Muara Pertemuan Nahdhotul Ulama dan Hizbut Tahrir

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads
Muara Pertemuan Nahdhotul Ulama dan Hizbut Tahrir

Tinta Media – Terus terang saya bukan orang yang memiliki kredibilitas
dalam membicarakan tema ini. Saya bukan apa-apa dan juga bukan siapa-siapa.
Saya hanyalah seorang anak manusia, yang berusaha ikut serta dalam
memperjuangkan agama Allah (li takuna kalimatullahi hiyal ulya). Saya hanyalah
orang yang ingin turut serta memberi sumbangan dalam membangun peradaban Islam
yang agung dan yang membawa keadilan sejati kepada umat manusia, meskipun
sumbangan saya itu mungkin lebih kecil dari sebutir debu yang tak ada nilainya.
Sekali lagi, saya bukan apa-apa dan tidak ada apa-apanya, dibandingkan dengan
tokoh Islam salafus sholih, juga tokoh-tokoh Islam masa kini yang
memperjuangkan Islam dengan ikhlas dan semangat, yaitu orang-orang sholih yang
tergabung dalam barisan HT atau NU. Saya hanya bisa berdoa, semoga Allah
membalas mereka semua dengan kebaikan yang melimpah dan menempatkan mereka
bersama para syuhada dan sholihin.

Saya yakin, organisasi Islam yang lain juga melakukan
perjuangan yang sama untuk tegaknya kalimatullah di muka bumi, meski terkadang
dengan cara yang berbeda-beda. Hanya saja, saya tidak memiliki pengetahuan
tentang organisasi selain HT dan NU, sehingga pembahasan di sini saya cukupkan
hanya membahas HT dan NU. Saya khawatir terjadi fitnah, jika membahas mereka,
padahal saya tidak tahu apa-apa tentang mereka.

Alhamdulillah, kebetulan dari kecil sampai dewasa, saya
dididik orang tua dalam lingkungan yang Islamy khas NU. Saya disekolahkan orang
tua di sekolah madrasah salafiyah NU. Saat kecil, saya sekolah di MI Hidayatul
Mustafidin di desa saya, kalau sore sekolah diniyyah di kampung saya, dan kalau
malam belajar Al-Qur’an kepada bapak saya di musholla kecil depan rumah saya.
Berikutnya, saya disekolahkan di MTS Miftahul Falah, yaitu sekolah salafiyah di
kecamatan saya (Dawe, Kudus). Saya sempat dipondokkan di rumah seorang alim
yang mukhlis, di sana saya belajar Al-Qur’an dan menghafal kitab Alfiyah Ibnu
Malik. Sayangnya saya tidak bertahan mondok lama-lama, karena masih belum paham
dan masih suka main dengan anak-anak lain. Saat MTS ini, kalau malam saya
diajak ngaji kitab Hikam dan kitab Iqodzul Himam oleh bapak saya di hadapan
guru thariqoh yang sangat alim dan mukhlis, yaitu KH. Siddiq As Sholahy (beliau
adalah murid Syeikh KH. Hasyim Asy’ari). Alhamdulillah, saya pernah diberi ijin
menerjemahkan salah satu kitab beliau yang berjudul Kasyfus Syubhat dan saya
selesaikan pada tahun 2003-an.

Selanjutnya, saya disekolahkan di MA Tasywiqut Thullab
Salafiyyah (TBS) di dekat Menara Kudus. Di sana saya belajar fiqih, hadits,
tafsir, tasawuf, dan lain-lain dari para kyai, terutama Syeikh KH. Ma’mun
Ahmad. Beliau-beliau adalah orang yang alim, mukhlis dan mutafaqqih fid diin.
Di TBS, saya dimudahkan Allah untuk menghafal kitab yang sangat idam-idamkan,
yaitu kitab Alfiyah Ibnu Malik. Alhamdulillah, dari penjelasan para kyai dan
asatidz, saya mendapat ilmu ke-Islaman khas ahlus sunnah wal jama’ah, dan saya
sedikit memahami gagasan-gagasan perjuangan para ulama dan kyai yang tergabung
dalam organisasi NU.

