Editor Opini TM Ingatkan Swasunting Sangat Penting!

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Editor Opini Tinta Media (TM) Ida Royanti mengingatkan bahwa swasunting sangat penting, jangan sampai penulis tidak melakukan swasunting karena pembaca bisa salah persepsi.

“Swasunting memang sangat penting. Jangan sampai kita tidak melakukan swasunting, pembaca bisa salah persepsi,” tuturnya dalam acara Kelas Swasunting di WhatsApp Grup Kelas Swasunting yang diselenggarakan oleh Tinta Media, bertajuk Yuk Belajar Edit Naskah! Kamis (26/6/2025).

Ia meminta, sebelum kelas dimulai untuk meresapi kumpulan kata spontan terlebih dahulu.

“Penaku menari-nari
Membentuk untaian kata tak berarti
Awalnya aku tak peduli
Yang penting, keluar semua isi hati
Kata Cikgu tak mengapa
Asal tertuang semua isi kepala.”

“Hasilnya … sungguh luar biasa
Persepsiku dan pembaca ternyata berbeda
Yang kumaksud adalah a
Pembaca menangkapnya ba.”

“Oh … apa yang salah?
Penjelasan Cikgukah?
Aku mencari
Namun, belum ada jawaban yang pasti
Kuteliti lagi … dan lagi.”

“Astaghfirullah … ternyata aku yang salah
Penjelasan Cikgu nyatanya tak berhenti di sana.”

“Ada satu hal yang sangat penting
Sebelum tulisan dilempar, harusnya aku melakukan swasunting.”

Penggalan kalimat tersebut, menggugah semangat dari para penulis ideologis yang mengikuti kelas tersebut.

“Sepenting itu swasunting, siap belajar lebih dalam Ustadzah…,” sahut salah satu peserta.

Ia memulai kelas dengan memberikan kuis essai.

“Ibu saya membeli baju kebaya dan sepatu. Menurut teman-teman, ada berapa persepsi yang bisa terbentuk dari kalimat tersebut,” tanya Ida.

“Ada tiga persepsi. Ibu saya membeli baju. Ibu saya membeli kebaya. Ibu saya membeli sepatu,” jawab salah satu peserta.

“Dua ustadzah. Pertama, Ibu, saya membeli baju kebaya dan sepatu. Kedua, Ibu saya, membeli baju kebaya dan sepatu. Subyek bisa saya dan ibu saya,” sahut peserta lain.

Ida pun memberi jawaban dengan cepat tapi tepat.

“Silakan diperhatikan beberapa persepsi di bawah ini. Tanda / hanya sebagai pemenggal saja, untuk memudahkan saat belajar di sini.

1. Ibu, saya membeli baju, kebaya, dan sepatu.
2. Ibu, saya membeli baju kebaya dan sepatu.
3. Ibu saya / membeli baju, kebaya, dan sepatu.
4. Ibu saya / membeli baju kebaya dan sepatu.”

Kemudian, Ida mengingatkan salah satu fungsi bahasa sebagai alat komunikasi.

“Teman-teman … Masih ingat, kan, bahwasanya salah satu fungsi bahasa adalah sebagai alat komunikasi, yaitu proses pertukaran informasi, ide, perasaan, atau pesan antara individu atau kelompok, baik secara verbal maupun non-verbal, dengan tujuan untuk mencapai pemahaman bersama,” jelasnya.

Menurut Ida, bahasa verbal adalah komunikasi yang menggunakan kata-kata, baik lisan maupun tulisan. Sedangkan bahasa nonverbal adalah komunikasi yang menggunakan isyarat, gerak tubuh, ekspresi wajah, intonasi suara, dan elemen lainnya selain kata-kata untuk menyampaikan pesan. 

“Kalau katanya Ustad Nur tadi, bagaimana kalau pakai intonasi? Sebenarnya bisa, kalau itu adalah bahasa lisan. Kalau bahasa tulisan tidak bisa. Kenapa,” tanya Ida.

“Karena harus sesuai PUEBI,” sahut peserta.

“Tulisan itu harus (sesuai) EYD. Lisan berdasarkan dialek atau logat daerah,” sahut peserta lain.

“Kalau lisan, tergantung dari intonasi dan jeda dari pengucapan,” jawab Ida.

Ia menjelaskan bahwa dalam bahasa lisan, kalimat Ibu saya membeli baju kebaya dan sepatu tidak salah, asalkan intonasi dan jeda pengucapannya tepat.

Namun, tegas Ida, dalam bahasa tulisan, kalimat itu menimbulkan banyak persepsi. Setidaknya, ada empat persepsi yang berbeda. Itulah mengapa penggunaan tanda baca sangat penting, baik titik, koma, dll.

Suasana Kelas Swasunting jadi berubah 180 derajat ketika ada salah satu peserta bertanya.

“Jadi punya pertanyaan Ustadzah, perbedaan PUEBI dan EYD apa Ustadzah,” tanya peserta.

“He he he. Itu adalah bagian dari watak dasar masyarakat kita yang plin plan. Pepatah Jawa mengatakan, ‘Esok dele sore tempe.’ Artinya: Pagi masih berupa kedelai, sore sudah jadi tempe, alias plin plan,” kritik Ida.

Ida menyampaikan kepada Pemred TM.

“Jadi lompat pembahasannya, Tadz. Sepertinya materinya tidak cukup kalau hanya sampai hari ini. Tambah hari lagi nggeh,” tanya Ida.

Berhubung pembahasannya makin asik, Ida memberikan tambahan waktu 30 menit.

“Teman-teman, kalau waktunya saya tambah 30 menit lagi,” ucap Ida.

Selama 30 menit, kelas dilanjutkan dengan sesi diskusi dengan suasana serius dan antusias dari setiap peserta.

Kelas tersebut ditutup tepat pukul 21.30 WIB.

“Insyaallah kita sambung pekan depan nggeh, kalau tidak Kamis ya Rabu. Mohon maaf kalau banyak salah dan khilaf, semoga bermanfaat untuk kita semua. Kita tutup dengan hamdalah, istighfar, dan doa penutup majelis,” tutupnya.[] Novita Ratnasari

Views: 24

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA