Tinta Media – Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr
Piprim Basarah Yanuarso menegaskan tidak ada laporan peningkatan kasus gagal
ginjal pada anak. Hal ini dinyatakan dr Piprim menanggapi ramainya isu tentang
banyaknya anak yang menjalani terapi cuci darah di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM)
Jakarta. Dikutip (26/07/2024) dari laman CNNIndonesia.com.
Tidak semua terapi cuci darah pada anak dilakukan karena
gaya hidup. Menurut dr Piprim, ada banyak penyebab seorang anak harus menjalani
cuci darah. Misalnya, kelainan bawaan pada ginjal dan saluran kemih yang telah
dialami anak sejak lahir. Ada juga sindrom nefrotik yang memicu terjadinya
gangguan pada ginjal. Penyebab lain yakni lupus nefritis.
Konsultan nefrologi anak dari RS Cipto Mangunkusumo (RSCM)
dr Eka Laksmi Hidayati, SpA(K) menindaklanjuti isu viral banyak anak-anak
menjalani cuci darah di RSCM pada 25 Juli lalu. Dr Eka menegaskan meski memang ada anak yang
menjalani hemodialisis di RSCM, tapi kasus gagal ginjal tidak mengalami
lonjakan. Dikutip dari laman Detik.com (27/07/2024).
Dr Eka mengklarifikasi bahwa RSCM merupakan rumah sakit
rujukan nasional yang memiliki layanan khusus cuci darah untuk anak. Pasiennya
bukan hanya berasal dari Jakarta tetapi juga luar pulau Jawa. Dr Eka juga
menuturkan bahwa pola hidup tidak sehat mendominasi faktor penyebab gagal
ginjal.
Ada banyak faktor yang bisa meningkatkan risiko terkena
gagal ginjal. Dr Eka mengungkap salah satunya adalah kebiasaan konsumsi makanan
dan minuman kemasan yang tinggi gula. Sehingga dr Eka memastikan suplemen,
vitamin, dan berbagai obat-obatan selama dikonsumsi sesuai anjuran dan di bawah
pengawasan dokter, tidak akan menyebabkan gagal ginjal akut.
Meski tidak ada lonjakan anak penderita gagal ginjal yang
berujung cuci darah, keberadaan kasus ini perlu menjadi perhatian karena
sebagian kasus erat kaitannya dengan pola konsumsi yang salah atau tidak sehat,
dan ini yang mendominasi faktor penyebab gagal ginjal.
Realita hari ini banyak produk berpemanis, yang merupakan
produk industri makanan minuman di Indonesia. Sayangnya, produk tersebut
mengandung gula yang tidak sesuai dengan ukuran yang ditetapkan dalam angka
kecukupan gizi. Menciptakan terobosan makanan berpemanis yang menarik perhatian
kalangan anak-anak adalah hal yang diincar oleh kalangan pebisnis yang
menginginkan keuntungan materi daripada mempertimbangkan kandungan gizi di
dalam produknya.
Mereka tak peduli efek dari makanan yang mereka jual bagi kehidupan anak-anak. Yang mereka mau
adalah keuntungan dan uang dengan modal yang pas-pasan. Hal ini wajar dalam
kehidupan yang diatur oleh sistem Kapitalisme, di mana uang menjadi tujuan
utama dari proses produksi.
Negara pun seolah tak memandang penting kasus seperti ini.
Negara tak bisa menyelamatkan kelestarian masa depan generasi penerusnya.
Harusnya negara memberikan jaminan pangan yang sehat dan bergizi bagi rakyat
terlebih untuk kalangan anak-anak.
Para orang tua hari ini sedang menghadapi ujian ekonomi
finansial. Sehingga mereka tak bisa memfasilitasi anak mereka dengan kesehatan
jasmani. Semua ini erat kaitannya dengan sistem yang diberlakukan negara saat
ini. Sungguh sistem yang penuh dengan kemunafikan dan kebohongan.
Hanya memberikan bantuan dan bersikap baik kepada rakyat
jika punya maksud keuntungan pribadi. Para pemimpin negara hanya memberikan
janji palsu tanpa harapan. Pada lah ditangan mereka terdapat tanggung jawab
yang besar untuk menyejahterakan rakyatnya. Termasuk menjamin kesehatan
rakyatnya sejak usia dini.
Akibat abai dengan
aspek kesehatan dan keamanan pangan untuk anak, sehingga tidak sesuai dengan
konsep makanan halal dan thayyib. Negara telah abai dalam menentukan standar
keamanan pangan dan abai dalam memberikan jaminan keberadaan makanan yang halal dan thayyib.
Sistem yang mengatur kehidupan bernegara saat ini sungguh
tutup mata dari menjamin kesehatan pada
rakyatnya terutama anak-anak. Berbeda dengan sistem Islam yang rahmatan lil’alamin.
Islam mewajibkan negara menjamin pemenuhan
bahan pangan yang halal dan thayyib sesuai dengan perintah syariat.
Negara dalam Islam (Khilafah) juga akan mengontrol industri
agar memenuhi ketentuan Islam tersebut. Untuk itu negara akan menyediakan
tenaga ahli, melakukan pengawasan dan sanksi yang tegas bagi pihak yang
melanggar aturan. Negara juga akan melakukan edukasi atas makanan halal dan
thayyib melalui berbagai mekanisme dengan berbagai sarana untuk mewujudkan
kesadaran pangan yang halal dan thayyib.
Sudah saatnya kita membuka mata bahwa kesuksesan Negara
dalam memberikan jaminan kesehatan dan kesejahteraan dimulai dari makanan yang
halal dan thayyib hanya bisa terwujud dengan penerapan syariat Islam secara
kaffah dalam institusi Khilafah. Nashrullahi wafathun qariibun. Wa’llahua’lam
biash-showab.
Oleh: Rosyidatuzzahidah, Aktivis Muslimah/Duta Mabda’ Islam
![]()
Views: 2