Setelah itu, atas izin Allah, saya diterima kuliah di
Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang, jurusan Fisika. Memang terkesan agak
aneh, waktu itu. Lulusan TBS masuk UNDIP. Saat itu, saya memilih Fisika dan
Kimia, tetapi diterima di Fisika. Saya memilih Fisika atau Kimia karena ingin
menjadi seorang ilmuan muslim karena terisnpirasi buku kecil tentang biografi
ilmuan muslim. Saya sangat terinspirasi dengan salah satu ilmuan Muslim masa
lalu, seorang ahli fisika yang luar biasa, yaitu Ibnu Haitsam. Jadi, bacaan
kisah-kisah tokoh masa lalu, memang akan inspirasi kepada generasi muda.
Alhamdulillah, saat menulis ini, saya sekarang tercatat sebagai mahasiswa
program doktor di Fisika ITB. Saat ini, saya sedang melakukan riset yang
mendalam tentang radiasi CT Scan. Terus terang, saya tidak menduga dan tidak
membayangkan sama sekali bahwa saya akan sekolah program doktor di Jurusan
Fisika ITB. Jadi, jika kita memiliki cita-cita, insya Allah, Allah akan
merealisasikannya, meski pada awalnya terasa mustahil.

Di UNDIP ini saya mulai mengenal HT. Pada awalnya, saya sama
sekali tidak tertarik dengan HT, karena saya hanya ingin fokus mempelajari
Fisika, apalagi saya merasa sudah mengetahui Islam lebih banyak dibanding
teman-teman saya yang lain. Apalagi, saat itu, teman yang mengenalkan HT,
menurut saya, tidak meyakinkan. Bacaan al-qur’annya tidak lancar, bahasa
Arabnya parah, apalagi tsaqofah Islamnya (semoga Allah merahmati beliau karena
telah mengenalkan saya dunia yang amat luas ini dan perjuangan yang amat
mengesankan ini). Saya merasa lebih layak memberi penjelasan tentang Islam
kepada dia, bukan diberi penjelasan oleh dia. Memang ada semacam keangkuhan dan
kesombongan pada diri saya. Sampai akhirnya saya sadar bahwa saya tidak boleh
bersikap seperti itu. Sombong itu tipuan setan, meski tidak terasa. Apa gunanya
saya belajar tasawuf, kalau saya meremehkan orang, pikir saya waktu itu.

Saya juga teringat dengan nasihat guru-guru saya dahulu
“undzur ma qaal, wa la tandzur man qaal (lihatlah apa yang dikatakan, jangan
melihat siapa yang mengatakan)”. Dengan sikap yang agak sedikit terbuka itu,
saya mulai mengenal HT. Itu terjadi pada tahun 1999. Alhamdulillah, hingga saat
ini saya masih mengkaji Islam bersama teman-teman HT, juga mengkaji kitab-kitab
ulama yang mukhlishin wal mukhlashin. Semoga Allah memberikan keistiqomahan
kepada saya dan teman-teman semua dalam berjuang bersama barisan orang-orang
sholih tersebut.

Jadi, insya Allah, saya sedikit memiliki pengetahuan tentang
NU dan HT dari sumber aslinya, meski tentu saja, saya bukan apa-apa, baik di
NU, HT atau di mana pun juga. Saya hanya akan sedikit menceritakan apa yang
saya rasakan. Jika ada teman-teman atau pihak-pihak yang merasa tersinggung
atau kurang berkenan, saya mohon maaf, bukan maksud saya menyinggung mereka.

Setelah belajar di NU dan HT, saya merasakan bahwa kedua
merupakan saudara kembar dalam memperjuangkan tegaknya Islam di muka bumi.
Keduanya hampir-hampir tidak ada bedanya, terutama tentang tsaqofah, kecuali
hanya sedikit sekali perbedaan.

Keduanya didirikan oleh seorang alim yang mukhlis untuk
memperjuangkan tegaknya Islam yang akan memancarkan rahmat bagi seluruh alam
semesta. NU didirikan oleh Syeikh KH. Hasyim Asy’ari dan HT didirikan oleh
Syeikh Taqiyuddin Annabhani. Syeikh Taqiyuddin sendiri adalah cucu dari gurunya
Syeikh Hasyim Asy’ari, yaitu Syeikh Yusuf Annabhani. Warga Nahdliyyin yang
sering membaca kitab, pasti sangat familier dengan Syeikh Yusuf Annabhani.
Beliau adalah penulis kitab Jami’u Karamatil Auliya, kitab Al-anwar Almuhammadiyyah,
dan sekitar 80 kitab lainnya. Jadi, jika ada warga Nahdliyyin yang tidak
mengenal dua kitab tersebut, dia termasuk orang yang majhul.

