Mudik Lebaran: Kecelakaan dan Kemacetan Berulang, Solusi Serius Belum Tampak

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Arus mudik menjelang Hari Raya Idulfitri 2026 di jalur selatan Nagreg mengalami peningkatan signifikan dan menambah kemacetan panjang di sejumlah titik, terutama di daerah Cicalengka dengan antrean kendaraan yang mengular hingga mencapai lima kilometer.

 

Kecelakaan maut terjadi di Tol Pejagan–Pemalang (PPTR) KM 290 jalur B antara bus dan mobil LCGC Toyota Calya pada Kamis (19/03/2026) pagi. Jalur kecelakaan saat itu digunakan untuk one way arah Pemalang.

 

Bus Agra Mas bernopol T 7622 DA hancur pada bagian bodi belakangnya. Sementara mobil Calya bernopol B 2399 FFR remuk pada bagian depannya. Kapolres Bayu Prasatyo menyatakan empat orang penumpang meninggal dunia dan satu orang lainnya mengalami luka-luka.

 

Kecelakaan dan kemacetan parah selalu mewarnai arus mudik dan arus balik setiap tahunnya. Korlantas Korlantas Polri melalui Paminbinwas Subdit Dakgar Dirgakkum, Ipda Hanny Neno, mengungkapkan angka kecelakaan selama arus mudik Lebaran 2026 mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Menurutnya, laka lantas pada tahun 2026 naik 1,97 persen dibanding tahun 2025.

 

Permasalahan ini selalu berulang setiap tahun karena lonjakan volume kendaraan pribadi yang masif, infrastruktur jalan yang terbatas, serta perilaku berkendara yang kurang disiplin dalam berlalu lintas. Faktor penyebab utama lainnya ialah kelelahan fisik pengemudi (microsleep), kondisi kendaraan, serta kebiasaan pulang secara bersamaan yang menimbulkan titik puncak kemacetan.

 

Indonesia dengan jumlah penduduk sebanyak 283 juta jiwa menempati peringkat keempat dunia yang memiliki populasi kendaraan lebih dari 164 juta unit pada 2024. Menurut laporan data Korlantas Polri, populasi kendaraan di Indonesia mencapai 164.136.793 unit. Perinciannya mencakup 80,1 juta sepeda motor dan 13,7 juta mobil pribadi.

 

Sekretaris BKKBN, Budi Setiyono, menyebut kendaraan pribadi masih mendominasi arus mudik kemarin dan transportasi umum belum menjadi tulang punggung moda mobilitas nasional.

 

Beliau mengungkapkan, kondisi ini tidak hanya menciptakan kemacetan, tetapi juga meningkatkan risiko kecelakaan, memperbesar konsumsi energi, dan menambah biaya sosial secara keseluruhan.

 

Kemacetan dan kecelakaan saat mudik Lebaran telah memakan korban jiwa yang jumlahnya tidak sedikit setiap tahunnya. Menurut laporan data Kepolisian Negara Republik Indonesia, jumlah kecelakaan lalu lintas selama masa Angkutan Lebaran 2026 sebanyak 3.517 kejadian dengan jumlah korban meninggal dunia mencapai 300 jiwa.

 

Meskipun terjadi penurunan sekitar 6,31 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 3.754 kejadian, tetap saja permasalahan kecelakaan arus mudik menjelang hari raya selalu terjadi. Ini membuktikan tidak ada upaya serius dari pemerintah untuk mengatasi kecelakaan dan kemacetan parah yang terjadi setiap tahun. Walaupun sudah ada upaya teknis yang dilakukan pemerintah, hal itu belum mencukupi.

 

Permasalahan mudik terkait erat dengan minimnya transportasi massal yang nyaman dan murah sehingga jumlah kendaraan pribadi melebihi kapasitas jalan. Kondisi ini diperparah dengan jalan yang rusak sehingga memicu kemacetan parah serta tingginya risiko kecelakaan lalu lintas setiap tahunnya.

 

Dalam sistem kapitalisme, negara bertindak sebagai regulator untuk kepentingan modal, bukan sebagai raa’in (pengurus rakyat) yang menjamin kesejahteraan dan keselamatan warga. Akibatnya, keselamatan rakyat sering terabaikan karena kebijakan lebih mengutamakan keuntungan korporasi daripada perlindungan publik, seperti dalam pengelolaan lahan atau penanganan fasilitas umum. Negara abai sehingga sering terjadi tragedi yang mengorbankan nyawa rakyat.

 

Khilafah mewujudkan fungsi raa’in yang mengurusi rakyat dan junnah (pelindung) untuk memastikan kemaslahatan umat. Fungsi ini diwujudkan dengan mengelola sumber daya negara, termasuk hasil SDA melalui baitulmal, untuk menyediakan pelayanan publik seperti sarana transportasi yang aman, serta menyelesaikan berbagai permasalahan rakyat secara mandiri.

 

Negara dalam sistem Islam wajib menyediakan layanan transportasi massal yang aman, nyaman, dan murah dalam jumlah yang mencukupi. Fokus utamanya ialah memenuhi kebutuhan rakyat, bukan komersialisasi, guna menjamin kemudahan mobilitas warga negara.

 

Negara bertanggung jawab penuh (ri’ayah umat) untuk membangun jalan yang memadai dan memperbaiki yang rusak guna menjamin keamanan serta kenyamanan pengguna jalan. Infrastruktur jalan dianggap krusial untuk mobilitas, ekonomi, dan keselamatan, serta merupakan amanah kepemimpinan yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat.

 

Rasulullah saw. bersabda, “Imam adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR al-Bukhari). Dalam hadis lain, Rasulullah saw. bersabda, “Imam adalah ibarat penggembala, dan hanya dia yang bertanggung jawab terhadap gembalaannya.” (HR Muslim ibn al-Hajjaj)

 

Demikianlah Islam memberi solusi terhadap kemacetan. Oleh karena itu, apa pun masalahnya, Islam mempunyai solusi dalam mengatasi persoalan kehidupan. Marilah saatnya kita kembali kepada aturan Islam yang berasal dari Allah Swt. Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Oleh: Nurmala Sari,

Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 15

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA