Tinta Media – Pernah enggak sih kita menyadari, kita hidup di sistem yang membuat kita menyempitkan visi. Istilahnya kita cuma mikirin hidup untuk hari ini. Walhasil, kita hanya terfokus kepada masalah pribadi dan enggan memikirkan permasalahan umat, terkhusus Baitul Maqdis.
Bahkan mungkin kita bertanya-tanya, mengapa kita harus membela Palestina yang jaraknya sangat jauh dari Indonesia? Padahal, Indonesia juga enggak lebih sedikit masalahnya. Dan berbagai alasan lainnya.
Tapi fun fact nya teman-teman, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam aja sejak dahulu telah mempersiapkan pembebasan Baitul Maqdis sejak jauh-jauh hari. Karena hakikatnya, Baitul Maqdis itu bukan sekadar urusan masyarakat yang ada di sana, tapi juga kita umat muslim sedunia.
Dan sejak dahulu kala, kita telah memiliki tiga pilar yang terhubung dengan Baitul Maqdis. Pertama, dari perintah Iqra’–bukan sekadar membaca sebagai aktivitas intelektual semata, tapi juga fondasi kesadaran tauhid dan juga fondasi awal pergerakan keilmuan.
Kemudian yang kedua, Risalah dakwah dan juga salat malam atau qiyamullail pada surat Al-Mudatsir dan juga Al-Muzammil. Lalu yang ketiga adalah Masjidil Aqsha adalah kiblat pertama kita.
Kalau belum cukup juga tiga pilar itu untuk meyakinkan kita, ada alasan lainnya yakni Baitul Maqdis adalah pusat berkah dan poros dunia. Nah efek dominonya dari pusat keberkahan adalah jika memancarkan berkah maka keberkahannya akan meluap ke seluruh dunia. Sebaliknya jika pusat keberkahannya rusak, maka kerusakannya juga akan merembet ke seluruh dunia.
Sepertiga Al-Qur’an juga berkaitan dengan Baitul Maqdis, di sana adalah tanah para Nabi dan juga tempat berkumpul di akhir zaman, barometer umat, dan peristiwa Isra’ Mi’raj yang memiliki pesan tersirat bahwa gerbang terdekat menuju langit adalah di Baitul Maqdis.
Tapi mengapa setelah ratusan tahun kita belum mampu untuk membebaskannya? Setidaknya ada 3 diagnosis yang kini sedang menjangkiti kaum muslimin. Pertama malapetaka pengetahuan, kedua penjajahan akal, dan yang ketiga adalah perbudakan pemikiran atau kata lainnya mengamini semua narasi yang dibuat oleh barat.
Dan langkah awal untuk bisa membebaskan Baitul Maqdis, kita bukan hanya butuh emosi tapi juga butuh strategi. Dan strategi itu hanya bisa kita dapatkan dari ilmu yang kita pelajari. Maka, kembalilah kepada perintah pertama kita yakni, Iqra’–bacalah dengan nama Tuhanmu. Bukan dengan ideologi barat, kapitalisme, atau narasi politik populer.
Jadikan Al-Qur’an bukan hanya sekadar sebagai bacaan tapi juga sebagai koridor utama. Yakni menjadikan wahyu sebagai panduan dan filter utama dalam menuntut ilmu dan membongkar perbudakan pemikiran. Sebab, kita adalah apa yang kita baca.
Dan setelah membaca, kita jangan hanya mencukupkan dengan hal itu semata. Turunkan ilmu dengan cara menulis dan mengajarkannya. Maka, jadilah orang-orang yang memiliki mimpi besar, memiliki ketahanan mental dan spiritual, serta istikamah di jalan dakwah.
Terakhir, kita bisa berperan dengan apa pun yang kita bisa. Tidak semua harus menjadi peneliti. Yang pertama tentu saja kita harus menjadi hamba yang taat sepenuhnya kepada Sang Pencipta. Kemudian menjadi manusia yang bermanfaat melalui segala skill, minat, potensi spesifik yang telah Allah anugerahkan kepada masing-masing kita.
Sebab yang dinilai oleh Allah bukanlah seberapa berhasil kita nanti di akhirnya, tapi seberapa maksimal usaha yang kita lakukan untuk dakwah dan perjuangan. Wallahu a’lam bish showwab.
Oleh: Naila Ahmad Farah Adiba
Tim Redaksi Tinta Media
![]()
Views: 3






