Tinta Media – Perkembangan kehidupan yang serba instan, tuntutan pekerjaan yang berat, standar diri yang tinggi, belum lagi harus menjadi generasi sandwich, membuat hidup terasa sangat melelahkan. Tenaga dan mental turun drastis tetapi tetap harus produktif agar tidak tergilas kehidupan. Manusia normal pasti akan mengalami burnout (kelelahan fisik, emosianal, dan mental yang ekstrem) jika terus dalam kondisi ini. Muncullah tren soft life atau soft living yang dianggap mampu meredam dan mengurangi kelelahan fisik dan mental akibat hidup yang semakin berat.
Dilansir dari laman resmi Universitas Pendidikan Indonesia, soft living mencerminkan pilihan hidup yang tidak semata berorientasi pada jabatan tinggi atau gaji besar, namun menempatkan keseimbangan hidup, kesehatan mental, dan waktu luang sebagai prioritas
utama.
Ciri-ciri gaya hidup soft living di antaranya: keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan, aktivitas perawatan menjadi investasi diri untuk menjaga stabilitas emosional dan psikologis, memiliki banyak sumber pendapatan finansial, serta hidup minimalis dan efesien.
Konsep soff living dianggap mampu menyeimbangkan pekerjaan, penghasilan, dan kebahagiaan. Penganut konsep ini berupaya merumuskan ulang makna kesuksesan, bergerak perlahan, namun tetap produktif.
Hidup Nyaman ala Islam
Benarkah dengan menerapkan gaya hidup soft living akan memastikan hidup kita sejahtera, seimbang, dan nyaman? Rasanya kita perlu melihat dalam prespektif yang menyeluruh sehingga bisa mendapatkan konsep yang shahih tentang gaya hidup yang seharusnya diambil.
Gaya hidup apa pun yang kita ambil, selama sistem kapitalisme yang diterapkan, sulit bagi siapapun akan mendapatkan kenyamanan, keseimbangan hidup, dan kesejahteraan tanpa materi. Pasalnya, sistem hidup ala kapitalisme membentuk pola pikir masyarakat bahwa untuk meraih kebahagiaan dan kenyamanan hidup hanya bisa diraih dengan capaian materi. Padahal, materi hanya bisa dicari dengan kerja penuh waktu, tekanan, dan persaingan tinggi. Itu pun sering kali materi yang didapatkan jauh dari harapan.
Hari ini, kita melihat negara tidak menjamin terpenuhinya kebutuhan materi rakyatnya. Lebih ngenesnya, kekayaan alam yang ada diserahkan pengelolaan sepenuhnya kepada swasta dan asing. Di sisi lain, rakyat dibebani dengan berbagai pungutan yang sangat memberatkan. Bagaimana mungkin kenyamanan dan kesejahteraan bisa terwujud di tengah kondisi ini?
Hidup yang seimbang, nyaman, dan sejahtera sejati, hakikatnya hanya bisa diperoleh dan diwujudkan dengan sistem ekonomi Islam. Islam akan memastikan distribusi hasil pengelolaan SDA oleh negara berjalan dengan baik sehingga kebutuhan dasar rakyat bisa terpenuhi. Jika kebutuhan dasar terpenuhi, rakyat pun akan mampu meraih kebutuhan sekundernya dengan baik. Selain itu, tidak ada pungutan-pungutan yang tidak jelas dan memberatkan.
Negara juga akan menjaga pola pikir dan pola sikap rakyat sesuai dengan syariat Islam yang menjadikan ridha Allah sebagai patokan standar kebahagiaan. Semuanya itu akan terwujud dalam sistem khilafah Islam yang pernah berjaya selama nyaris 14 abad. Jadi, solusi untuk kenyamanan hidup bukanlah menerapkan gaya hidup soft living, tapi berjuang bersama untuk mewujudkan kembalinya kehidupan Islam yang pernah dibangun dan diperintahkan Rasulullah SAW. tersebut.[] Erlina YD
![]()
Views: 4
















