Mau Dibawa ke Mana Nasib Para Nakes?

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Gaes, manusia itu makhluk sosial kan ya? Kita saling
membutuhkan manusia yang lain dalam menjalani kehidupan ini. Ibaratnya nih
ya…sesultan apa pun seseorang pasti butuh bantuan orang lain. 

Contohnya aja
ketika kita sakit terus berobat ke rumah sakit (RS), ada banyak pihak yang akan
terlibat dalam menyembuhkan sakit kita. Ada petugas parkir yang jaga motor
kita, ada satpam yang menyambut kita saat masuk RS, ada petugas pendaftaran
yang masukin data kita, ada dokter yang mendiagnosa sakit kita, ada perawat
yang bantu dokter buat memeriksa keadaan kita dan seterusnya. Nah, banyak
banget kan gaes pihak yang terlibat dalam penyembuhan sakit kita?

Nasib Nakes yang Merana

Lebih-lebih para nakes yang jadi garda terdepan menghadapi
penyakit. Contohnya seperti waktu wabah Covid yang merebah kemarin, banyak
nakes yang sampai nyawanya harus teregang karena menangani para pasien yang
terkena Covid-19. Sungguh…perjuangan nakes begitu besar ya gaes.

Tapi, ngomong-ngomong soal nakes nih, ada fakta yang begitu
memilukan gaes. Dengan pengorbanan mereka yang begitu besar harusnya upah hasil
jerih payah mereka juga sama besarnya. Namun fakta yang terjadi tidaklah
seindah angan-angan gaes. Kehidupan nakes masih ada yang jauh dari kata
sejahtera. Seperti nakes di Manggarai, NTT yang mana per 1 April 2024 yang
belum digaji sejak Januari 2024, bahkan ada juga nakes yang bekerja secara
sukarela selama dua tahun alias bekerja tanpa dibayar sepeser pun. Mereka mulai
bekerja tahun 2012 dengan status tanpa digaji, kemudian pada tahun 2014 digaji
Rp400 ribu per bulan, lalu naik menjadi Rp600 ribu per bulan, dan hingga kini
masih belum diangkat menjadi ASN (Viva News, 14-4-2024)

Fakta memilukan ini akhirnya mendorong mereka untuk bertemu
para pemangku kebijakan. Mereka menemui Ketua DPRD Kabupaten Manggarai, Matias
Masir untuk berdiskusi dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama DPRD. Mereka
meminta agar gajinya dinaikkan dari Rp600 ribu sebab sangat jauh dari UMR NTT
(sekitar Rp2 juta lebih).

Namun, hal ini mendapatkan respons yang berbeda dari Bupati
Manggarai, NTT, Herybertus G.L. Herybertus melakukan pemecatan terhadap nakes
non ASN tersebut karena menganggap mereka melakukan demonstrasi yang mana juga
dinilai sebagai bentuk ketakdisiplinan dan ketidakloyalan bawahan pada atasan.

Menanggapi hal ini, Ketua DPRD Kabupaten Manggarai Matias
Masir mengaku menyayangkan keputusan Herybertus. Masir heran dengan keputusan
Herybertus yang melakukan pemecatan terhadap 240 nakes tersebut. Masir
mengatakan upaya nakes menemui DPRD hanya menyampaikan aspirasi saja sehingga
seharusnya tidak perlu berlebihan menganggap tindakan nakes sebagai
pemberontakan terhadap atasan. Hmm…miris banget sih gaes, niatnya
menyampaikan aspirasi tapi malah dipecat.

Alasan Klasik Para Penguasa

Sudah bukan menjadi rahasia masalah gaji tentunya erat
hubungannya dengan dana kan gaes. Dana menjadi alasan klasik penyebab gaji para
nakes jauh di bawah UMR. Pemerintah setempat sering kali mengalami kekurangan
dana untuk menggaji para tenaga honorer. Padahal kalau ditelisik lebih dalam
kecilnya gaji nakes akan sangat berdampak pada menurunnya efektivitas dan
inisiatif kerja para nakes. Para nakes mau tidak mau harus mencari pekerjaan
sampingan untuk bisa memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga mereka setiap harinya.
Hal tersebut, tentu akan mempengaruhi kualitas pelayanan. Misalkan karena
terlalu lelah bekerja dengan 2 jenis menjadi nakes dan melakukan pekerjaan
sampingan, nakes tidak bisa memberikan pelayanan yang maksimal pada pasien.

Persoalan upah rendah pun bukan hanya terjadi pada nakes,
tetapi di bidang lain pun sama, seperti guru yang masih berstatus honorer,
buruh pabrik dan lain sebagainya. Mereka bekerja bagai kuda, tetapi upah yang
mereka dapat tidak seberapa. Oleh karena itu, sudah saatnya persoalan upah ini
harus segera diselesaikan agar kesejahteraan masyarakat bisa terwujud.

Biang Kerok Semua Masalah

Akar permasalahan pemerintah kekurangan dana dalam menggaji
para nakes sebenarnya merupakan akibat dari penerapan sistem kapitalisme.
Sistem ini membuat negara miskin. Sistem ini membolehkan siapa pun untuk
memiliki apa pun termasuk hal-hal besar seperti Sumber Daya Alam (SDA).
Pengelolaan SDA diserahkan pada swasta asing. Dengan kemudahan pengelolaan SDA
seperti ini tentunya keuntungannya akan masuk pada kantong mereka pribadi.

Misalnya di NTT, provinsi yang dikenal berlimpah logam
mangan. Bukan hanya logam mangan, tetapi juga tambang lain seperti emas, batu
bara, nikel, tembaga dll. Namun kenyataan itu hanya menjadi isapan jempol
semata, semua SDA itu dikelola oleh asing sehingga kebermanfaatannya tidak
dapat dirasakan oleh rakyat Indonesia sendiri. Seandainya SDA yang begitu
banyak tersebut dikelola oleh pemerintah, tentunya bukan hanya gaji nakes saja
yang tersolusikan, kemiskinan yang melanda NTT pun akan segera terselesaikan.

Selain pengelolaan SDA diserahkan pada swasta asing, sistem
kapitalisme juga menjadikan pemimpin yang mandul dalam mengurusi urusan umat.
Dalam sistem ini, posisi penguasa negara hanya sebagai regulator atau
penghubung dalam menjaga hubungan timbal balik antara para pemilik modal dan
rakyat. Mereka tidak bervisi menyejahterakan rakyat.

Apalagi di dalam sistem politik demokrasi yang melahirkan
penguasa oligarki. Hanya segelintir orang saja yang menjadi penguasa negara.
Sehingga tak heran di sistem sekarang sering kita temukan penguasa yang justru
melindungi kepentingan para pemilik modal dan malah mengabaikan hak rakyatnya.
Banyak penguasa yang tidak memiliki empati pada rakyatnya yang kesusahan bahkan
tak jarang ada yang mati kelaparan.

Islam Siap Solusikan Segala Permasalahan

Membiarkan kehidupan terus berada dalam cengkeraman sistem
kapitalisme akan membuat rakyat sulit mendapatkan kesejahteraan, tak terkecuali
para nakes. Sudah ada saatnya ada solusi komprehensif yang menyelesaikan
masalah ini. Solusi tersebut hanya ada pada Islam (Khilafah). Sistem Khilafah
sangat memperhatikan hak rakyat, termasuk hak untuk sehat dan hidup layak.
Jaminan kesejahteraan dalam Islam dapat terwujud salah satunya dengan
pengaturan kepemilikan yang jelas. Dalam Islam, SDA termasuk kepemilikan umum
yang mana kepemilikannya haram dikelola dan dimiliki oleh individu. 

Hal ini
sesuai dengan Sabda Rasulullah SAW “Kaum muslim berserikat dalam tiga perkara
yaitu padang rumput, air, dan api” (HR Abu Dawud dan Ahmad).

Dalam sistem pemerintahan Khilafah, negara wajib mengelola
SDA yang ada pada negaranya. Kemudian memberikan hasilnya pada rakyat, baik
dalam bentuk SDA yang bisa langsung dikonsumsi ataupun diberikan dalam bentuk
pelayanan pada fasilitas-fasilitas umum, seperti RS dan lainnya.

Dari pengaturan kepemilikan saja, persoalan upah rendah
dapat teratasi karena terdapat jaminan sumber pemasukan negara yang sangat
melimpah dari hasil kekayaan alam. Jika SDA tersebut dikelola negara dengan
baik maka bukan hanya upah nakes saja yang tinggi, tetapi fasilitas
kesehatan juga akan mumpuni dan merata dapat dirasakan oleh seluruh rakyat.

Selain mengatur dalam hal kepemilikan, Islam pun memosisikan
penguasa sebagai raa’in dan junnah, yaitu penguasa sebagai pengurus dan
pelindung bagi rakyatnya. Seluruh urusan rakyat akan menjadi tanggung jawab
penguasa. Seperti kebutuhan pokok dalam rumah tangga, seperti kesehatan, negara
akan menjamin rakyat bisa hidup sehat.

Puskesmas akan tersebar secara merata dengan kualitas
pelayanan dan SDM yang terbaik hingga 
pelosok desa. Upah yang diterima oleh para nakes akan sepadan dengan
tenaga mereka dan  penguasa akan melayani
rakyatnya dengan sebaik-baik pelayanan seorang pelayan pada tuannya.

Sistem kesehatan tidak berada di bawah kendali swasta. Rumah
sakit yang besar maupun kecil dari kota hingga desa di bawah kontrol negara
sendiri. Negara akan memastikan seluruh rakyatnya akan mendapatkan pelayanan
yang sama dan merata. Negara juga akan memastikan seluruh rakyatnya dapat hidup
dengan sejahtera, mampu tinggal di rumah yang layak, mengakses air bersih
dengan mudah, lingkungan dengan sanitasi yang baik. Dam tak lupa, menjamin
pangan yang bergizi dan bernutrisi beredar di tengah masyarakat.

Khatimah

MasyaAllah… sungguh luar biasa sistem Islam. Sistem Islam
mampu menyejahterakan kehidupan rakyatnya. Selain mampu menyejahterakan
rakyatnya, dengan penerapan sistem Islam maka Ridho Allah akan bisa diraih
sehingga keberkahan akan terus dapat terlimpahkan dalam kehidupan. Sudah
penguasa negeri ini menengok sistem Islam. Sistem yang akan membawa keberkahan
dunia akhirat. Wallahua’lam bi shawwab.[]

Oleh : Ananda, S.T.P. (Sahabat Tinta Media)

Loading

Views: 5

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA