Tinta Media – Siapa sih yang enggak suka dicintai? Hampir semua dari kita merasa senang bila dicintai oleh orang di sekeliling kita. Saat kita dicintai tentu kita merasa sangat senang. Padahal yang mencintai kita baru manusia yang lemah dan terbatas. Lalu bagaimana rasanya jika kita dicintai oleh Allah SWT Sang Pencipta Alam Semesta? Tentu kita akan merasakan bahagia yang luar biasa.
Nah, salah satu hal yang Allah cintai adalah menjadi mukmin yang kuat sebagaimana di dalam sebuah hadits Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih Allah cintai daripada mukmin yang lemah, dan masing-masing berada dalam kebaikan. Bersungguh-sungguhlah pada perkara-perkara yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan Allah dan janganlah kamu bersikap lemah (merasa sial). Jika kamu tertimpa sesuatu janganlah kamu katakan, ‘Seandainya aku berbuat demikian pastilah akan demikian dan demikian’ akan tetapi katakanlah, ‘Qodarullah wa maa syaa fa’ala (Allah telah mentakdirkan hal ini dan apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi)’. Ssungguhnya perkataan ‘seandainya’ membuka pintu perbuatan setan.”
Berada di era saat ini menjadikan kita para gen z menjadi generasi yang reaktif terhadap berbagai isu yang terjadi. Mudah terpancing dan akhirnya hanya menjadikan permasalahan sebagai sebuah rintangan. Padahal jika kita mau untuk memilih menjadi mukmin yang kuat maka kita harusnya bisa menjadikan berbagai persoalan yang ada menjadi sebuah tantangan yang harus dihadapi.
Ini menjadi sebuah challenge tersendiri bagi kita. Di tengah berbagai problematika yang hadir kita diharuskan menjadi generasi yang kuat ataupun tangguh. Generasi kuat ini bukan hanya sekadar tubuhnya yang kuat akan tetapi juga menghasilkan pribadi yang kokoh, kaya inisiatif, produktif, dan memiliki daya juang yang tinggi.
Untuk menjadi mukmin yang kuat setidaknya ada 4 kunci yang harus kita lakukan. Pertama, hirshun ‘alaa manfa’ah (kesungguhan yang total disertai kemauan kuat untuk hal yang bermanfaat). Kesungguhan menjadi hal yang sangat urgent dalam melakukan suatu perbuatan. Tanpa kesungguhan, sebuah rencana hanya sekadar wacana.
Kedua, isti’anah billah (senantiasa memohon dan menyandarkan pertolongan hanya kepada Allah SWT). Setelah kita memiliki kesungguhan jangan lupa bahwasanya tidak ada daya dan upaya kecuali dari Allah SWT. Kita harus menyandarkan segala permohonan kita hanya pada-Nya semata.
Ketiga, tarkul ‘ajzi (meninggalkan kelemahan atau rasa sial). Tak hanya memiliki kesungguhan dan menyandarkan segalanya pada Allah SWT. Kita juga harus meninggalkan rasa siap atau hal-hal yang membuat kita lemah. Atau bahasa lebih mudahnya meninggalkan sesuatu yang membuat kita malas.
Terakhir, himmah ‘aliyah (motivasi tinggi yang sangat kuat). Ini juga tak kalah pentingnya. Motivasi yang sangat tinggi ini juga diperlukan sebagai penguat kita dikala mulai terasa lemah atau malas. Dengan 4 kunci itu insyaallah kita akan tumbuh menjadi generasi yang tangguh. Tak hanya fisiknya tapi juga secara mental, pola pikir, dan juga pola sikap.
Sehingga kita akan mampu menghadapi berbagai tantangan yang hadir dalam hidup kita. Hal ini juga kelak kita harus teruskan kepada generasi penerus kita agar mereka tumbuh menjadi anak yang kuat, bukan hanya secara fisik tapi juga memiliki kepribadian yang kokoh, kaya inisiatif, produktif, dan juga memiliki daya juang yang sangat luar biasa. Wallahu a’lam bish showwab.
Oleh: Naila Ahmad Farah Adiba
(Tim Redaksi Tinta Media)
![]()
Views: 4





