Tinta Media – Pesta pernikahan putra Gubernur Jawa Barat dan putri Wakil Bupati Garut berujung kekisruhan hingga memakan korban jiwa. Pesta berujung petaka ini diduga akibat kelalaian, baik pihak pengelola maupun masyarakat yang kurang hati-hati dalam menjaga keselamatan. Seharusnya dipersiapkan prosedur keamanan yang baik sehingga keselamatan dan kenyamanan terjaga.
Makan gratis di acara pesta pernikahan ini memancing kerumunan manusia sebanyak 5000 orang. Inilah pemicu tragedi yang membuat miris hati. Desak-desakan berebut makanan gratis tanpa aturan yang benar telah memancing reaksi keras masyarakat yang mempunyai rasa empati.
Dedi Mulyadi sebagai orang tua pengantin menyatakan akan bertanggung jawab atas petaka tersebut. Aliansi Masyarakat Garut Anti Radikalisme dan Toleransi (ALMAGARI) menuntut agar penyelidikan segera dilakukan secara profesional dan terbuka, serta tidak tebang pilih.
Ini menjadi pembelajaran penting dalam memastikan keamanan masyarakat. Perlu dilakukan evaluasi sebelum dan sesudah acara, baik pihak penyelenggara maupun panitia. Dalam Islam, niat yang baik saja tidak cukup, pelaksanaannya juga harus sesuai dengan syariat. Jangan sampai tragedi seperti ini berulang. Niatnya ingin berbagi kebahagiaan, malah berujung petaka.
Oleh: Ica
Sahabat Tinta Media
Views: 34





