UIY Bongkar Bahaya Perjanjian Militer RI-AS

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads
UIY Bongkar Bahaya Perjanjian Militer RI-AS

Tinta Media – Cendekiawan Muslim, Ustadz Ismail Yusanto (UIY), membongkar bahaya perjanjian militer Republik Indonesia dengan Amerika Serikat (RI-AS) yang berpotensi membuka akses bebas bagi pesawat militer AS melintas wilayah udara Indonesia.

Hal itu ia nyatakan dalam program Fokus to The Point bertajuk Kerjasama Militer AS-Indonesia, Ancam Kedaulatan? Di kanal YouTube UIY Official, Ahad (27/4/2026).

“Ketika kalau kita membaca draf perjanjian itu, begitu rupa sampai pada titik di mana hampir-hampir enggak ada perkecualian. Itu artinya Amerika bisa sewaktu-waktu untuk kepentingan apapun lewat udara Indonesia,” kata UIY.

Ia menganalogikan, kalau ibarat rumah itu sudah hampir enggak ada pintu, enggak ada jendela. “Orang bisa keluar masuk semau dia,” imbuhnya.

Ia menyebut kesepakatan itu menjadikan langit Indonesia “seperti tol gratis” bagi kepentingan militer AS.

UIY pun menjelaskan bahwa transportasi udara kini menjadi moda paling cepat untuk memindahkan barang dan orang, termasuk untuk kepentingan pertahanan.

“Karena itu, perlindungan wilayah udara sangat penting, bukan hanya untuk Indonesia tapi juga agar tidak dipakai menyerang negara lain,” nilainya.

Menanggapi pernyataan Kementerian Pertahanan RI yang menyebut izin pesawat militer AS masih tahap pembahasan awal, UIY menegaskan, itu artinya pembahasan itu memang ada. Terlepas dari final atau tidak, substansi perjanjian tetap berbahaya.

UIY lantas mempertanyakan apa kepentingan Indonesia menerima kesepakatan itu? Sementara kepentingan AS jelas: butuh jalur cepat dari pangkalan militer di Darwin, Australia, ke utara menuju Taiwan, Filipina, dan Singapura, terutama untuk mengantisipasi ancaman dari Cina.

“Selama ini juga hampir enggak ada halangan lewat Indonesia, tinggal permisi saja. Ini masalah legalitas. Ingin keluar masuk dengan bebas,” bebernya.

“Kalau sudah selesai misi ke utara kan dia balik lagi ke selatan ke pangkalan udara di Darwin. Jadi ibarat kata, kalau tol itu sudah gak perlu bayar lagi. Bahkan enggak perlu ngomong, sudah lewat begitu saja,” tambah UIY.

*Untungkan Siapa?*

Terkait kesepakatan modernisasi militer, pelatihan, dan kerja sama operasional RI-AS, UIY menilai pasti ada bagian yang menguntungkan Indonesia. Namun, ia mengingatkan posisi Indonesia sebagai “negara satelit” yang berada di orbit negara besar.

“Kita memberikan kompensasi mungkin bukan hanya terlalu besar tapi besar sekali. Ketika udara kita hampir enggak ada perlindungan apapun melalui perjanjian itu,” tegasnya.

UIY juga mempersoalkan latihan militer bersama yang terdapat dalam perjanjian tersebut.

“Ketika militer berlatih pasti harus ada identifikasi terhadap musuh. Berarti kita yang mengikuti definisi musuh menurut Amerika,” katanya.

Padahal, lanjutnya, ancaman nyata bagi Indonesia adalah asing, kolonialisme, imperialisme, liberalisme, sekularisme.

“Nah, biang dari itu semua siapa? Bukankah Amerika? Kita bekerja sama dengan sumber dari itu semua.” ungkapnya.

*Kontradiksi Sikap Indonesia*

Lebih lanjut UIY menyoroti kontradiksi sikap Indonesia di tengah gencarnya serangan AS ke negeri Islam.

Ia menyebut bahwa AS sebagai aktor utama yang menggempur Iran dan membiarkan genosida di Gaza, Palestina. Bahkan Menteri Pertahanan AS pernah mengatakan “kill all the Muslim” dan memiliki tato bertuliskan “kafir”.

“Kita ini sudahkah cukup punya dasar untuk mendefinisikan siapa sebenarnya lawan kita? Ketika itu tidak ada, maka kita harus bersiap menghadapi kenyataan pahit seperti sekarang ini,” ujar UIY.

Ia menyayangkan sikap pemerintah RI yang bahkan tidak mengecam Israel ketika menyebabkan enam prajurit TNI gugur.

“Untuk yang meninggal ada belasungkawa, tapi untuk yang menimbulkan kematian itu gak ada. Seolah-olah ini kejadian kayak hujan tiba-tiba turun,” sesalnya.

*Status Amerika: Darul Harb Fi’lan*

Dalam pandangan Islam, UIY menjelaskan pembagian status negara yang terdiri dari darul Islam dan darul kufur.

Darul kufur, terangnya, terbagi darul harb dan darul mu’ahid, dan sebagainya. Darul harb adalah yang memerangi secara faktual (fi’lan) atau berstatus perang (hukman).

“Sekarang, Amerika ini yang mana? Ketika dia jelas menyerang Iran, ketika dia jelas membantu penyerangan terhadap Gaza, maka paling buruk darul harb hukman. Malah kalau dilihat fakta mestinya dia fi’lan,” tegas UIY.

“Kalau fi’lan, maka hubungan antara negeri Muslim dengan Amerika itu mestinya hubungan perang. Tidak boleh ada kerja sama apapun, apalagi menganggap dia sahabat. Itu menjadi persoalan mendasar ketika kita salah menyikapi Amerika ini,” pungkasnya. [] Langgeng Hidayat

Loading

Views: 2

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA