Tinta Media – Kasus remaja bunuh diri atau bundir di Kabupaten Jembrana, Bali, telah menjadi perhatian serius dalam beberapa tahun terakhir. Meningkatnya angka kasus ini mencerminkan berbagai masalah sosial dan psikologis yang dihadapi oleh generasi muda di daerah tersebut. Nyatanya, memang bundir di Bali mendapatkan peringkat pertama. Maka tak ayal, jika setara kabupaten kecil pun juga menyumbang angka tersebut.
Salah satu kejadian kasus percobaan bunuh diri dilakukan oleh remaja berusia 15 tahun di Desa Melaya, Jembrana. Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Perundungan Perempuan dan Anak (PPA) Jembrana, Ida Ayu Sri Utami Dewi, mengatakan bahwa kasus bunuh diri yang dilakukan remaja di Jembrana tahun ini sudah dua kali terjadi. Tahun sebelumnya 2023 terjadi satu kasus bunuh diri remaja, dan tahun ini berulang di bulan November (radarbali.jawapos.com, 5/11/2024). Angka ini sejatinya hanyalah yang terlapor, yang tidak terlapor sudah pasti menimpa orang dewasa juga.
Kasus-kasus bunuh diri yang menimpa remaja sejatinya bukan karena coba-coba. Tetapi juga karena adanya dorongan atau stimulus yang membuat mereka berpikir pendek. Sebagaimana kasus yang menimpa remaja di Jembrana ini berawal dari kekesalannya pada sang ibu karena sering dimarahi. Sebenarnya niat sang ibu adalah mengajak sembahyang, namun ditolak si anak dan kemudian terjadilah adu mulut. Karena bukan sekali ini si anak merasa dimarahi, maka timbullah niat untuk mengakhiri hidupnya
Tren bunuh diri yang sudah menggejala di remaja jelas tidak bisa dikatakan sebagai problem individu. Tren bundir menggambarkan betapa buruknya mentalitas remaja. Mentalitas merupakan faktor internal yang mempengaruhi seseorang dalam hidup. Mentalitas yang lemah dihasilkan dari cara pandang yang salah atas kehidupan.
Hari ini, masyarakat dituntut untuk peduli dan peka terhadap kondisi di sekitarnya. Namun, tuntutan ini hanya sebatas personal tanpa didukung dengan penerapan dan pengendalian hukum yang tegas. Negara hanya memberikan ceramah untuk bersikap baik, tidak terjerumus pada perilaku menyimpang dan lain-lain, namun ia justru menyuburkan mentalitas yang lemah, bukan hanya pada remaja, tetapi hampir semua usia. Bukankah ini termasuk bualan semata?
Inilah akibat penerapan pandangan hidup yang dijadikan pedoman negeri ini yakni akidah sekularisme, maka wajar terjadi krisis keimanan sehingga mental remaja sakit dan rendah. Parahnya lagi karena sekularisme melahirkan paham kapitalisme yang merupakan ideologi materialistik untuk mengatur kehidupan. Akhirnya mereka harus menghadapi negara yang abai terhadap kebutuhan rakyatnya. Remaja pun tidak punya pegangan kehidupan yang kuat sehingga menjadikan bunuh diri sebagai solusi tercepat ketika mereka menghadapi masalah.
Penderitaan akibat sekularisme ini harus diakhiri dengan senantiasa mendakwahkan Islam sebagai akidah siyasiyah di tengah masyarakat. Islam bukan agama ritual yang hanya cukup dijalankan melalui ibadah personal, seperti salat, puasa, zakat, dll. Akidah ini harus dipahami dengan kerangka berpikir yang benar hingga dia memahami bahwa dia harus taat kepada Allah dan menjalankan semua syariat-Nya. Dalam Islam, untuk menanamkan akidah yang benar dibutuhkan peran negara, karena negara yang memiliki kekuatan mengatur rakyatnya. Dengan begitu, Islam akan mampu menerapkan sistem pendidikan Islam untuk mencetak generasi yang berkepribadian Islam
Oleh: Syifaul Qolbi
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 7
