NU memahami bahwa dasar hukum syariah adalah al-Qur’an,
hadits, ijma’ dan qiyas. Demikian pula HT. Hanya HT menambahkan sedikit agar
lebih clear, bahwa untuk ijma’ bukan sekedar ijma’, tetapi ijma’ shahabat, dan
untuk qiyas bukan sekedar qiyas, tetapi qiyas syar’i, yaitu qiyas atas suatu
nash yang ada illat syar’i-nya.

NU memahami bahwa semua sahabat Nabi adalah orang-orang
adil. Mereka adalah orang-orang yang mulia. Kita sama sekali tidak boleh
mencela mereka. Demikian pula HT, HT memandang bahwa para sahabat Nabi adalah
orang-orang yang mulia. Kita sama sekali tidak boleh menghina dan mencaci
mereka. Apalah artinya kita dibanding para sahabat Nabi. Perjuangan kita dan
pemahaman kita tentang Islam tidak ada sak kuku irenge (maksudnya kita tidak
ada apa-apanya dibanding mereka). Kita semua dapat ilmu tentang Islam, semuanya
dari mereka.

NU memahami bahwa umat Islam itu ada dua, yaitu orang yang
mampu memahami langsung dari sumber-sumber Islam, yang dinamakan dengan
mujtahid, dan juga ada orang-orang yang tak mampu memahami Islam langsung dari
sumber aslinya, yang dinamakan dengan muqollid. Seorang muqollid karena tidak
memiliki ilmu, ia harus mengikuti orang yang memiliki ilmu, yaitu para
mujtahid. HT juga memiliki pandangan yang sama. Baik NU maupun HT sama-sama
sangat menghormati dan menjunjung tinggi para ulama, terutama para ulama mujtahid
muthlaq, seperti Imam Syafi’i, Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Hambali dan
lain-lain. Kita sama sekali tidak boleh menghina dan mencela mereka. Apalah
artinya kita dibanding keilmuan mereka. Kita ini seperti anak TK, sementara
beliau-beliau itu seperti professor. Layakkah seorang anak TK menghina keilmuan
professor?

NU sangat hati-hati dalam menilai seseorang, apalagi
membid’ahkan atau mengkafirkan seseorang. Sebab jika kita keliru dalam
mengkafirkan orang, maka tuduhan itu akan kembali kepada penuduhnya. HT juga
demikian, sangat hati-hati. Baik NU maupun HT lebih suka menggunakan istilah
umum, misalnya bahwa “zina itu dosa besar”, tetapi tidak berani mengatakan
bahwa “si A itu mendapat dosa besar”, kecuali telah ada bukti yang kuat di
hadapan Allah. Contoh yang lain, misalnya mengatakan bahwa “orang yang tidak
berhukum dengan hukum Allah itu ada kalanya kafir, dzalim atau dzalim”. Tetapi,
baik NU atau HT, tidak berani mengatakan bahwa “si A adalah kafir, dzalim atau
dzalim”, kecuali telah terbukti dengan bukti yang kuat.

NU memandang bahwa Islam itu paripurna, mengatur masalah
aqidah (tauhid), akhlaq, ibadah, mu’amalah, buyu’, hudud, hukmul aradli, jihad,
dan lain sebagainya. Hal ini terdapat hampir di semua kitab ulama, dari kitab
yang dipelajari level MTS seperti kitab Taqrib, level aliyah seperti kitab
Fathul Mu’in, dan kitab-kitab besar lainnya seperti Al-Umm, Hasyiyah Al-Bajuri,
dll. Demikian pula HT. HT memandang bahwa Islam itu ajaran yang paripurna dan
lengkap. Tema-tema yang dipelajari di HT, juga sama dengan tema-tema yang
dipelajari di pesantren NU. Bedanya, HT hanya menggunakan bahasa kontemporer
dan membandingkan dengan keadaan dunia saat ini. Jadi tidak ada bedanya sama
sekali, kecuali hanya penggunaan beberapa istilah baru.

NU memandang bahwa Islam wajib diterapkan. Saat itu
kerahmatan Islam akan terwujud di muka bumi ini. Tetapi penerapan Islam harus
benar, adil dan sesuai dengan metode syar’i karena semata-mata mengharap ridlo
Allah. Islam tidak boleh diterapkan dengan kasar dan menyimpang dari metode
syar’i-nya. Demikian pula HT. HT memandang bahwa islam harus diterapkan.
Itulah, insya Allah, yang akan membawa kebahagian dan keadilan yang sejati bagi
umat manusia.

NU memandang bahwa Islam itu ajaran untuk seluruh umat
manusia, makanya NU tidak menganggap remeh dan rendah orang-orang yang memiliki
kebangsaan berbeda. Hanya, saja karena Syeikh Hasyim Asy’ari orang Indonesia,
maka beliau memulai dakwah dari Indonesia dan disebarkan ke seluruh dunia.
Makanya lambang NU adalah bola dunia, sebuah lambang yang menggambarkan wawasan
para pendirinya yang sangat global dan komprehensif. Demikian pula HT. HT
memandang bahwa Islam itu juga untuk seluruh umat manusia. Tidak ada nasionalisme
di dalam Islam. Kita memang memiliki kebangsaan yang berbeda, tetapi kita tidak
boleh menilai sesorang atas dasar bangsanya, membela atau memusuhi seseorang
atas dasar bangsanya. Itulah yang dinamakan nasionalisme. HT mulai dari
Palestina, karena Syeikh Taqiyuddin adalah orang Palestina. Lalu dakwah HT
menyebar ke seluruh dunia.

NU sangat menghormati para Khalifah Islam, apalagi Khulafaur
Rosyidin. Bahkan NU membuat tradisi untuk mendoakan para Khalifah yang empat
itu saat sholat tarawih, dengan mengucapkan “al khalifatul ula sayyuda Abu
Bakar Ash Shiddiq radliyallau anhu…” dan seterusnya. Kitab-kitab yang dikaji
warga Nahdliyyin membahas dengan detil tentang Khilafah, misalnya kitab
Al-Ahkam Assulthaniyyah, dan kitab-kitab lainnya. NU menganggap para Khalifah,
para sahabat Nabi lainnya, dan para ulama pasca beliau adalah salafus sholih
yang harus kita jadikan teladan. Demikian pula HT. HT sangat menghormati para
Khalifah, terutama Khulafaur Rosyidin. HT memahami bahwa sistem yang harus
diterapkan saat ini haruslah sistem yang dahulu diterapkan oleh para salafus
sholih kita, yaitu sistem Khilafah. HT bahkan membahas Khilafah secara khusus.
Bedanya, HT membahas Khilafah dengan bahasa yang lebih kontemporer dan
membandingkan dengan sistem-sistem yang saat ini diterapkan. Sehingga lebih
clear.

NU memandang bahwa mendakwahkan Islam tidak mungkin
sendirian dan terpisah-pisah, karena itu para ulama membentuk organisasi dakwah
yang solid bernama NU. HT juga sama. HT memandang bahwa mendakwahkan Islam
tidak mungkin sendirian. Rasulullah dalam berdakwah juga bersama para
sahabatnya dalam suatu barisan yang sangat rapi. Tentu saja, organisasi di sini
sama sekali tidak boleh dimaksudkan untuk ashobiyah atau berbangga-bangga,
tetapi organisasi ini dimaksudkan agar dakwah dapat berjalan dengan solid. NU
dan HT sama-sama menjauhi sikap ashobiyyah dalam segala hal. Sebab ashobiyyah
itu dilarang Islam. Sebagai organisasi, tentu NU dan HT memiliki struktur
organisasi dan mekanisme tertentu dalam pengaturan para anggotanya.

NU sangat konsisten dengan ajaran Islam, dan terbuka dengan
berbagai hal baru yang tidak bertentangan dengan Islam. Inilah yang membuat NU
dinamis. Kaidah masyhur di kalangan NU “al muhafadzatu bil qodimi ashsholih,
wal akhdzu bil jadidi al-ashlah (menjaga hal lama yang baik, dan mengambil hal
baru yang lebih baik). Baik atau sholih di sini dasarnya adalah Islam. Maka
para ulama mengatakan “alhasan ma hassanahu asy-syar’u, wal qabih ma qobbahahu
asy-syar’u (Baik adalah apa yang dianggap baik oleh syara’. Sedangkan buruk
adalah apa yang dianggap buruk oleh syara’)”. Demikian pula HT. Hanya HT
membahas dengan istilah yang berbeda yang dianggapnya lebih jelas, yaitu
istilah hadloroh dan madaniyyah. HT akan istiqomah dengan hadloroh Islam,
tetapi mengambil madaniyyah yang tidak bertentangan dengan Islam, seperti
tenologi dll.

NU sangat mencintai orang-orang yang mencintai Allah dan
rasul-Nya, dan membenci orang-orang yang membenci Allah dan Rasulnya. NU tidak
pernah rela dengan penjajahan, karena penjajahan adalah pelanggaran terhadap
Islam. Karena itu, ulama-ulama NU bangkit melawan penjajahan sesuai dengan
kemampuan beliau waktu itu. Perjuangan melawan penjajhan adalah jihad fi
sabilillah. HT juga sama. HT sangat mencintai orang-orang yang mencintai Allah,
dimana pun mereka berada. Juga membenci orang-orang yang membenci Allah dan
Rasul-Nya. HT sangat benci dengan penjajahan. HT sejak didirikan sampai
sekarang, menentang bentuk penjajahan, baik secara militer, ekonomi dan politik
atau teknik-teknik lain.

NU sangat concern mendidik umat dengan Islam, lewat berbagai
forum dan media yang dimungkinkan. Lewat pesantren, musholla, masjid, majlis
ta’lim, pengajian-pengajian rutin di kampung-kampung. Inilah yang dinamakan
pendekatan kultural. HT juga sama. HT sangat concern mendidik umat dengan
Islam, lewat berbagai sarana yang dimungkinkan. HT mengadakan halaqoh-halaqoh
kecil, dan juga berbagai acara besar. Berbagai sarana yang dimungkinkan, HT
dapat dipastikan menggunakannya untuk kepentingan mendidik umat. Inilah yang
dinamakan HT sebagai pendekatan kultural (tatsqif). Hanya saja, HT berpandangan
bahwa meskipun pendekatan kultural ini sangat penting dan harus digarap dengan
serius, ada pendekatan lain yang tidak boleh dilupakan, yaitu pendekatan
politis. Pendekatan politis ini hanya akan terwujud lewat institusi politik
umat Islam yang bernama Khilafah. Ini pula yang disampaikan oleh Hujjatul Islam
Imam Ghozali “Addiinu ussun was shulthanu harisun. Fa ma laa ussa lahu
fmahduumun. Ma wa la harisa lahu fa dlo’i’un (Agama adalah pondisi, kekuasan
politik adalah penjaganya. Sesuatu yang tak ada pondasinya akan roboh. Dan
sesuatu yang tak ada penjaganya, maka akan terlantar)”. Sekedar contoh,
masyarakat diharapkan tidak melakukan pencurian. Lalu mereka dididik tentang
haramnya mencuri dan wajibnya bekerja. Ini adalah pendekatan kultural. Namun,
tentu saja, dalam pendidikan tersebut, ada sebagain masyarakat yang karena
suatu hal tetap melakukan penjurian. Maka dalam hal ini, pencuri tersebut harus
diberi sangsi. Sehingga mereka dan yang lain jera melakukan pencurian. Inilah
yang dinamakan pendekatan politis. Jadi pendekatan kultural dan politis itu
sama-sama pentingnya. Hanya saja, saat pendekatan politis belum bisa dilakukan,
maka yang dilakukan adalah pendekatan kultural.

NU sangat kritis dan tegas kepada  penguasa yang tidak menjalankan amanah dan
melanggar syariah. Bahkan beberapa ulama NU sampai pada sikap yang agak
ekstrim. Misalnya kyai saya, Syeikh. KH. Ma’mun Ahmad, beliau mengharamkan
ujian nasional kepada santri-santrinya. Menurut beliau, dalam Islam ujian bukan
seperti itu. Itu meniru orang-orang kafir. Beliau tidak mau menerima bantuan
dari pemerintah, hingga pondok dan rumah beliau masih sangat sederhana, hingga
akhir hayat beliau. HT juga demikian. HT sangat tegas dan kritis kepada para
pemimpin yang tidak menjalankan amanah dan melanggar hukum syariah. Bedanya, HT
merinci beberapa hal sehingga lebih clear, sebagaimana dalam pembahasan
hadloroh dan madaniyyah.

Dan lain sebagainya. Mungkin akan butuh beratus-ratus
halaman, jika saya sebutkan semua. Singkatnya, NU dan HT itu layaknya saudara
kembar dalam memperjuangkan diinullah, litakuuna hiyal ulya.

