnah serta perilaku yang melampaui batas. Sistem Islam akan menjaga pergaulan lawan jenis sesuai hukum syariat.
Dengan adanya aturan ini, hubungan antara laki-laki dan perempuan diarahkan agar tetap ada dalam batas wajar. Pelajar dapat mengoptimalkan potensinya untuk kebaikan dan amal shalih. Dengan mekanisme ini, generasi tumbuh menjadi pemuda hebat, taat syariat dan paham ilmu yang dipelajari. Semuanya tidak akan pernah terealisasikan kecuali dengan diterapkannya aturan Islam secara keseluruhan dalam institusi yang bernama khilafah yang terbukti pernah menjadi mercusuar peradaban dunia selama 13 abad.
Wallahu a’lam bishawab.
Oleh: Sugiyanti Rahmawati
Aktivis Dakwah
![]()
Views: 7




