Tinta Media – Idulfitri baru saja menghampiri umat Islam. Hari ketika umat Islam meyakini dirinya kembali suci, bersih, dan terbebas dari dosa setelah menjalani ibadah puasa selama kurang lebih 29 hari. Momen ini dijadikan simbol lahirnya manusia baru yang kembali kepada fitrahnya sebagai makhluk Allah Swt. yang lemah dan memiliki banyak keterbatasan.
Puasa tidak hanya mengajarkan umat Islam untuk menahan lapar, haus, dan hawa nafsu. Lebih dari itu, puasa identik dengan bagaimana seorang hamba mampu berjuang melawan hal-hal yang dilarang agama dan mengerjakan apa yang diperintahkan. Saat ini, umat Islam menghadapi kondisi yang tidak ideal; banyak yang terpuruk di berbagai bidang kehidupan di sejumlah negara seperti Sudan, Palestina, Suriah, India, dan sebagainya.
Kondisi ini tentu saja berbanding terbalik dengan potensi yang begitu besar yang dimiliki oleh umat Islam. Negeri-negeri yang kaya, dengan jumlah penduduk lebih dari 2 miliar di dunia. Potensi ini terpecah dengan adanya negara bangsa yang melemahkan umat Islam. Kondisi ini memudahkan penjajah kafir Barat menguasai umat Islam dan menjadikan mereka sebagai mainan laksana boneka. Sebagaimana yang terjadi hari ini, sebagian besar negeri-negeri Muslim justru bersekutu dengan Amerika Serikat dan juga Israel dalam memerangi Palestina dan Iran. Enam negara, yaitu Bahrain, Yordania, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, mengutuk serangan balasan Iran bersama Amerika Serikat (cnbcindonesia.com, 02/03/2026).
Fakta ini patut menjadi pelajaran bagi umat Islam. Di tengah semarak Idulfitri yang identik dengan kemenangan, apakah umat Islam benar-benar layak merayakannya?
Lemahnya Kesadaran Umat Islam
Kondisi umat Islam saat ini disebabkan oleh lemahnya kesadaran dalam memahami Islam sebagai ideologi. Ramadan sebagai momen penting untuk melahirkan manusia bertakwa hanya dimaknai dalam cakupan individu, bukan pada tingkat masyarakat atau negara. Padahal, dalam Surah Al-Baqarah ayat 183, Allah Swt. memerintahkan orang-orang beriman untuk berpuasa guna meraih derajat takwa. Arti takwa sebenarnya adalah menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Islam sebagai sebuah ideologi memiliki aturan yang menyeluruh dalam kehidupan, di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, bahkan terkait dengan hubungan dengan negara-negara lain, mencakup dalam hal kerja sama maupun perang. Aturan ini tidak akan bisa terlaksana dengan sempurna tanpa ada sebuah institusi negara yang menerapkannya. Kehadiran negara menjadi syarat wajib lahirnya masyarakat yang bertakwa, sebagaimana tujuan dalam puasa Ramadan.
Posisi umat Islam di dunia hari ini tampak semakin lemah. Tindakan brutal yang dilakukan oleh negara kafir Barat seolah tidak dapat dihentikan oleh siapa pun dari negara mana pun. Padahal, Allah telah memberikan umat Islam predikat sebagai umat terbaik, dan terbukti umat Islam pernah menjadi umat yang disegani oleh dunia selama kurang lebih 13 abad lamanya.
Posisi geopolitik dan geostrategis umat Islam dari sisi SDM dan SDA memiliki potensi yang sangat besar untuk bangkitnya kembali Islam sebagai sebuah ideologi yang berpengaruh di dunia. Negeri-negeri Islam kaya akan sumber daya alam dan manusia, yang ketika potensi ini disatukan tentu saja akan menjadi kekuatan yang tidak bisa diremehkan.
Penyatuan potensi umat Islam tidak akan bisa terwujud tanpa adanya gerakan yang terarah oleh sebuah partai ideologis. Oleh karena itu, kembalinya kehidupan Islam dalam sebuah negara hanya dapat dilakukan oleh partai politik Islam ideologis yang sahih di tengah-tengah masyarakat.
Menumbuhkan Kesadaran Ideologis
Umat Islam saat ini perlu disadarkan bahwa Islam adalah ideologi, bukan sekadar agama yang mengatur ibadah, melainkan juga sistem yang mampu menyelesaikan berbagai persoalan manusia. Umat Islam tidak boleh merasa risih terhadap kata politik yang saat ini diidentikkan dengan kekuasaan dan kepentingan terselubung. Umat harus paham bahwa makna politik dalam Islam adalah upaya mengurus urusan umat, sebagaimana makna asal dalam bahasa Arab dari kata siyasah yang berarti mengurus, mengatur, memimpin, atau membuat kebijakan.
Dengan demikian, politik Islam dapat dimaknai sebagai upaya mengurus urusan manusia dengan aturan Islam. Sebagaimana yang termaktub di dalam Al-Qur’an Surah An-Nisa ayat 59 yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
Aktivitas penyadaran Islam politik menjadi perkara yang sangat mendesak dan harus segera dilakukan dengan penuh keseriusan oleh partai Islam yang benar-benar tulus berjuang demi kemuliaan Islam dan umat Islam, bukan partai semu yang mengatasnamakan partai Islam, namun justru melangkah dengan menggunakan sistem kufur demokrasi yang semakin menjauhkan umat Islam dari kebangkitan yang hakiki.
Momen Ramadan dan Idulfitri sudah selayaknya menjadi titik awal bagi partai-partai Islam untuk melakukan konsolidasi dan menciptakan persatuan demi kemenangan Islam melalui tegaknya institusi resmi yang disebut Khilafah.
Khilafah adalah ajaran Islam yang dipraktikkan oleh Nabi Muhammad saw., para sahabat, dan generasi setelahnya. Khilafah menjadi syarat agar ketakwaan pasca-Ramadan bukan sekadar ketakwaan individu, tetapi ketakwaan totalitas masyarakat dalam negara dengan seperangkat aturan yang bersandar pada Al-Qur’an dan Sunah Nabi. Inilah wujud kemenangan yang sesungguhnya di Hari Raya Idulfitri. Wallahu a’lam bish-shawab.
Oleh: Zahra Tenia,
Aktivis Muslimah
![]()
Views: 0















