Tinta Media – Kebijakan pemerintah mengenai kenaikan PPN menjadi 12 persen sudah menjadi gejolak panas yang menyulut emosi masyarakat. Pro kontra pun mulai bermunculan, terlebih di media massal.
Seperti yang dilakukan Badan Eksekusif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) yang baru-baru ini menggelar demonstrasi menolak kenaikan pajak pertambahan nilai (PPN) menjadi 12 persen di istana negara, pada Jumat (27/12).
Namun aksi tersebut berakhir pada tindakan aparat kepolisian berupa pengerahan dua kendaraan water canon untuk membubarkan unjuk rasa dari Badan Eksekusif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) di depan patung kuda itu (Medcom.id, 28/12/2024).
Mahasiswa Membela, Sudahkan Melek Politik?
Aksi para mahasiswa tersebut tentunya merupakan buah dari kebijakan yang faktanya tak lagi berpihak pada kesejahteraan rakyat. Maka pantas jika lahirnya kebijakan tersebut mengakibatkan penolakan besar-besaran dari rakyat, terlebih gen z yang posisinya diharapkan menjadi pelopor sebuah perubahan.
Respon para mahasiswa ini merupakan bentuk bahwa masih ada sebagian dari mereka yang melek politik,dan tak bersikap apatis. Dan hal ini seharusnya menjadi sebuah alarm peringatan, sekaligus tamparan bagi pemerintah bahwa aksi para generasi muda butuh diiringi dengan persepsi politik yang shahih dan benar. Jangan sampai aspirasi mereka hanya sebatas gejolak api semata tanpa diiringi pemikiran terkait solusi mengakar atas problematika yang ada.
Sehingga, dengan adanya arahan pemahaman politik yang benar, aksi nyata para mahasiswa tak akan berakhir dengan kegaduhan dan tindak kekerasan yang justru malah memperumit problematika yang ada.
Butuh tutunan persepsi politik Islam
Islam memandang bahwa politik adalah bagian dari ajaran Islam. Sebab, Islam adalah metode kehidupan yang unik. Jauh berbesa dengan agama maupun Ideologi lain.
Dari segi regional wilayah ajarannya, Islam bukan sebatas agama spiritual yang hanya mengurusi masalah ruhiah (spiritual). Islam adalah agama sekaligus ideologi yang mengurus masalah politik (Siyasah). Dengan kata lain, Islam adalah akidah yang bersifat spiritual dan politik (al-‘aqidah ar’ ruhiyah wa as-siyasiyah).
Maka keberadaan Islam sebagai pengatur masalah yang berhubungan dengan akhirat seperti surga-neraka, pahala-siksa, ibadah (shalat, puasa, zakat, haji dll) sekaligus mengatur urusan kehidupan dunia seperti politik, ekonomi, sosial, pemerintahan, pendidikan, hukuman dan sebagainya.
Oleh karena itu, bercermin dari masalah demonstrasi dari para mahasiswa terkait penolakan kebijakan pemerintah mengenai kenaikan PPN 12 persen baru-baru ini, dapat disimpulkan bahwa sebenarnya aksi tersebut dapat menjadi satu bentuk aksi perubahan jika dituntun dengan pemikiran politik yang benar, yaitu pemikiran politik Islam.
Maka seharusnya para mahasiswa dan generasi muda bergabung dengan partai politik Islam yang keberadaannya menjadi pelopor sebuah perubahan menuju kehidupan yang lebih baik. Bukan sekedar melek politik yang didefinisikan oleh sistem saat ini, melainkan politik yang diajarkan oleh Islam yaitu; _riayah syuunil ummah_ mengurusi kondisi ummat.
Dengan adanya pemahaman politik Islam di setiap individu masyarakat. Kebangkitan akan dengan mudah terealisasikan; sebab politik merupakan komponen penting sebuah perubahan.
Maka menerapkan sistem Islam dalam seluruh aspek kehidupan merupakan hal yang urgent. Sebab dengan diterapkannya lah kesejahteraan sekaligus keadilan akan merata dirasakan oleh seluruh komponen masyarakat.
Wallahu a’lam bish showwab.
Oleh: Nabilah Nursaudah
Santri Ideologis
![]()
Views: 11





