Tinta Media – Iran menjadi negara yang dikutuk oleh Amerika Serikat (AS) dan sekutu Arabnya pada Minggu (01/03), saat Iran melaksanakan serangan balas dendam terhadap Israel dan AS. Daerah yang menjadi sasaran serangannya tak hanya Tel Aviv, tetapi juga negara-negara Teluk yang menampung pasukan AS, seperti Bahrain, Yordania, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA).
Selain itu, Inggris, Prancis, dan Jerman menyatakan siap bergabung dengan AS. Menurut mereka, serangan yang tidak beralasan ini sangat membahayakan penduduk sipil, merusak infrastruktur, serta dianggap sebagai perilaku sembrono dan destabilisasi (CNBCIndonesia.com, 02/03/2026).
Diketahui, selama kurang lebih empat pekan perang berkecamuk antara Iran melawan AS dan Israel. Bermula dari serangan sepihak AS dan Israel pada 28 Februari 2026 yang telah membuat pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei gugur, selama itu pula lebih dari 1.000 hingga 2.300 orang tewas, termasuk ratusan warga sipil, wanita, dan anak-anak.
Ketegangan di Timur Tengah kian memanas, namun mengapa negara-negara Arab yang mayoritas muslim tidak serta-merta membela Iran, malah mengutuknya? Hal ini tak hanya karena solidaritas agama, tetapi juga ada faktor kompleks yang mewarnainya, seperti geopolitik, persaingan kepemimpinan, sejarah panjang dan pelik tentang perbedaan mazhab, hingga kepentingan ekonomi yang menjadi penentu utama sikap negara-negara Arab terhadap Iran.
Dengan demikian, umat Islam masih terpecah dalam berbagai negara, bahkan mirisnya banyak yang bersekutu dengan negara kafir harbi. Perang terjadi sebelum Ramadan hingga Idulfitri tiba. Hal ini merupakan suatu cobaan. Di saat Ramadan, umat muslim tak hanya melatih diri menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu semata, tetapi juga menjalani bulan perjuangan umat Islam melawan penjajahan kaum kafir harbi.
Sayangnya, tujuan umat muslim untuk mengembalikan kehidupan secara Islam masih belum tercapai, bahkan membutuhkan usaha yang lebih maksimal lagi untuk meraih kemenangan yang hakiki. Sikap masing-masing negara Arab ditentukan oleh kepentingan nasional yang berbeda-beda. Normalisasi kerja sama keamanan dan hubungan diplomatik dengan Israel dinilai sebagai langkah strategis untuk membendung pengaruh Iran.
Posisi politik umat Islam terus berada dalam kondisi lemah, padahal Allah Swt. telah memberi mereka predikat sebaik-baik umat (khairu ummah). Hal ini terungkap dalam surah Ali Imran ayat 110 yang berbunyi: “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.”
Ini menegaskan bahwa umat Islam merupakan sebaik-baik umat di antara seluruh manusia. Keunggulan umat muslim tidaklah bersifat eksklusif, tetapi terkait erat dengan tanggung jawab moral dan spiritual yang harus dilaksanakan. Umat Islam harus bersatu melaksanakan amar makruf nahi mungkar serta melawan penjajahan para kafir harbi.
Amar makruf bisa bersifat individual dan kolektif. Salat, berdoa, zikir, dan menghormati orang tua merupakan beberapa contoh amar makruf dalam ruang lingkup individual. Sementara itu, amar makruf dalam ruang lingkup kolektif adalah mendirikan clean government dan aktivitas kolektif lainnya yang bermakna kemanusiaan, yakni melepaskan diri dari kebencian, kekerasan, serta perbudakan.
Sementara itu, nahi mungkar yang diistilahkan adalah sebuah upaya untuk membebaskan diri dari belenggu sistem sosial, ekonomi, dan politik, seperti memberantas peredaran narkoba, membela nasib buruh, serta membebaskan diri dari otoritarianisme, diktator, dan neofeodalisme.
Saat krisis di Timur Tengah yang berlangsung ini, sistem ekonomi global menjadi rapuh akibat penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Begitulah jika sistem kapitalisme berkuasa, jalur laut tidak hanya menjadi sarana perdagangan, tetapi juga berubah menjadi instrumen kekuatan politik dan kontrol pasar energi dunia. Gangguan sedikit saja mampu menimbulkan lonjakan biaya logistik, inflasi, hingga ketidakpastian ekonomi global.
Berbeda jika kita melihat sejarah peradaban Islam yang menunjukkan pengelolaan jalur laut sebagai fasilitas publik yang menjamin keamanan perdagangan dan kemakmuran bersama. Jika kita melihat saat ini, wilayah negara-negara muslim dengan jumlah SDM, SDA, posisi geopolitik, dan geostrategis yang sangat besar berpotensi menjadikan Islam sebagai ideologi. Sejatinya, untuk membangun dan mengembalikan kehidupan Islam dibutuhkan suatu ideologi yang sahih. Prioritas dakwah adalah membangun kesadaran politik ideologi umat dengan Islam kafah.
Oleh karena itu, membangun kesadaran akan kebutuhan adanya persatuan hakiki di bawah institusi Khilafah harus terus diperjuangkan bersama partai politik Islam yang tulus berjuang demi izzul Islam wal muslimin, bukan partai politik semu yang justru berjuang di jalan yang menjauhkan umat dari kebangkitan hakiki. Momentum Ramadan dan Idulfitri tahun ini semestinya menjadi starting point untuk mengonsolidasi dan memobilisasi kekuatan serta kesatuan menuju kemenangan umat Islam yang gemilang. Wallahu a’lam bish-shawab.
Oleh: Umi Kulsum
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 11
