Itulah NU dan HT, sepanjang yang saya ketahui dan saya
rasakan. NU dan HT itu sama. Sama-sama diniatkan untuk memperjuangkan Islam.
Sama-sama didirikan dan diikuti oleh orang-orang yang mengharap ridlo Allah.

Ketika saya pertama berdiskusi dengan teman HT, memang itu
belum tergambar dengan jelas di benak saya. Waktu itu, menurut saya, aktivis HT
hanyalah orang-orang yang exited karena baru mengenal Islam. Ternyata saya
salah besar. Aktivis HT itu sangat beragam dengan latar belakang keilmuan yang
sangat beragam. Para aktivis HT juga terkadang ada yang belum memahami
perjuangan secara utuh. Itu hal yang sangat wajar. Namun, setelah saya lama
diskusi dengan beberapa aktivis HT dan membaca kitab-kitabnya, hal itu tergambar
dengan sangat clear. Kitab HT yang ditulis Syeikh Taqiyuddin, itu benar-benar
kitab yang istimewa, menurut saya waktu itu. HT itu persis NU, hanya HT
memperjelas dan mempertegas hal-hal yang selama ini agar kurang jelas. Maksud
kurang jelas, tidak berarti bahwa kitab-kitab ulama NU tidak membahas hal itu.
Tidak. Kitab-kitab ulama yang membahas itu sangat banyak. Tetapi karena kitab
ulama itu sangat banyak, dan terkadang terjadi ikhtilaf. Lalu, dari ikhtilaf
itu tidak ada yang melakukan tarjih. Sehingga banyaknya pendapat itu terkadang
membuat para santri kurang tegas dalam mengambil sikap. Tentu saja ini bukan
hal yang salah.

Sementara HT mengapresiasi berbagai ikhtilaf di kalangan
ulama, lalu HT mengambilnya yang menurutnya lebih rajih. Ini yang membuat
gagasan HT terkesan lebih tegas. Lagi pula, HT selalu membandingkan
pemahamannya dengan kondisi saat ini, di dunia kontemporer. HT membandingkan
antara Islam, Kapitalisme, dan Komunisme hampir dalam segala hal. Dengan
perbandingan ini, membuat HT memiliki determinasi yang lebih tegas dan jelas.
Misalnya tentang mua’malah, baik NU atau HT sama-sama membahas tentang syirkah,
dan kesimpulannya sama. Namun, HT tidak sekedar mengkaji dalil-dalinya, HT
menambah pembahasan dengan mengkaji fakta berbagai syirkah yang sekarang ada di
dunia kontemporer, menelitinya dengan hati-hati. Sehingga tampak lebih jelas,
mana yang absah dan mana yang bathil.

Jadi, tidak ada beda yang berarti antara HT dan NU.

Sampai akhirnya, muncul generasi muda yang pulang mencari
ilmu dari Amerika, Kanada, Eropa dan lain-lain. Mereka membawa gagasan yang
aneh dan tidak dikenal dalam pemikiran NU. Namun, karena mereka adalah anak
kyai-kyai yang karismatik dan mukhlis, meski gagasannya aneh, mereka tetap
diterima sebagai bagian dari tradisi dan keilmuan NU yang holistik. Mereka
mulai mencampurkan berbagai gagasan yang bersandar pada pemikiran barat, dan
lambat laun mereka menduduki posisi kunci, baik secara kultural maupun politis.
Akibatnya, gagasan NU yang semula bersih dan lurus, menjadi agak bergeser. Pada
titik ini, NU memang sangat berbeda dengan HT.

Karena itu, untuk memahami gagasan NU, ada baiknya kita
membaca kitab-kitab Syeikh KH. Hasyim Asy’ari. Itulah gagasan NU. Dari sana,
kita tidak akan dibingungkan dengan istilah “NU Garis Lurus”, “Generasi Muda
NU”, “Pembela Ulama”, dan lain sebagainya.

Jadi, dengan mengkaji secara jujur terhadap kitab dua ulama
besar: Syeikh. KH Hasyim Asy’ari dan Syeikh Taqiyuddin An nabhani, kita akan
dapat memposisikan NU dan HT pada tempat yang proporsional. Wallahu a’lam.[]

Oleh: Choirul Anam Mahasiswa Program Doktoral di ITB, Alumni Santri NU di Kota Kudus

 

Loading

Views: 3

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA