Pelecehan di Kampus: Pelaku dari Mahasiswa hingga Guru Besar Terungkap

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads
Pelecehan di Kampus: Pelaku dari Mahasiswa hingga Guru Besar Terungkap

Pelecehan di Kampus: Pelaku dari Mahasiswa hingga Guru Besar Terungkap

Tinta Media

Akhir-akhir ini banyak berita yang menyesakkan dada. Belum sembuh luka dari kasus pelecehan oleh 16 mahasiswa, kini pelaku justru datang dari mereka yang semestinya menjadi teladan, para pengajar bahkan guru besar. Kampus yang selama ini dicitrakan sebagai ruang intelektual, ruang pencerahan, ternyata menyimpan kegelapan yang dalam. Kasus pelecehan juga terjadi melalui chat WhatsApp dan bahkan lewat lagu.

Kasus dugaan pelecehan seksual yang melibatkan 16 mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia bukan sekadar pelanggaran aturan kampus, tapi cerminan krisis moral yang makin nyata di kalangan generasi muda. Ketika ruang diskusi akademik justru dijadikan tempat untuk merendahkan martabat orang lain, ini menunjukkan bahwa pendidikan tinggi belum tentu menjamin tingginya akhlak. Pelecehan seksual, baik secara verbal maupun digital, sering dianggap “candaan” atau hal sepele.

Padahal, dampaknya sangat besar bagi korban mulai dari trauma psikologis hingga hilangnya rasa aman. Yang lebih mengkhawatirkan, jika perilaku seperti ini dilakukan secara berkelompok, itu menandakan adanya budaya yang salah dan dibiarkan tumbuh tanpa kontrol. Langkah tegas kampus menonaktifkan para terduga patut diapresiasi, tetapi ini seharusnya menjadi momentum evaluasi lebih dalam.

Tidak cukup hanya menghukum pelaku, perlu ada pembinaan serius tentang etika, batasan pergaulan, serta penghormatan terhadap sesama. Kampus bukan hanya tempat mencari ilmu, tapi juga membentuk karakter. Lebih jauh, kasus ini mengingatkan kita bahwa kebebasan berekspresi tanpa batas justru bisa melahirkan penyimpangan. Dibutuhkan nilai-nilai yang kuat sebagai landasan, agar kebebasan tidak berubah menjadi kebablasan. Jika tidak, kasus serupa akan terus berulang dengan wajah yang berbeda.

Akhirnya, semua pihak kampus, mahasiswa, dan masyarakat harus berperan aktif menciptakan lingkungan yang aman dan bermartabat. Pelecehan seksual bukan hal yang bisa ditoleransi dalam bentuk apapun. Ini bukan sekadar masalah individu, tapi persoalan serius yang menyangkut masa depan generasi (seputarcibubur.com 18/4/2026).

*Generasi Rusak Karena Sistem Tidak Islami*

Pangkal dari kerusakan  perilaku manusia adalah pemisahan agama dari kehidupan. Sebuah prinsip yang menjadi fondasi peradaban modern yang kini menguasai dunia, termasuk sistem pendidikan tinggi saat ini. Ketika kampus di bangun di atas paradigma sekularisme, agama hanya urusan pribadi. Moralitas menjadi relatif, tidak ada standar baku tentang apa yang halal dan haram, apa yang mulia dan hina.

Maka, inilah yang menyuburkan perilaku menyimpang dengan dalih kepuasan. Maka jangan heran, mahasiswa yang cerdas, guru besar yang gelarnya berjenjang panjang, atau siapa pun dari kalangan mana pun bisa menjadi pelaku pelecehan seksual. Karena, kecerdasan tak akan bisa jadi rem atas perilaku menyimpang, jika tidak dilandasi akidah Islam.

Melihat berbagai kasus moral yang terjadi di kalangan anak muda, banyak orang mulai mempertanyakan arah sistem yang saat ini diterapkan. Generasi yang seharusnya menjadi harapan masa depan justru sering terjerumus dalam perilaku menyimpang. Ini bukan semata kesalahan individu, tetapi juga dipengaruhi oleh sistem yang membentuk cara berpikir dan bertindak mereka.

Dalam sistem yang ada sekarang, kebebasan sering dijunjung tinggi tanpa batas yang jelas. Akibatnya, standar benar dan salah menjadi kabur. Hal-hal yang dulu dianggap tidak pantas, kini dianggap biasa, bahkan dijadikan candaan. Dari sinilah muncul berbagai penyimpangan, termasuk pelecehan seksual, yang seolah tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang serius.

Berbeda dengan sistem Islam yang menempatkan aturan hidup berdasarkan nilai moral dan tanggung jawab. Dalam Islam, pergaulan diatur, kehormatan dijaga, dan setiap individu diajarkan untuk menghormati orang lain. Batasan-batasan ini bukan untuk mengekang, tapi untuk melindungi manusia dari kerusakan.

*Islam Melindungi Generasi dari Pelecehan Seksual*

Pelecehan seksual terjadi bukan hanya karena lemahnya kontrol diri individu, tapi juga karena lingkungan dan sistem yang tidak memberi batasan jelas. Ketika pergaulan dibiarkan bebas tanpa arah, maka peluang terjadinya pelanggaran seperti ini semakin besar. Dalam Islam, menjaga generasi dari pelecehan seksual dilakukan dengan cara pencegahan sejak awal.

Islam mengatur bagaimana laki-laki dan perempuan berinteraksi, menjaga pandangan, serta menutup aurat. Semua ini bukan untuk membatasi, tapi untuk menjaga kehormatan dan mencegah hal-hal yang bisa mengarah pada pelecehan. Selain itu, Islam juga menanamkan rasa tanggung jawab dan takut kepada Allah, sehingga seseorang tidak hanya patuh karena aturan, tapi juga karena kesadaran diri.

Oleh karena itu, kontrol diri menjadi lebih kuat meski tidak diawasi. Jika aturan ini dijalankan dengan baik, maka lingkungan akan menjadi lebih aman dan terjaga. Generasi pun bisa tumbuh dengan akhlak yang baik, saling menghormati, dan jauh dari perilaku yang merendahkan orang lain seperti pelecehan seksual.

Selain itu, Islam juga melarang segala bentuk pendekatan terhadap zina, yang menjadi akar dari berbagai penyimpangan, termasuk pelecehan seksual. Sebagaimana Allah Swt. berfirman:
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk.” (QS Al-Isra: 32)

Dalam hadis, Rasulullah ﷺ juga menegaskan pentingnya menjaga kehormatan dan tidak menyakiti orang lain: “Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya.” (HR Bukhari dan Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa ucapan dan perbuatan yang menyakiti, termasuk pelecehan verbal maupun fisik, tidak dibenarkan dalam Islam.

Dengan aturan yang menyentuh aspek individu, masyarakat, hingga sistem, Islam berupaya menjaga generasi dari kerusakan moral. Ketika nilai-nilai ini diterapkan secara menyeluruh, maka lingkungan yang aman, terhormat, dan bebas dari pelecehan bukan hanya harapan, tetapi bisa menjadi kenyataan.

Oleh: Marlina Wati, S.E.
Muslimah Peduli Umat

Loading

Views: 3

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA