๐“๐ˆ๐๐’ ๐€๐†๐€๐‘ ๐Œ๐”๐ƒ๐€๐‡ ๐Œ๐„๐๐”๐‹๐ˆ๐’ ๐Š๐€๐‹๐ˆ๐Œ๐€๐“/๐๐€๐‘๐€๐†๐‘๐€๐… ๐๐„๐‘๐“๐€๐Œ๐€ (๐“๐ž๐ค๐ง๐ข๐ค ๐Œ๐ž๐ง๐ฎ๐ฅ๐ข๐ฌ ๐‘ญ๐’†๐’‚๐’•๐’–๐’“๐’† ๐‘ต๐’†๐’˜๐’”)

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads
Tinta Media – Pernah enggak Anda mengalami kesulitan ketika hendak memulai menuliskan kalimat pertama pada paragraf pertama? Padahal ide untuk menulis bahkan kerangka karangan juga sudah terbayang jelas di benak. Tapi anehnya, ketika mau menulis kok terasa sulit. Begitu bukan yang Anda rasakan? 
Masalah tersebut terjadi karena semuanya terbayang berbarengan di kepala. Jadi membuat Anda kehilangan fokus adegan apa yang mau ditulis duluan. Adegan yang mau ditulis duluan di paragraf pertama itu disebut ๐‘Ž๐‘›๐‘”๐‘™๐‘’.
๐ด๐‘›๐‘”๐‘™๐‘’ merupakan sudut pandang penulisan yang pertama kali ditulis di kalimat pertama pada paragraf pertama. Istilah ๐‘Ž๐‘›๐‘”๐‘™๐‘’ ini diadopsi dari dunia fotografi. Nah, bila saya sedang merasa kesulitan membuat kalimat pertama ketika menulis karangan khas (๐‘“๐‘’๐‘Ž๐‘ก๐‘ข๐‘Ÿ๐‘’ ๐‘›๐‘’๐‘ค๐‘  /FN), biasanya saya akan bertindak seolah-olah sebagai fotografer yang sedang memotret suatu kejadian. 
Dalam demonstrasi, misalnya. Seorang fotografer bisa saja memotret dari jauh sekumpulan orang yang sedang berdemo untuk menunjukkan suasana; atau fokus kepada salah seorang pendemo yang mengacungkan poster sehingga dengan mudah pembaca menangkap pesan yang disampaikan poster tersebut.
Coba perhatikan foto yang dipotret fotografer tersebut (enggak ada di unggahan status ini, semuanya termasuk fotografernya hanya ada di benak saya dan Anda saja, heโ€ฆ heโ€ฆ). Foto pertama kelihatan sekerumunan orang di pinggir jalan. Sebagian ada yang tampak mengangkat poster, ada beberapa yang membentangkan spanduk, dan yang di atas mobil komando tampak sedang orasi. Enggak ada adegan lain kan? Misal, adegan ketika mereka masih di rumahnya masing-masing, atau adegan beragam laku yang mereka perbuat usai demo. Sama sekali tidak ada!
Jadi adegannya hanya itu saja bukan? Hanya semua yang tertangkap kamera dalam sekali jepret saja. Maka Anda tuliskan saja yang Anda lihat di foto tersebut, jangan tuliskan hal lain yang tidak ada di foto. Camkan itu! Heโ€ฆ heโ€ฆ 
Begitu juga dengan foto yang kedua. Mesti di dalam foto itu hanya ada satu adegan saja bukan? Misalnya, foto orang yang sedang mengacungkan poster. Pastilah yang terlihat adalah foto orang yang sedang mengacungkan poster. Sama sekali tidak ada adegan orang tersebut berangkat dari rumah untuk pergi demo, tidak ada pula adegan orang tersebut makan mi ayam setelah demo. Padahal sejatinya (anggap saja begitu), dia itu berangkat demonya dari rumah, usai demo makan mi ayam. Oke deh saya ngaku, saya sih yang biasanya usai demo lalu makan mi ayam. Heโ€ฆ heโ€ฆ 
๐‚๐š๐ซ๐š ๐Œ๐ž๐ง๐ฎ๐ฅ๐ข๐ฌ๐ค๐š๐ง๐ง๐ฒ๐š
Maka, ketika Anda hendak menulis angle, jangan lupa bersikaplah seperti fotografer. Potretlah salah satu adegan dalam benak Anda. Bayangkan potret tersebut kuat-kuat, jangan pindah ke adegan lain. Perhatikan semua yang ada di potret tersebut, lalu tuliskanlah. 
Oke, dari seluruh rangkaian peristiwa demonstrasi tersebut sudah dipotret salah satu adegannya. Lantas bagaimana menuliskannya? Menuliskan angle bisa menggunakan segala macam kemungkinan dari urutan rumus 5 W + 1 H (๐‘คโ„Ž๐‘œ [siapa], ๐‘คโ„Ž๐‘Ž๐‘ก [apa/sedang apa], ๐‘คโ„Ž๐‘’๐‘› [kapan], ๐‘คโ„Ž๐‘’๐‘Ÿ๐‘’ [di mana], ๐‘คโ„Ž๐‘ฆ [mengapa], dan โ„Ž๐‘œ๐‘ค [bagaimana]).
Pilihlah salah satunya yang dianggap: lebih menarik, lebih penting, lebih menggambarkan suasana peristiwa, lebih berdampak, atau lebih lainnya yang memang dinilai layak untuk dituliskan pertama kali.
Bila memotret suasana, salah satu kemungkinannya bisa seperti ini:
Sekitar 20 ribu massa ormas Islam dari Jabodetabek dan sekitarnya melakukan aksi tolak pemimpin kafir, Ahad (4/9/2016) di silang Monas sisi patung kuda, Jakarta. Spanduk dan poster bertuliskan ๐ป๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘š ๐‘ƒ๐‘’๐‘š๐‘–๐‘š๐‘๐‘–๐‘› ๐พ๐‘Ž๐‘“๐‘–๐‘Ÿ dan kalimat yang senada dibentangkan dan diacungkan para demonstran. Di atas mobil komando, dengan lantang orator pun berteriak, โ€œHaram memilih pemimpin kafir!โ€
Nah, begitu juga saya ketika hendak menulis karangan khas ๐ฝ๐‘Ž๐‘›๐‘—๐‘– ๐ผ๐‘ก๐‘ข ๐ท๐‘–๐‘˜โ„Ž๐‘–๐‘Ž๐‘›๐‘Ž๐‘ก๐‘– (silakan klik https://bit.ly/3tMuXMK). Banyak adegan yang terbayang di dalam benak. Ada adegan ketika sidang BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia); ada adegan ketika sidang Konstituante; dan adegan-adegan lainnya. 
Saat mau menuliskannya, saya memotret suasana sidang Konstituante. Mengapa? Karena itu yang paling terbayang, maklumlah dari kecil hingga dewasa saya tinggal di Bandung, dan Gedung Merdeka (yang dulu digunakan untuk Sidang Konstituante) sudah sering saya lihat. Jadi bagi saya lebih mudah membayangkan gedung tersebut.  
Bila ๐‘Ž๐‘›๐‘”๐‘™๐‘’ suasana demo di atas diadaptasi menjadi angle suasana karangan khas ๐ฝ๐‘Ž๐‘›๐‘—๐‘– ๐ผ๐‘ก๐‘ข ๐ท๐‘–๐‘˜โ„Ž๐‘–๐‘Ž๐‘›๐‘Ž๐‘ก๐‘–, maka rekonstruksinya bisa seperti di bawah ini:
Sekitar 550 orang berkumpul di dalam Gedung Merdeka, Bandung pada 10 November 1956. Dalam bangunan klasik dua tingkat berlantaikan marmer mengkilap khas kolonial ๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘ก ๐‘‘๐‘’๐‘๐‘œ, Presiden Soekarno melantik wakil rakyat hasil pemilu 1955 sebagai anggota Konstituante (lembaga yang membahas perubahan dasar negara dan undang-undang dasar). Pelantikan tersebut menandakan pula dimulainya sidang. 
Sedangkan ๐‘Ž๐‘›๐‘”๐‘™๐‘’ pemotretan yang fokus kepada salah satu detail (misal: pendemo yang mengacungkan poster), salah satu kemungkinannya seperti ini:
Sembari mengacungkan poster bertuliskan ๐ป๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘š ๐‘ƒ๐‘’๐‘š๐‘–๐‘š๐‘๐‘–๐‘› ๐พ๐‘Ž๐‘“๐‘–๐‘Ÿ, Joko Prasetyo bersama ribuan demonstran lainnya yang berasal dari Jabodetabek dan sekitarnya, berteriak, โ€œAllahu Akbar!โ€ ketika mendengar orator meneriakkan haramnya memilih pemimpin kafir, Ahad (4/9/2016) di silang Monas sisi patung kuda, Jakarta.
๐ด๐‘›๐‘”๐‘™๐‘’ tersebut bila diaplikasikan kepada FN ๐ฝ๐‘Ž๐‘›๐‘—๐‘– ๐ผ๐‘ก๐‘ข ๐ท๐‘–๐‘˜โ„Ž๐‘–๐‘Ž๐‘›๐‘Ž๐‘ก๐‘– maka kalimat pertama sekaligus paragraf pertamanya bisa seperti ini:
Dengan lantang dan blak-blakan Buya Hamka mengingatkan. โ€œBila negara kita ini mengambil dasar negara berdasarkan Pancasila, sama saja kita menuju jalan ke nerakaโ€ฆ,โ€ tegas ulama yang berafiliasi ke Partai Masyumi, dalam pidatonya di hadapan lebih dari 500 peserta Sidang Konstituante (1956-1959) di Gedung Merdeka, Bandung. 
Oh iya, pembahasan penulisan angle banyak persamaannya dengan pembahasan penulisan ๐‘™๐‘’๐‘Ž๐‘‘ (teras/paragraf pertama) karena seperti yang sudah disinggung, angle adalah kalimat pertama pada paragraf pertama alias bagian dari teras. Jadi, mau tidak mau, ketika salah satunya dibahas, lainnya mesti saja terbahas. 
Jadi bila Anda kesulitan menuliskan paragraf pertama, bahkan kalimat pertama, jangan lupa potret saja salah satu adegan peristiwa di benak Anda. Bekukan adegan tersebut lalu tuliskanlah di kalimat pertama dan seterusnya hingga menjadi paragraf pertama. Coba praktikkan deh, semoga menulis kalimat pertama dan paragraf pertama jadi lebih mudah. ๐ด๐‘Ž๐‘š๐‘–๐‘–๐‘›.[]
Depok, 25 Dzulhijjah 1443 H | 24 Juli 2022 M
Joko Prasetyo 
Jurnalis

Loading

Views: 13

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA