Tinta Media – Ada kalanya manusia berhenti sejenak dalam hiruk-pikuk kehidupan, lalu bertanya dalam diam: ke mana sebenarnya semua ini bermuara? Hari-hari berlalu begitu cepat, usia terus berkurang, sementara pikiran, hati dan jasad ini sering kali disibukkan oleh hal-hal yang terasa penting, tetapi sejatinya fana.
Islam mengajarkan keyakinan yang pasti bahwa kehidupan dunia bukanlah tujuan akhir, melainkan hanya persinggahan. Persinggahan yang sangat singkat. Mengenai hal ini Allah SWT mengingatkan bahwa ukuran waktu di sisi-Nya tidaklah sama dengan kehidupan dunia yang hari ini sedang kita rasakan:
“…Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS. Al-Hajj: 48)
Apa yang kita kejar bertahun-tahun, yang kita banggakan seumur hidup, ternyata dalam pandangan Allah hanyalah sekejap saja. Bahkan saat manusia dibangkitkan kelak, kesadaran itu akan terasa begitu nyata:
“Pada hari mereka melihat hari itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan hanya sesaat di waktu sore atau pagi hari.” (QS. An-Nazi’at: 46)
Peringatan ini seharusnya melahirkan kesadaran yang tidak pasif, tetapi menjadikan setiap langkah kita aktif dan lebih bermakna di jalan-Nya. Karena dunia hanyalah jalan, bukan tujuan.
Fatamorgana
Sering kali manusia tertipu oleh gemerlap dunia. Kenikmatan yang tampak indah, pencapaian yang terasa membanggakan, dan kenyamanan yang membuat terlena. Padahal semua itu tidak lebih dari fatamorgana. Terlihat nyata, namun tidak memberi ketenangan sejati.
Kesenangan dunia hanyalah bumbu kehidupan, bukan inti dari kehidupan itu sendiri. Namun ketika bumbu dijadikan tujuan, manusia akan kehilangan arah. Ia lelah mengejar, tetapi tidak pernah benar-benar sampai.
Di sinilah pentingnya kembali mengingat tujuan penciptaan manusia. Kita diciptakan bukan sekadar untuk hidup, tetapi untuk mengabdi. Menjadi ‘abdullah—hamba Allah yang tunduk sepenuhnya kepada-Nya.
وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56)
Ketundukan ini bukan hanya dalam ibadah pribadi, tetapi dalam seluruh aspek kehidupan. Dalam cara berpikir, dalam menentukan benar dan salah, hingga dalam mengatur kehidupan bersama. Karena Islam bukan sekadar keyakinan, melainkan pedoman hidup yang sempurna. Inilah inti dari ujian kehidupan bagi manusia di dunia!
Maka, perjalanan menuju kebahagiaan hakiki tidak bisa dilepaskan dari upaya menegakkan hukum-hukum Islam dalam kehidupan. Bukan hanya pada diri sendiri, tetapi juga dalam masyarakat. Inilah makna kesungguhan dalam berislam! Menjadikan syariah sebagai aturan hidup yang nyata dalam naungan sistem khilafah sebagai metodelogi yang digariskan dalam ajaran Islam. Jadi, bukan sekadar wacana apalagi halusinasi.
Perjalanan ini memang tidak selalu mudah. Akan ada rasa lelah, akan ada ujian, bahkan mungkin rasa sepi ketika kebenaran tidak banyak diikuti. Namun justru di situlah nilai perjuangan itu berada.
Keistiqamahan adalah Kemuliaan
Setiap kesabaran adalah kekuatan.Setiap keistiqamahan adalah kemuliaan. Dan setiap langkah kecil di jalan Allah adalah bagian dari perjalanan besar menuju ridha-Nya.
Kita tidak sedang mengejar dunia yang sementara, tetapi sedang menapaki jalan menuju kebahagiaan yang tidak akan pernah berakhir. Kebahagiaan bersama orang-orang yang dicintai Allah—para shiddiqin dan para syuhada—yang telah lebih dahulu memahami hakikat kehidupan ini.
Karena itu, tidak perlu tergesa-gesa mengejar dunia, dan tidak perlu merasa kecil dalam perjuangan. Yang terpenting adalah pastikan tetap berjalan di jalan yang diridhai-Nya. Dan yang pasti, pada akhirnya perjalanan ini memang singkat. Namun tujuannya adalah kebahagiaan yang kekal.
Semoga kita termasuk orang-orang yang tidak lalai, yang bersabar dalam ketaatan, dan yang tetap semangat menapaki jalan Islam hingga akhir kehidupan. Hingga kelak, kita dipertemukan dengan ridha Allah dalam keabadian surga yang hakiki dan yang penuh dengan kebahagiaan dan kenikmatan. Aamiin!
Oleh: Muhar
Tim Redaksi Tinta Media
![]()
Views: 9




