Dari Indonesia Gelap Menuju Cahaya

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Gerakan Indonesia Gelap sepertinya masih akan terus mewarnai dunia digital dan dunia nyata selama problematika yang menjadi penyebab munculnya aksi tersebut belum terselesaikan secara tuntas. Gerakan tersebut sebagai wujud dari keresahan dan kekecewaan rakyat yang disuarakan oleh mahasiswa terhadap segala karut-marut kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat, yang tidak sesuai dengan slogan-slogan dan janji-janji yang seringkali didengungkan.

Ini adalah langkah awal menuju perubahan, yaitu menyadari akan keadaan yang sebenarnya bahwa negeri ini dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Karena orang yang tidak menyadari kondisi hari ini tidak akan berbuat apa-apa. Apalagi pihak-pihak yang diuntungkan oleh sistem hari ini tentu tidak butuh akan adanya perubahan karena mereka dalam keadaan yang sangat baik, bahkan jika perubahan itu terjadi maka lenyaplah kenikmatan duniawi dari genggaman mereka. Hal itu akan mengganggu mereka sehingga boleh jadi mereka akan menghalangi perubahan. Sebaliknya rakyat yang selalu dikorbankan dan dirugikanlah yang akan merasakan kondisi sebenarnya negeri ini. Maka rakyat yang harus mendorong perubahan dan tidak perlu berharap kepada pihak-pihak yang sedang dibuai kemewahan yang diberikan sistem ini kepada mereka. Rakyatlah yang memegang kekuasaan ke mana perubahan diarahkan. Namun kesadaran akan perubahan ini harus dibangun di atas persepsi yang benar. Persepsi yang benar dihasilkan dari analisa yang mampu menyentuh akar permasalahan dan mampu menghubungkan dengan dimensi lain dari kehidupan yaitu penciptaan dan pertanggungjawaban di akhirat kelak.

Karut-marut kebijakan pemerintah hari ini adalah buah penerapan sistem pemerintahan demokrasi yang lahir dari rahim sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan). Kebijakan yang dihasilkan adalah kebijakan atas kesepakatan rakyat (dalam slogannya), yang pada kenyataannya kebijakan tersebut dikendalikan oleh para pemilik modal (kapital) sehingga dikenal dengan sistem kapitalisme. Demokrasi dengan slogan-slogannya yang seakan manis hanya kedok untuk menutupi bobroknya sistem kapitalisme agar sistem ini tetap dipertahankan bahkan oleh rakyatnya sendiri yang senantiasa menjadi korban kerakusan para kapital. Bahkan mahasiswa yang sudah menyadari keadaan buruk negeri ini pun masih berharap perubahan melalui demokrasi, saking membiusnya angan-angan yang ditawarkan oleh demokrasi. Dari sini kita bisa melihat bahwa akar permasalahan ada pada sistem yang berlaku hari ini yang harus sesegera mungkin digantikan dengan sistem yang benar.

Manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan keistimewaan berupa fisik yang sempurna dan akal yang mampu membedakan benar dan salah. Dengan akal manusia mampu memahami berbagai fakta, dengan akal pula manusia mampu memahami ayat-ayat Al-Qur’an. Dengan akal manusia mampu memahami hubungan dirinya dengan kehidupan sebelum dan sesudah dunia. Manusia dan alam semesta diciptakan oleh Allah SWT bersama seperangkat aturan yang akan menghantarkan pada tujuan penciptaan manusia yaitu untuk beribadah kepada Allah SWT. Manusia juga akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak atas segala perbuatannya selama di dunia. Oleh karena itu, manusia harus selalu menyesuaikan perbuatannya dengan aturan Allah SWT sebab tujuannya di dunia adalah untuk beribadah dan pertanggungjawabannya menentukan posisinya di surga atau neraka.

Sistem demokrasi yang menyerahkan kedaulatan di tangan rakyat sehingga memberikan kebebasan kepada manusia untuk membuat aturan dalam mengatur kehidupannya tentu saja tidak sesuai dengan tujuan penciptaan manusia. Siapa yang memahami baik dan buruk untuk manusia? Ialah Penciptanya. Maka kepada Penciptalah kedaulatan itu seharusnya diserahkan. Aturan Allah SWT-lah yang layak mengatur kehidupan manusia.

Di sisi lain, segala perbuatan manusia sekecil apa pun akan dimintai pertanggungjawaban. Jika aturan buatan atau kesepakatan manusia yang diterapkan dan dipatuhi dalam negara maka bagaimana pertanggungjawaban rakyatnya kelak? Tidak akan ada yang menanggung dosa kecuali masing-masing individu rakyat yang ridha atau diam membiarkan aturan manusia yang diberlakukan.

Allah SWT telah menurunkan Al-Qur’an sebagai pedoman yang akan memberikan cahaya bagi kehidupan manusia.

“Wahai manusia! Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Rabbmu (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang.
Adapun orang-orang yang beriman kepada Allâh dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya Allâh akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya.” [TQS An-Nisa/4: 174-175]

Walhasil Indonesia Gelap akan menjadi terang benderang dengan pedoman Al-Qur’an. Berpedoman kepada Al Qur’an artinya menerapkan isi Al-Qur’an yang hanya akan bisa diwujudkan di bawah sistem Islam yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Wallahu a’lam bish showab.

 

 

 

Oleh: Nurhayati
Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 15

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA