Tinta Media – Merespons perang Iran vs Amerika-Israel, Pengamat Hubungan Internasional Budi Mulyana mengingatkan agar para penguasa Muslim menyadari hal ini.
“Case Iran, hanya trigger. Semestinya ini benar-benar disadari oleh para penguasa Muslim,” tuturnya kepada Tinta Media, Kamis (5/3/2026).
Pertama, secara praktis, para penguasa Muslim tidak bisa bergerak sendiri-sendiri. “Harus bersatu untuk mendorong agar Amerika Serikat dan sekutunya menghentikan serangan udara guna mencegah jatuhnya korban sipil yang lebih besar,” ungkapnya.
Kedua, secara prinsip, para penguasa negeri Muslim harus menolak skenario regime change (perubahan rezim) yang dipaksakan dari luar. “Karena sejarah menunjukkan hal ini sering berakhir pada perang saudara berkepanjangan (seperti di Irak dan Libya),” tegasnya.
Ketiga, penguasa Muslim juga mesti menyadari bahwa Amerika Serikat sebagai negara adidaya dapat sekehendak hatinya memaksakan kepentingannya secara global atau menarget negara-negara tertentu, walau dengan jalan perang.
“Maka, sudah semestinya mereka memahami ini dan memiliki sikap yang jelas dalam berhubungan dengan Amerika Serikat. Pilihannya jelas, apakah akan menjadi pengikut Amerika Serikat dengan mengamini segala agendanya, termasuk agendanya di Dunia Islam. Atau melakukan perlawanan dengan meningkatkan kapabilitas negaranya hingga sepadan vis a vis menghadapi Amerika Serikat,” tegasnya.
Terakhir, Dunia Islam, terang Budi, memiliki sejarah bahwa mereka pernah menjadi kekuatan global yang bahkan Amerika Serikat saat itu tunduk di bawahnya. “Dan potensi itu tetap ada, selama mereka mau memperjuangkannya,” pungkasnya.[] ‘Aziimatul Azka
![]()
Views: 34
















